Mengikhlaskan Kematian

Kalau Anda mau hidup tenang dan ringan, biasakanlah diri Anda dengan pemikiran akan kematian: bukan akhir hidup, melainkan suatu kelahiran. Kematian adalah sebuah pintu. Itu bukan sharing pengalaman saya, melainkan kata-kata yang dilontarkan oleh Dugpa Rinpoche, seorang guru dari Tibet.

Seminggu ini terlalu banyak berita lelayu yang saya terima dan saya putuskan melayat dua saja dari sekian keluarga yang berduka. Saya tidak mudah mengatakan turut berdukacita karena saya juga tidak bisa memastikan bahwa orang-orang yang anggota keluarga atau kerabatnya meninggal itu memang berdukacita dan saya pun tidak hendak mengondisikannya untuk berdukacita. Saya senang dengan ungkapan Jawa ndherek bela, yang lebih netral, tanpa diembel-embeli sungkawa.

Akan tetapi, hari-hari ini saya mengalami sungkawa. Ini bukan dukacita, melainkan rasa kehilangan yang muncul akibat kematian orang-orang tertentu. Mereka bukan keluarga kandung saya, tetapi secara personal ada ikatan tertentu yang menimbulkan sensasi kehilangan, syukur, salut, ampun, penuh harap, dan sebagainya. Sungkawa itu tak menjadi-jadi karena saya meyakini apa yang dikatakan Dugpa Rinpoche tadi: mereka telah melampaui pintu yang dibutuhkan semua orang untuk beranjak dari aneka beban yang tak diperlukan lagi bagi kehidupan baru. Doa saya, semoga mereka tidak menggenggam beban yang tak mereka perlukan lagi dalam hidup baru mereka.

Beban terberat yang bisa dibawa orang ialah menyangkal Roh Kudus, yang memungkinkan orang percaya kepada Allah dan memasrahkan penyelenggaraan hidup kepada-Nya. Itu mengapa ada sebagian orang yang susah mati karena ia menggenggam sesuatu alias punya ‘pegangan’. Eaaa… di sini saya memakai cocoklogi supaya gathuk dengan bacaan hari ini ya. Orang-orang yang sudah sampai pada pintu kelahiran tadi menyangga beban sehingga tak kunjung tulus ikhlas masuk dalam dunia barunya. Ketidakikhlasan itu sendiri hanyalah sisa-sisa keyakinan dari apa yang digumulinya selama di dunia lama sini, keyakinan yang menempatkan kematian sebagai akhir dari segala-galanya, sehingga selama hidup di sini begitu ngotot dengan tujuan-tujuan fana yang tidak fruitful.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami sungguh tulus ikhlas menapaki tugas panggilan di dunia sini dan sekarang ini. Amin.


HARI SABTU BIASA XXVIII A/1
21 Oktober 2017

Rm 4,13.16-18
Luk 12,8-12

Sabtu Biasa XXVIII C/2 2016: Tiada Ampun Bagimu
Sabtu Biasa XXVIII B/1 2015: Agama Ateis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s