Hero

Published by

on

Memberi dari kelebihan bukanlah hal sulit. Memberi dari kekurangan juga tidak selalu sulit. Keduanya mudah dilakukan oleh mereka yang hendak memenuhi kebutuhan narsistiknya. Yang pertama mendatangkan pujian dari mereka yang menerima manfaat pemberian bansos. Yang kedua, konon, mendatangkan pujian dari Allah yang tak kelihatan, menambah peluang ganjaran surga, dan sejenisnya. Akan tetapi, bahkan jika memang betul begitu, alias keterangan modalitas ‘konon’ bisa dihilangkan, memberi dari kekurangan bukanlah pelajaran yang disodorkan Yesus dalam teks bacaan hari ini.

Untuk mengerti tinjauan historisnya, mungkin Anda bisa buka kembali posting Salam dari Jijay. Tidak saya singgung lagi di sini. Bagian narasi teks hari ini yang sungguh mencelikkan mata saya ialah bahwa kerap kali kisah janda miskin ini diasosiasikan dengan tindakan kerendahhatian seseorang yang memberikan sedikit sedekah tanpa berkoar-koar. Betul, barangkali memang dia memberi dari kekurangannya. Janda nan lugu ini memberi sedekah sukarela sejumlah uang yang bisa memberinya roti hari itu. Cocok dengan peringatan Hari Pahlawan, bukan?

Cocok! Apalagi jika pahlawan itu dimengerti sebagai sosok seperti individu-individu super dengan kepribadian atau karakter yang mengagumkan!
Sayang sekali, sebagaimana halnya Yesus bukanlah sosok Superman, ia pun tidak mengajarkan pengikutnya untuk menjadi orang super yang unggul dari manusia-manusia lainnya. Yang dibutuhkan dunia ini bukan orang-orang super, melainkan orang-orang biasa yang membangun hidup bersamanya dalam konteks tertentu seturut tuntunan Allah.

Ini bukan tulisan untuk meniadakan kebiasaan persepuluhan atau kolekte dalam tradisi ibadat Katolik. Sekadar refleksi saja karena konteks historis bacaan hari ini ada mirip-miripnya juga dengan hidup keagamaan (Katolik) sekarang ini. Sejak kecil saya tahu ada kolekte saat persiapan persembahan. Kolekte ya hanya sekali. Kolekte itu untuk apa? Ya untuk berbagai kepentingan; mulai dari pembelian pernik-pernik keperluan ibadat, perawatan gereja, gaji karyawan gereja, atau keperluan pastornya. Sewaktu saya menjadi pastor rekan, saya mulai mengerti ada dua kolekte; dan beberapa tahun sesudahnya, ketika saya kembali ke Indonesia dan sering ikut misa Minggu sebagai umat, saya dapati ada kolekte ketiga juga. Ini terjadi tidak hanya di satu gereja. Memang betul, tiga kolekte itu sama sekali tidak bersifat wajib; sesuka dan semampu umat saja memberikannya seperti janda miskin dalam teks hari ini memberikan sedekah pada wadah berbentuk terompet yang ketiga belas; tak sanggup memasukkan apa-apa ke 12 wadah lainnya yang bersifat wajib.

Itulah yang menyentak saya: mengapa justru ia memasukkan sumbangan ke wadah yang sifatnya manasuka padahal ia tak sanggup memenuhi pembayaran untuk persembahan wajibnya? Apalagi, justru ke tempat yang sifatnya sumbangan sukarela itu malah ia memberikan segala-galanya!

Tentu, Anda boleh menjawab seperti di awal tadi saya sampaikan: karena begitulah keutamaan yang disukai Allah!
Saya bukan Allah sehingga saya tidak yakin bahwa memberi dari kekurangan adalah keutamaan yang disukai Allah. Saya hanya terkenyut bahwa teks narasi hari ini diawali dengan peringatan keras Yesus yang tampaknya memberi konteks pesan hari ini: awaslah dengan praktik-praktik keagamaan yang menelan rumah-rumah janda dan mengelabui orang dengan doa-doa panjang yang mungkin dianggap indah!

Bisa jadi loh ya, tokoh yang diperhatikan Yesus hari ini justru adalah contoh korban agama yang korup. Mungkinkah Allah menghendaki orang semiskin janda ini memberikan segala-galanya sehingga ia sendiri bahkan tak bisa bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri? Aneh juga Allah semacam ini, yang menginginkan penderitaan umat-Nya! Agama justru korup karena bahkan memaksa janda miskin, alih-alih memakai uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk memberikan duit terakhirnya ke lembaga agama. Ada yang keliru di sini.

Begitulah kiranya kalau lembaga agama dan bisnis (tentu juga politik) berpelukan dalam Keuangan Yang Maha Esa: membuat janda miskin nan lugu itu tak lagi mengerti bahwa ia memberi dukungan ke pihak yang korup.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk membangun hidup bersama berdasarkan kasih-Mu semata. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXII B/2
10 November 2024

1Raj 17,10-16
Ibr 9,24-28
Mrk 12,38-44

Posting 2021: Pembalut Halal
Posting 2018: Salam dari Jijay
Posting 2015: Janda Miskin Yang Kaya

Previous Post
Next Post