Om Sedekah Om

Kemarin saya ikut misa dan mencolek tetangga sebelah saya yang bekerja di bank (duitnya pasti banyak) untuk menukarkan uang biru saya dengan yang ungu-ungu atau hijau-hijau. Syukur kepada Allah, ndelalahnya kok ya dia punya uang pecahan hijau ungu, sehingga saya tak perlu memasukkan uang biru ke kotak persembahan alias kolekte. Betapa menyesalnya saya kalau lembaran terakhir itu mesti saya masukkan ke kotak kolekte: sudah melebihi sepuluh persen uang saku saya, padahal saya ini Katolik!

Loh, apa hubungannya je, Rom, bawa-bawa agama segala? Iya, soalnya Protestan saja cuma mengenal persepuluhan, dan dalam Islam ada kewajiban 2,5% untuk zakat, sedangkan dalam Katolik, kata romo yang khotbah minggu lalu, cuma dikenal persatuan (maka ada hirarki yang menyatukan Gereja di seluruh dunia), jadi mestinya satu persen aja untuk kolekte! Yahaha, tentu just kidding, dan saya juga sebetulnya kalau uang saku habis pun masih bisa minta lagi, hahaha… tapi kan gak lucu mosok minta uang tambahan untuk memberikannya sebagai kolekte. Nemo dat quod non habet.

Anyway, saya cuma mau bilang, bahwa adalah penting menyisihkan dari apa yang kita punyai (kalau konsep kepemilikan itu sendiri dianggap penting) dari jerih payah kita sendiri sebagai silih atas hal-hal yang luput dari perhatian kita terhadap keadilan sosial. Bisa jadi kita punya perhatian terhadap problem keadilan sosial itu tetapi kita tak berdaya untuk mengurai persoalan yang terstruktur itu. Bahwa kita bisa bekerja di perusahaan A, itu tentu saja sudah dengan pengandaian pelamar lain tak diterima bekerja di perusahaan A. Bahwa kita mendapat layanan pendidikan di perguruan tinggi bermutu, itu menyiratkan bahwa ada orang lain yang tak berkesempatan atau berkemampuan mengaksesnya. Bahwa orang frustrasi dan menjadi malas bekerja, itu juga bisa jadi karena tiadanya solidaritas sosial yang memberdayakan orang semacam itu, dan begitu seterusnya.

Sedekah, dengan demikian, bukan lagi soal kewajiban agama, tetapi juga bukan semata perkara menyiapkan uang recehan untuk diberikan kepada pengemis di perempatan jalan. Solidaritas sosial jauh lebih radikal: menghancurkan cara berpikir yang kemarin sudah disinggung, yaitu cari selamat sendiri.

Teks bacaan hari ini mempertanyakan cara berpikir itu: apa gunanya keselamatan yang dikejar untuk diri sendiri? Apa faedahnya hidup bergelimangan harta di tengah-tengah dunia yang tak adil, yang ancaman kenaikan suhu globalnya begitu konkret, yang sampahnya mencemari ekosistem, bahkan menurut ahlinya bisa memicu gempa bumi? Ini bukan pertanyaan dari orang yang tak mampu membuat hidupnya bergelimangan harta, melainkan pertanyaan dari fakta bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya tak berkorelasi dengan kepemilikan harta kekayaan, fakta bahwa keselamatan tidak datang dari nafsu menerima, tetapi dari ketulusan pemberian diri.

Tuhan, mohon rahmat pengertian mendalam mengenai hidup yang terbagikan, yang memungkinkan kebahagiaan tanpa syarat datang dari-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXIX B/2
22 Oktober 2018

Ef 2,1-10
Luk 12,13-21

Senin Biasa XXIX A/1 2017: Kapitalis Jaya
Senin Biasa XXIX C/2 2016: Robot Cinta Eaaa
Senin Biasa XXIX B/1 2015: Need or Greed?

Senin Biasa XXIX A/2 2014: Berenang-renang Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s