Upah

Published by

on

Keuntungan terbesar dari kekayaan terletak pada kekuasaan dan pengaruh yang memungkinkan apa saja terjadi seturut keinginan si pemilik kekayaan. Itu bisa berlaku di ranah mana saja. Standar seperti itu bisa jadi idaman setiap orang, tetapi pada kenyataannya sedikit saja orang bisa menggapainya. Itu mengapa muncul sebutan oligarki. Hanya segelintir orang saja punya kekayaan yang memungkinkan mereka berkuasa dan berpengaruh.

Teks bacaan utama hari ini menyajikan pernyataan seorang murid, yang bisa merepresentasikan Anda dan saya, bahwa mereka sudah meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Guru dari Nazareth. Sang Guru menjawab seakan-akan murid ini bertanya “Trus dapet apa dong gua?”
Sang Guru ini tidak menjanjikan posisi oligarki. Sebaliknya, aksi para murid meninggalkan segala sesuatu itu punya konsekuensi dua hal. Pertama, mereka membangun ‘keluarga,’ bukan dinasti, baru. Kedua, mereka berkesempatan menikmati persekusi. Asem tenan, mosok sudah kehilangan segala-galanya masih juga menanggung persekusi alih-alih bisa menikmati privilese oligark?

Pada kenyataannya, begitulah yang terjadi. Anda dan saya tak bisa melawan oligarki untuk merebut posisi oligark. Yang bisa dilakukan ialah membangun komunitas dari bawah dengan nilai solidaritas yang tidak didasarkan pada hukum rimba. Solidaritas bukanlah perkara orang kaya membantu orang miskin, melainkan soal semua orang saling membantu supaya hidup bersama itu lebih adil dan makmur. Di situ, tak ada lagi demarkasi kaya-miskin, semua punya peran masing-masing. Akan tetapi, hilangnya demarkasi ini tentu mengusik kenyamanan mereka yang punya kuasa dan pengaruh dong. Itu mengapa bisa terjadi persekusi dan yang punya privilese untuk mengalami persekusi ialah mereka yang berjuang keras untuk membangun komunitas dari bawah tadi.

Demikianlah, meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti nilai solidaritas bukanlah hal yang tidak mungkin dan bahkan itu bisa mendatangkan ganjaran berupa relasi-relasi baru yang melampaui hubungan darah. Relasi macam begini tidak mengizinkan persekusi meruntuhkan moral anggota komunitas, tetapi menjadikan persekusi sebagai tolok ukur bahwa cara bertindak para murid ini on the right track.
Lah, sukses gimana, Rom? Persekusi gitu loh!
Ya, itu hanya bisa dimengerti kalau Anda dan saya mengalami persekusi; barangkali ada rasa nano-nano tetapi jika Anda dan saya teguh dalam prinsip solidaritas sejati, bukan asal setia kawan, tentu ada konsolasi yang tak dapat diganti dengan privilese oligarki.

Oh iya, kalau tak salah ingat, Paulus juga pernah berseloroh macam begini “Upahku ialah bahwa aku boleh mewartakan kabar gembira tanpa upah.” Ini tak perlu dipakai untuk membenarkan mereka yang cari enaknya saja dan tak memberi apresiasi terhadap mereka yang sudah bekerja keras. Kata-kata Paulus itu menunjukkan bahwa membangun solidaritas itu sendiri pada dirinya sudah suatu ganjaran.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat selalu bersyukur atas suka duka hidup kami di sini dan sekarang ini. Amin.


SELASA MASA BIASA VIII C/1
4 Maret 2025

Sir 35,1-12
Mrk 10,28-31

Posting 2019: Semua Salah Jokowi wkwkwk
Posting 2017: Manusia Sampah

Posting 2015: Apa Upahnya?

Previous Post
Next Post