Kebanyakan dari Anda dan saya mampu menghasilkan uang banyak, juga dengan cara halal, tapi tidak mampu keluar dari perbudakannya. Mungkin kondisi itu masih lebih baik daripada orang lain yang selain tak mampu berpenghasilan di atas UMR, tak mampu juga melepaskan diri dari perbudakan uang. Akibatnya, entah duit banyak atau sedikit, hidup orang disetir oleh uang: keputusan-keputusan orang mengikuti aliran uang. Asalkan ada uangnya, orang mau berjerih payah. Jika tidak, gak usah beri suara alias coblos gambar partainya!
Teks bacaan utama hari ini mengindikasikan bagaimana orang yang diperbudak harta tak bisa mengikuti cara bertindak Guru dari Nazareth. Pertama, orang berharta banyak ini memberi label Guru dari Nazareth dengan sebutan “Guru yang baik.” Yesus meluruskannya: fokus tatapan orang semestinya tertuju pada Allah yang baik, tak seorang pun makhluk bisa menggantikan Allah. Jelas, Yesus pun tidak menggantikan Allah, ia merepresentasikan datangnya Kerajaan Allah. Itu dua hal yang berbeda. Kekeliruan dalam hal ini bikin dunia merana sekian lama.
Kedua, orang kaya itu mengklaim bahwa ia telah menjalankan setiap perintah atau larangan Taurat Musa sejak masa mudanya. Taurat Musa adalah rangkuman etika manusia di hadapan Allah supaya manusia bahagia di dunia sini dan sana. Jika orang sudah menjalankan seluruh Taurat Musa dan masih tak bahagia di sana sini (dengan referensi ‘hidup kekal’), berarti caranya tak betul. Itu mengapa Yesus menunjukkan kepadanya cara yang betul: ia mesti melepaskan diri dari perbudakan harta.
Persis di situlah orang kaya itu tak sanggup bergerak maju. Ia mundur teratur dan tampaknya sudah sedemikian nyaman dengan prestise yang dimilikinya sebagai orang kaya. Yes, bisa jadi orang kaya ini berpikir bahwa juga hidup kekal bisa dibeli dengan uang. Maklum, dengan harta banyak, orang bisa mendikte orang lain, termasuk menjalankan aneka tetek bengek aturan agama. Ia bisa bikin tempat ibadat, mengumpulkan banyak orang yang seideologi dengannya, bahkan mungkin menjadi pemuka agamanya.
Barangkali nih ya, di balik kepala orang kaya itu, hidup ini adalah perkara prestise individu untuk menguasai dunia, yang senjata ampuhnya terletak pada kuasa harta. Ia tidak punya konsep bahwa harta berdimensi sosial dan dimensi ini menuntut orang untuk menjalani hidup berkomunitas secara egaliter. Semakin egaliter, semain orang terbebas dari tendensi untuk menguasai orang lain dengan prestise yang diciptakannya dengan harta. Ini jelas maksudnya bukan gaya hidup komunis yang menghapus hak milik pribadi, melainkan gaya hidup bersama yang seluruh tolok ukurnya dikembalikan kepada apa yang sungguh-sungguh Allah kehendaki supaya umat manusia dapat mempraktikkan etika sejati.
Referensi etika sejati itu ditunjukkan dalam teks bacaan hari ini sebagai prosedur yang memungkinkan tiadanya orang yang harus kehilangan martabatnya hanya karena tak mampu memenuhi kebutuhan dasariahnya. Sayangnya, orang kaya dalam bacaan Injil hari ini tak sanggup memberi preferensi kepada orang lemah dan tersingkir. Ia menikmati prestisenya sendiri.
Semoga Anda dan saya diberi kemampuan untuk memberi preferensi semacam itu. Amin.
SENIN BIASA VIII C/1
3 Maret 2025
Posting 2019: Bukan Cinta Dilan
Posting 2017: Kurang Satu Ons Doang
Posting 2015: Lebay sama Hukum
