Bukit Bego

Saya kira tak ada biro wisata yang menempatkan Bukit Bego sebagai objek wisata rohani. Kalau iya, mungkin ketua bironya bego. Menjadi bego itu berat, biarlah saya saja, yang tadi melintasi spot wisata ini sembari menghubung-hubungkannya dengan teks bacaan hari ini, yang juga mengisahkan soal Guru dari Nazareth bersama tiga muridnya naik bukit untuk berdoa.

Tanpa bantuan tante Google saya mendugai bahwa atribut bego disematkan kepada bukit itu karena bukit itu jadi korban pengerukan tanah dengan alat backhoe. Gejala bahasa homofon memungkinkan orang setempat bersepakat menamainya sebagai Bukit Bego dan pasti maksudnya tidak mengacu pada kebodohan atau kebegoan bukitnya. Kan sudah saya bilang, bego itu berat, biarlah saya saja yang menanggungnya.

Saya pun sebetulnya tidak kuat juga menanggungnya karena dalam kontemplasi saya mengenai kisah teks bacaan hari ini, saya melemparkan kebegoan itu kepada Petrus. Ditulis juga di teksnya bahwa Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya sendiri. Ini sudah bisa jadi tolok ukur kebegoan sendiri. Memang sih itu bisa juga jadi pertanda bahwa Roh Kudus bekerja lewat mulut orang, tetapi mengingat isi perkataannya, sulitlah saya memahaminya sebagai bisikan Roh Kudus.

Dia begitu excited dengan peristiwa yang ada di depannya: Guru dari Nazareth rembugan dengan Nabi Elia dan Musa, yang tak saya ketahui apa isi rembugannya. Akan tetapi, jelas dikatakan di situ bahwa Petrus, mewakili teman-temannya, merasa sangat bahagia dengan itu, tetapi kalimat selanjutnya gak nyambung-nyambung amat: biarlah kami dirikan kemah di sini untuk engkau, Musa dan Elia. Ha njuk ngopo jalDumeh bahagia njuk orang mau mengabadikannya gitu?

Gak isa, gak isa. Itu sepertinya melenceng dari prinsip kerohanian yang tidak boleh freezing. Begitu orang freezing terhadap kedamaian, kebahagiaan rohani seperti tadi, ia bego, tak menangkap ajakan Guru dari Nazareth. Kata Paulus, pikiran orang bego seperti ini semata-mata tertuju pada perkara-perkara duniawi.
Loh, bukankah kedamaian dan excitement yang dialami Petrus ini berasal dari mata rohaninya? Ya enggaklah, mata rohani tidak melihat dengan korneo, pupil, retina, dan sebagainya, tetapi dengan budi yang menangkap rembugan tiga orang itu. Rembugan mereka mengacu pada proyek perjalanan Guru dari Nazareth sampai ke Yerusalem, sampai penghabisannya.

Petrus cuma melihat kehebohan yang ditimbulkan dari penampakan itu dan memandangnya sebagai kemuliaan, tetapi ia tak menangkap bahwa kemuliaan yang ditawarkan Guru dari Nazareth itu adalah kemuliaan yang ditempuh lewat jalan penderitaan, dan bahkan kematian. Kalau jalannya yang dipilih adalah jalan freezing tadi, Petrus gagal memahami apa yang ditawarkan gurunya. Dengan kata lain, dia memang bego, seperti saya juga, yang melemparkan kebegoan kepada Petrus alih-alih mengakui sendiri bahwa saya memang bego.

Saya masih tercengkam oleh pembantaian sadis di New Zealand yang mestinya dilakukan oleh orang rasis atau mungkin fanatik. Tindakan rasisme ini juga contoh jalan freezinghappy dengan rasnya dan menilai ras lain seturut ukuran rasnya sendiri. Itu pun bisa menimpa orang-orang beragama: belum juga ngerti agamanya sendiri, bisa-bisanya mengevaluasi agama lain dengan tolok ukur agamanya sendiri. Orang seperti ini mungkin perlu bepergian lewat Bukit Bego.

Ya Allah, mohon rahmat ketahanan untuk mencapai kemuliaan lewat jalan penderitaan. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA II C/1
17 Maret 2019

Kej 15,5-12.17-18
Flp 3,17-4,1
Luk 9,28b-36

Posting Tahun 2016: Hidup sebagai Hadiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s