Malah Bikin Macet

Kemarin ini ada tetangga jauh yang ikut acara di kebun teh dan bilang bahwa alih fungsi hutan jadi kebun teh itu jadi kontributor banjir di kota yang ada di bawah perkebunan teh itu. Kalau dipikir-pikir ya betul sih, tapi entah apa relevansinya pernyataan seperti itu. Njuk ngopo gituloh. Tapi sudahlah, itu tak perlu dipersoalkan; tetangga saya yang lain punya istilah: conthong kusuma. Biarlah beliau bahagia dengan conthong kusumanya. 

Yang lebih bikin gemes ialah kemacetan yang ditimbulkan oleh acara akbar pemerintah provinsi dari sang conthong kusuma ini. Saya tak begitu risau dengan fakta (maklum era post-truth), tetapi saya juga tidak punya sentimen pribadi dengan tetangga jauh saya itu. Ini sederhana saja. Kalau ada acara dihadiri oleh belasan ribu orang dan transportasinya tak dikoordinasi, tentu peserta acara itu mengusahakan transportasi sendiri. Jarang saya jumpai orang dari kota besar memakai angkot untuk mencapai kebun teh itu. Andaikanlah ada dua ribuan mobil bergerak ke kebun teh. Berapa hektar diperlukan untuk parkirnya ya? Entah datang tepat waktu atau terlambat, entah miskomunikasi atau tidak, apa memang cukup lahan parkirannya?

Ini contoh yang saya pakai untuk mengerti bacaan Injil hari ini: berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Ini jawaban Yesus kepada pertanyaan jebakan orang Farisi yang bersekongkol kelompok pendukung kolonial. Dari mulutnya diharapkan jawaban: boleh bayar pajak atau tidak boleh bayar pajak. Kedua jawaban itu akan menimbulkan polemik dan Yesus akan dimusuhi oleh salah satu pihak yang tidak terdukung oleh jawaban itu. Tapi Yesus menjawabnya secara diplomatis. Eh… Salah! Salah! Salah!

Jawaban itu terkesan diplomatis, tetapi jelas bukan. Yesus bukan anggota korps diplomat yang sedang melakukan negosiasi dengan pendukung kolonial dan penentang kolonial. Kolonialisme cuma satu urusan profan bikinan manusia yang bisa bikin runyam hidup bersama. Masih ada banyak hal lainnya yang juga bikin runyam hidup bersama seperti ribuan mobil tadi dan Yesus tidak hendak mempersoalkannya. Alih-alih memberi jawaban diplomatis, ia memberikan perspektif yang lebih luas: memberikan kepada Allah yang menjadi hak-Nya dan hak Allah ini tak bisa dipertentangkan dengan hak kaisar.

Dari situ bisa dimengerti bahwa orang tak perlu juga mempertentangkan antara yang profan dan sakral, antara agama dan negara, antara Gereja dan politik, dan seterusnya. Maka, bayar pajak memang adalah demi kepentingan bersama. Kalau tidak bayar pajak, orang menentang kepentingan bersama. Akan tetapi, pengelolaan pajak yang melenceng dari kepentingan bersama adalah salah satu wujud ketidaktaatan orang kepada kehendak Allah sendiri. Ini juga menentang kepentingan bersama. Pajak jadi kepentingan sebelah pihak dan di situ Allah tidak dimuliakan. Alhasil, melawan arus yang memang baik bagi kepentingan bersama jelas merupakan indikator kuat bahwa orang mencoreng sakralitas, kesucian hidup bersama.

Turut prihatin atas tetangga jauh saya itu deh, semoga masa belajarnya segera berakhir dengan mengambil tanggung jawab untuk lebih bekerja merealisasikan kepentingan bersama daripada sibuk tebar pesona menarik simpati. Semoga ungkapan bahagia warganya itu ada maknanya.

Ya Allah, mohon kejernihan budi untuk menemukan kesucian-Mu dalam urusan profan kami. Amin.


MINGGU BIASA XXIX A/1
22 Oktober 2017

Yes 45,1.4-6
1Tes 1,1-5b
Mat 22,15-21

Minggu Biasa XXIX A/2 2014: Jadi Revolusi Mental Gak Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s