Kaput

Published by

on

Gambaran mantenan juga disinggung dalam teks utama bacaan hari ini: kalau mempelai pria sudah datang dan siap pesta, ngapain berpuasa? Jika Anda mengundang orang untuk suatu jamuan pesta dan ia datang, njuk selama pesta itu ia tidak mau makan minum karena puasa, bagaimana Anda hendak menggambarkan suasana pesta macam itu?

Puasa orang Yahudi diwajibkan selama Hari Penebusan atau Hari Pendamaian atau Yom Kippur (Im 16,1-34; 23,26-32; Bil 29,7-11) meskipun bisa juga diumumkan pada saat terjadi bencana nasional (Est 4,16; Yes 58,3-6; Yer 3,6-9, Yun 3,5) atau sebagai ungkapan tobat pribadi (1Sam 1,7-8, 1Raj 21,27; Neh 1,4; Dan 9,3). Kitab Tobit mengindikasikan bahwa puasa, doa, dan derma adalah tanda pribadi yang baik (Tob 12,8-9). Orang Farisi konon berpuasa dua kali seminggu (Luk 18,12). Tak mengherankan, murid-murid Yohanes mengharapkan murid-murid Yesus juga berpuasa seperti orang Yahudi lainnya. Sayangnya, harapan itu tampaknya didasarkan pada asumsi bahwa Yesus tidaklah berbeda dari Yohanes, guru mereka.

Penulis teks bacaan hari ini ada dalam masa persekusi dan pergumulannya bukan lagi soal apakah harus berpuasa atau tidak, apakah harus menaati Hukum Sabat atau tidak, melainkan perkara apa artinya berpuasa dan menaati Hukum Sabat dalam situasi mereka itu. Dalam perspektif Islam, barangkali itulah yang diupayakan dengan maqashid syariah: mencari hikmah, tujuan di balik hukum Islam. Di situ, persoalannya bukan lagi harus begini atau begitu, melainkan mengapa harus begini atau begitu. Kalau ketemu ‘mengapanya’, lalu dikembalikan lagi ke tataran praktis apakah itu mungkin dilakukan dengan jalan lain, begitu seterusnya.

Perkaranya tidak sederhana, tetapi asumsi para murid Yohanes dan orang Farisi mengenai Yesus sebagai padanan Yohanes tidak cukup valid untuk memahaminya sebagai orang Yahudi tulen yang berupaya mencari kedalaman Hukum Yahudi. Penulis teks bacaan pertama menunjukkan Yesus sebagai orang Yahudi biasa yang menjalankan fungsi seperti imam Harun dengan simpati dan kesabarannya, tetapi juga sebagai pelopor dan model bagi peziarahan hidup dengan kesetiaan dan ketaatan. Sebagai imam seperti imam Harun, ia teruji tanpa cela. Sebagai model peziarahan, ketaatannya dalam aneka penderitaan membuatnya qualified.

Dengan begitu, ia punya hidup dan pergumulannya sendiri, tetapi bagaimana ia menggumuli hidupnya itu bisa jadi model bagi pengikutnya. Pengandaiannya, pengikutnya menggumuli hidupnya sendiri, dengan tantangan yang berbeda, kondisi berbeda, dalam kesetiaan dan ketaatan seperti ditunjukkan Yesus. Tanpa pengertian seperti ini, murid-murid Yohanes hanya bisa menuntut orang lain untuk menjalani ritual seperti yang mereka jalani.

Konon, Ignatius biasa meminta salah satu sahabat pertamanya untuk menyapu halaman rumah mereka dengan sapu yang sudah usang dan rusak. Salah seorang sahabatnya itu bolak balik menyapu dan tetap saja ada kotoran yang luput dari sapuannya. Dengan air mata kemarahan dan ketidakberdayaan, ia bertanya pada dirinya sendiri, “Salah apa yang kulakukan kepada Pater Ignatius sehingga aku diperlakukan seperti ini?” Orang yang bingung dan kesal itu bernama Diego Laínez. Ia tak tahu apa yang diketahui Ignatius: bahwa ia akan menjadi jenderal SJ berikutnya. Tampaknya Ignatius sedang mengujinya dalam kesabaran. “Jika ia tidak tahan dengan sapu rusak dan tidak bisa mengatur sedikit kotoran, bagaimana mungkin ia dapat mengatur ribuan Yesuit? Jika ia tidak belajar untuk menerima segala sesuatu dengan tenang dan diam-diam, ia adalah seorang calon yang ditakdirkan untuk menderita bisul.”

Tuhan, mohon rahmat untuk bertekun dalam ketaatan Cinta-Mu. Amin.


SENIN BIASA II C/1
20 Januari 2025

Ibr 5,1-10
Mrk 2,18-22

Posting 2021: Makna
Posting 2019: Gaji Naik, Semua Beres
Posting 2017: Ahok, Saya Tersinggung!!!!!
Posting 2015: Ngapain Juga Puasa?

Previous Post
Next Post