Harga Murah Hati

Pembunuh berdarah dingin tak pernah punya belas kasihan terhadap korban pembunuhannya. Saya tidak tahu apakah tentara dilatih untuk mendinginkan darahnya, tetapi saya yakin sekurang-kurangnya tentara yang waras takkan menghabisi orang yang tak bersenjata, apalagi yang tidak melawan dirinya menjalankan tugas. Dalam diri setiap orang yang punya hati, belas kasihan muncul saat orang melihat penderitaan orang lain di sekitarnya.

Maka dari itu, sangat wajar jika semua orang di dunia menaruh perhatian pada para korban tragedi penembakan di New Zealand dan mengutuk keras perilaku Brenton Tarrant. Ini adalah reaksi manusiawi yang sangat wajar. Malah aneh kalau orang tak mengutuk perilaku penembakan itu.

Meskipun demikian, teks bacaan hari ini mengorientasikan saya pada hal lain karena bunyi nasihatnya “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Allah yang adalah murah hati”, yang kemudian diikuti dengan wacana mengenai hakim-menghakimi, hukum-menghukum, dan seterusnya.
Menurut teks itu, belas kasihan yang muncul secara natural dari hati manusia yang bersih rupanya tak cukup. Orang diminta untuk mengadopsi kemurahhatian Allah. Macam mana itu?

Belas kasihan manusiawi diproses dengan indra manusia. Mata orang melihat luka, telinga mendengar rintihan, hidung mencium aroma amis, dan sebagainya. Kemurahhatian yang dipadankan dengan kemurahhatian Allah tidak muncul semata dari sensor indra manusiawi, melainkan dari cerah budi yang menempatkan seluruh makhluk di hadapan Allah Yang Mahabesar ini. Maka dari itu, meskipun orang mengutuk keras tindakan Brenton Tarrant, sebetulnya orang bisa juga menaruh belas kasihan terhadapnya, bukan karena tindakan brutalnya, melainkan karena dia, tak beda dari orang lainnya, yang berziarah mengalami cinta Allah yang sesungguhnya.

Alhasil, dengan cerah budi itu orang bisa mengerti bahwa Brenton Tarrant juga berhak mendapat belas kasihan karena dia pun mengalami kegagalan, jatuh, terpeleset dalam menangkap cinta Allah nan murah hati. Tanpa cerah budi semacam ini, orang mulai main hakim sendiri dan muncullah aneka macam penilaian yang serampangan yang bisa memprovokasi politik identitas agama, yang nota bene justru itulah yang mengebiri belas kasihan dalam diri Brenton Tarrant. Akibatnya, tragedi kemanusiaan direduksi sebagai tragedi agama. Dengan begitu, solidaritas yang dibangun bukan lagi solidaritas kemanusiaan, melainkan solidaritas agama, yang sesungguhnya semu.

Weh weh weh, solidaritas agama kok semu tuh gimana sih, Rom? Ya gampang sajalah. Meskipun sama-sama beragama Kristen, apakah saya mesti merasa senasib sepenanggungan dengan presiden Kristen yang rasis? Meskipun sama-sama beragama Islam, apakah saya mesti berbangga dengan perilaku kelompok Islam yang menghabisi nyawa ratusan orang Kristen secara biadab? Ya enggaklah. Kemurahhatian Allah tidak bersifat eksklusif, berlaku bagi semua, seturut kadar yang diperlukan masing-masing.

Maka dari itu, sambil tetap mendukung proses hukum bagi pelaku teror itu, kemurahhatian Allah tak hanya merangkul korban kebiadaban teror, tetapi juga secara lapang menantikan pertobatan si pelaku teror. Keterbukaan macam begini juga sekaligus menggelitik orang lainnya akan adanya benih-benih perilaku teror yang ada dalam diri mereka, Anda, dan saya. Maklumlah, kita ini makhluk lemah yang budinya kerap tersumbat dan susah mendapat pencerahan akan suatu dunia yang dikelola dengan kemurahhatian Allah.

Tuhan, jadikanlah kami murah hati seperti Engkau murah hati. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA II
18 Maret 2019

Dan 9,4b-10
Luk 6,36-38

Posting 2018: Kêwêlèh
Posting 2017: Siapa Modelku?

Posting 2015: Bukan Gaya Murahan

Posting 2014: Solidaritas dan Arogansi Terselubung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s