Beberapa hari lalu saya batal bertemu rektor saya dalam acara buka bersama karena saya sudah mendahului buka puasanya dan rektor saya dipanggil presiden bersama rektor-rektor universitas lainnya. Sejauh saya dengar, presiden cukup terusik dengan tagar #kaburajadulu. Saya embohlah, tetapi saya berharap supaya presiden Anda dan saya dijauhkan dari ring satu yang tampak membantu tetapi sebetulnya menganggu. Saya berdoa supaya blio ini tidak mengangkat staf ini itu semata lantaran dulu berjasa mengantarnya ke gerbang kemerdekaan(nya). Saya inginnya orang-orang dekatnya tidak membuatnya rabun terhadap kenyataan faktual Indonesia. Tentu saja, jika doa dipahami sebagai transaksi, bisa jadi doa dan harapan saya itu tak terkabulkan.
Anyway, kalau memang presiden ini terusik dengan tagar #kaburajadulu, saya kira itu pertanda baik bahwa blio sesungguhnya menangkap vibes Indonesia Gelap. Perkara mau menyangkal atau mengakuinya, itu sepenuhnya hak blio. Juga jika itu dikaitkan dengan rapat pembahasan perubahan UU TNI di suatu hotel, yang nota bene bertolak belakang dengan anjuran blio untuk efisiensi anggaran, itu juga hak blio untuk mengakui atau menyangkalnya. Saya tetap berharap dan berdoa supaya blio tetap sehat dan bisa berdiskresi secara jernih. Apakah harapan dan doa saya ini dikabulkan, ya mboh.
Pemahaman dan ketidakpahaman jadi bagian hidup manusia. Sudah diberitahu bahwa ada ranah yang tak bisa dilanggar manusia jika tetap ingin hidup dalam Taman Eden, toh tetap saja pilih keluar dari Taman Eden. “Ya mana kami tahu kalau karena itu kami mesti keluar dari Taman Eden?” Sudah diberitahu untuk menghidupi prinsip tauhid, tapi tetap saja mempertuhankan perut, uang, keturunan, batu, agama, dan sebagainya. Klaimnya monoteis, praktinya politeis!
Teks bacaan utama hari ini menunjukkan suatu prolepsis, lawannya flashback: konsekuensi masa depan disampaikan pada masa kini. Orang masa kini tidak memahaminya karena belum mengalaminya. Begitulah, juga murid-murid Yesus sama sekali tidak mengerti peristiwa yang mereka alami, dan karena tak mengerti, tak berdampak juga buat mereka. Reaksi Petrus jadi indikatornya: dah kita di sini aja, dirikan tenda untuk berkemah di ketinggian dan kenyamanan ini. Dia tidak paham bahwa peristiwa transfigurasi itu adalah perspektif yang dia perlukan untuk berjibaku dengan kerasnya kehidupan dan tak ada kesuksesan tanpa perspektif salib dan kebangkitan. Lebih buruk dari itu, ia bahkan tidak bisa mengerti identitas gurunya.
Kondisi Petrus tidak eksklusif miliknya. Anda dan saya bisa saja menangkap nuansa Indonesia Gelap, tetapi bukan dari perspektif transfigurasi, melainkan dari keribetan konflik horisontal yang adanya hanya melihat salib, salib, dan salib. Apa-apa saja yang menyusahkan dianggap salib tetapi tak pernah mentransformasinya sebagai bagian pergulatan untuk mengalami kebangkitan. Alhasil, #kaburajadulu jadi ancaman lebih daripada inspirasi untuk mengembalikan trust investor asing atau mendongkrak indeks demokrasi atau menutup potensi korupsi di sana sini. Fokus pada ancaman malah membuat #kaburajadulu sebagai sebuah prolepsis, sama seperti transfigurasi, dan orang-orang bahkan di lingkaran terdekat cuma plonga-plongo tak paham sampai kemudian Indonesia Gelap menjadi lebih nyata, dan ketika itu semua terjadi, ubur-ubur makan lalat, ya wis telat leeeee.
Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk melawan cara bertindak yang menantang cinta-Mu. Amin.
HARI MINGGU PRAPASKA II C/1
16 Maret 2025
Kej 15,5-12.17-18
Flp 3,17-4,1
Luk 9,28b-36
Posting 2022: Hukum Rimba
Posting 2019: Bukit Bego
Posting 2016: Hidup sebagai Hadiah
