Saya tidak tahu dari sekian Pilpres dan Pilkada yang Anda ikuti, berapa darinya yang mengangkat derajat hidup Anda. Begitu juga, entah pilihan Anda menang atau kalah, tidak satu pun darinya membuat hidup Anda bermartabat. Tentu, karena martabat tidak ditentukan oleh siapa pemenang Pilpres atau Pilkada. Martabat hidup Anda bergantung pada bagaimana Anda (tidak) memilih, yang sangat mungkin dikondisikan oleh aneka praktik manipulatif tanpa Anda sendiri menyadarinya.
Andaikan Tiwal memilih Tiwul sebagai gubernur atau walikota semata karena ikatan darah atau perkawinan, Anda tahu, itulah cikal bakal nepotisme.
Jika Tiwul memilih Tiwal sebagai presiden demi menghalangi orang kompeten memperoleh suara, Anda juga tahu, itu berbau-bau kolusi.
Kalau Tiwal dan Tiwul itu memilih orang lain lagi yang bakal menjamin mereka lepas dari persoalan hukum yang selama itu mereka berhasil menutupinya, Anda juga bisa melihat bahwa ada perilaku korup di situ.
Baik korupsi, kolusi, maupun nepotisme tidak selalu berdiri sendiri dan sangat mungkin berkelindan dan bisa jadi yang menjadi simpulnya adalah cuan.
Itulah, antara lain, yang dimaksudkan teks bacaan hari ini sebagai “Kerajaan dari dunia ini.” Isinya bukan musyawarah/mufakat, melainkan besar-besaran angka, baik survei maupun jumlah kertas suara. Kalau kemudian ada musyawarah/mufakat, tidak mudah juga membedakannya dari hegemoni kekuasaan. Maklum, hegemoni pun bersifat konsensus, sama-sama setuju, baik yang dikuasai maupun yang menguasai. Aman, damai, tanpa konflik, tapi jelas mengukuhkan kelas penguasa atau status quo.
Orang-orang beragama, das Sollennya, tidak menghidupi “Kerajaan dari dunia ini”; bagaimana pun itu diistilahkan. Das Seinnya, di negeri yang agama mendapat tempat terhormat ini, orang-orangnya, barangkali lebih tepat lagi elitnya, baik politik maupun ekonomi bahkan religius, belum kelar untuk membangun “Kerajaan dari dunia ini,” yang abai terhadap kebenaran. Kebenaran dalam teks Injil senantiasa merujuk pada realitas konkret, dan bukannya gagasan abstrak.
Allah melarang Anda mencuri atau membunuh, bukan karena Allah sewenang-wenang, melainkan karena memang martabat Anda sebagai manusia bukanlah mencuri atau membunuh.
Harmoni atau kerukunan baru menjadi benar jika di dalamnya terdapat relasi yang adil. Jika tidak, kemunafikan meraja dan melanggengkan kerukunan atau harmoni yang dipenuhi relasi yang berbau KKN, tidak hanya dalam dunia politik atau ekonomi, tetapi juga kultur atau agama.
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk menguak kebenaran-Mu yang menentukan martabat hidup kami. Amin.
HARI MINGGU BIASA XXXIV B/2
Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam
24 November 2024
Dan 7,13-14
Why 1,5-8
Yoh 8,33b-37
Posting 2021: Corona
Posting 2018: Perda Injil
Posting 2015: Di Sini, Bukan dari Sini
