Unforced Error

Anda mungkin akrab dengan ungkapan bahwa rumput di halaman rumah tetangga tampak lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri [lanjutannya ada di tautan ini]. Ungkapan di negeri pizza lebih tajam lagi: rumput yang kuinginkan hanya tumbuh di taman istana raja! Rupanya itulah yang diinginkan oleh para murid Guru dari Nazareth.

Dalam kompetisi olah raga biasanya disediakan podium untuk tiga orang atau tiga juara: yang paling tinggi untuk juara pertama, dua yang lainnya di sebelah kiri atau kanannya. Ini sesuatu yang biasa, dan murid-murid Guru dari Nazareth adalah orang biasa. Tak mengherankan bahwa mereka membayangkan di depan mata mereka posisi spesial di dekat guru mereka.

Tapi rupanya yang selalu dijelaskan Guru dari Nazareth itu bukan cuma yang biasa-biasa saja. Konteks cerita bacaan hari ini ialah bahwa Guru dari Nazareth itu sudah dua kali memberi pengajaran bahwa Mesias yang diikuti murid-muridnya itu bakal ke Yerusalem untuk mengadu nasib dan nasibnya bakal kepentok orang-orang yang pikirannya biasa-biasa aja, juga para tokoh agama. Begitu disebut keadaan akhir yang tragis, murid-muridnya tak terima, tak mau mendengarkan, atau bebal atau gimanalah. Pokoknya mereka tetap berpikir biasa-biasa aja: orang hidup itu ya kudu cari posisi atau kedudukan terhormat, mosok hidup mencari reputasi buruk?

Bagi Guru dari Nazareth, kehormatan, kemenangan, atau bahkan kekuasaan bukanlah hal buruk. Kekuasaan bukan per se barang yang jelek. Persoalannya, barang yang tidak jelek ini bisa jadi jelek jika penggunanya berpikir biasa-biasa saja: yang kecil kalah oleh yang besar, yang lemah kalah oleh yang kuat, atasan mengeksploitasi bawahan [gimana tuh kemeja mengeksploitasi celana panjang?], yang miskin ditindas yang kaya, dan seterusnya. Berpikir yang gak biasa-biasa aja itu seperti apa? Ya seperti memikirkan proyek yang dibilang Guru dari Nazareth sendiri untuk ke Yerusalem. Tidak pakai paradigma menang-kalah, tetapi paradigma pelayanan bagi semua alias pelayanan bagi Allah sendiri, tak peduli status atau jabatan orang. Artinya: gimana caranya supaya yang kaya tak menindas, yang kuat tak menjajah, yang di atas tak menginjak-injak, dan seterusnya.

Perbedaan paradigma kekuasaan yang biasa-biasa saja dan yang disodorkan Guru dari Nazareth tidaklah mudah dimengerti. Buktinya Guru dari Nazareth itu tak berhasil menjelaskannya pada murid-muridnya; setelah kejadian semua baru melongo: ooooo jadi begitu toh…

Tony de Mello memberi bantuan sederhana untuk membedakan kemuliaan yang dimaksud Guru dari Nazareth dan kemuliaan yang dikejar murid-muridnya dengan dua istilah: worldly feeling dan soul feeling. Saya menunjukkannya dengan contoh pertandingan antara Gregoria Mariska Tunjung dan Pornpawee Chochuwong dalam perempat final Piala Uber kemarin dulu. Anda tahu hasilnya: 21-14, 10-21, 10-21. Menurut penerawangan saya, Gregoria enjoy the game hanya pada gim pertama, bukan karena dia hanya memenangi gim pertama, melainkan karena hanya pada gim pertamalah dia tak banyak melakukan unforced error. Pada momen seperti itu, orang bertanding dengan soul feeling: untuk aktualisasi diri secara alamiah, untuk menikmati hidup tanpa dihimpit conditionings bikinan orang-orang yang berpikir biasa-biasa saja.

Barangkali karena menang pada gim pertama, fokus Gregoria berubah mengikuti pressure atau target tim: harus menang, harus mengejar poin, harus mengalahkan lawan, dan seterusnya. Apakah itu salah? Ya tidak. Akan tetapi, pergeseran fokus itu memaksa Gregoria menghidupi worldly feeling: self-glorification, self-promotion, dan sejenisnya. Orang boleh menginginkan kemenangan sekuat-kuatnya, tetapi tak ada yang mengharuskannya menang, bahkan Tuhan pun tidak! Kalau perhatian orang tertambat pada worldly feeling, dia menyiapkan dirinya untuk melakukan unforced error dalam hidupnya.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami dapat melayani sesama demi kemuliaan-Mu yang memberi kami soul feeling. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIX B/1
17 Oktober 2021

Yes 53,10-11
Ibr 4,14-16
Mrk 10,35-45

Posting 2015: Beriman, Tut Wuri