Merangkak tanpa Mangkrak

Dari hati yang adil, muncul pikiran yang adil, dan jika orang yang berhati dan pikiran adil ini sehat, keputusan dan perkataannya juga adil, dan kalau tetap sehat, perbuatannya juga adil. Sosok Yusuf yang dirayakan Gereja Katolik hari ini saya kira adalah pribadi yang tetap sehat sampai pada tataran perbuatannya. Ini bukan Yusuf yang populer di Mesir dengan kisah tragis keluarganya, melainkan Yusuf yang dihubungkan dengan Maria, Bunda Yesus dari Nazareth.

Saya pernah bilang bahwa sosok Yusuf jadi kunci penghubung antara Yesus dan Abraham dalam posting Anak Siapa Ini? Saya juga sudah katakan bahwa bagi saya, sebagai orang Jawa atau orang Indonesia, hubungan antara Yesus dan Abraham itu gak relevan. Itu soal utak-atik bagian Kitab Suci yang ini dengan yang itu supaya jadi konsisten bahwa Yesus ini adalah sosok yang dijanjikan sejak Perjanjian Lama. Untuk orang seperti saya ini, persoalan itu ada di luar sana, tak relevan untuk hidup saya. Yang saya butuhkan ialah siapa Yesus ini bagi saya, dan mirip dengan itu, siapa Yusuf ini bagi saya. Ini soal, istilah susahnya, apropriasi (yang dibuat setelah orang melakukan objektivasi, horotoyoh puyeng ora kowe!).

Saya punya asumsi seperti saya tulis pada paragraf pertama tadi, bahwa Yusuf adalah pribadi yang adil, lurus, tulus, dan mungkin mulus [ya beginilah tulisan orang yang belum lulus]. Oleh karena itu, keputusan yang diambilnya pasti juga bukan keputusan yang serampangan. Atribut adil yang saya lekatkan pada Yusuf sebetulnya juga adalah adil dalam konteks agamanya. Yusuf ini sangat taat beragama, maka seluruh pertimbangannya dilandasi oleh petunjuk-petunjuk agamanya. Rencananya untuk diam-diam menceraikan Maria adalah pilihan terbaik yang bisa diambilnya untuk menyelamatkan dirinya maupun Maria, yang tentu dicintainya. Ini win-win solution. Kalau sudah win-win solution, mau apa lagi jal? Itu sudah yang terbaik bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya!

Jebulnya, menurut kisah Yusuf ini, demokrasi bukan segala-galanya #loh. Seadil-adilnya Yusuf, ternyata masih ada pihak lain yang belum masuk dalam perhitungannya: Allah sendiri. Yang mengesankan saya dari sosok Yusuf ini ialah bahwa usaha terbaiknya dalam mengambil keputusan masih diletakkannya di bawah megaproyek Allah sendiri. Maklumlah, biasanya kalau orang merasa bahwa keputusan dan pilihannya adalah yang terbaik yang sudah diusahakannya, ia tak mau diganggu gugat dan proyek itulah yang dibawanya ke mana-mana, apalagi kalau ini berkenaan dengan agama!  

Kemampuan untuk mengintegrasikan proyek hidup pribadi dengan megaproyek Allah inilah yang saya lihat penting dari hidup Yusuf. Setiap orang punya proyek hidupnya sendiri-sendiri, yang jika tidak diintegrasikan dengan megaproyek Allah, ujung-ujungnya ya cuma mengumbar janji manis atau pamer proyek mangkrak. Dari Yusuflah saya belajar menyesuaikan proyek hidup saya dengan megaproyek-Nya, yang celakanya bersifat kekal sekaligus kontekstual! Dua sifat itu membuat orang beriman senantiasa hidup dalam tegangan. Bisa jadi jalan hidupnya seperti merangkak, tetapi kalau dijalani secara ngotot tapi santai, hidupnya tak akan mangkrak. Percaya deh.

Ya Allah, mohon rahmat keterbukaan hati untuk meletakkan usaha terbaik kami dalam proyek keselamatan-Mu. Amin.


HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA
(Selasa Prapaska II)
19 Maret 2019

2Sam 7,4-5a.12-14a.16
Rm 4,13.16-18.22
Mat 1,16.18-21.24

Posting 2018: Kau Terlalu Baik
Posting 2017: Siapa Dulu Suaminya

Posting 2016: Beneran Amanah?

Posting 2015: Cinta Bukan Ngampet
Posting 2014:
From Humiliation to Humility

2 replies

  1. Hallo romo

    Dari doa romo di akhir tulisan

    “Ya Allah, mohon rahmat keterbukaan hati untuk meletakkan usaha terbaik kami dalam proyek keselamatan-Mu. …

    Jadi teringat terminologi futuh dari seorang ahli tasawuf (Syek M. Fatturahman).. “saat hati manusia di bukakan penutupnya (hawa nafsu) oleh Allah dan cahaya Allah masuk ke dalamnya untuk menggerakkan hati utk melakukan kebaikan”

    itu pemahaman yg mengesankan saya, tetapi saya bisa salah karena bukan ahlinya.. #ahlinyaahli.. halah😫😆

    Semoga para pembaca blog ini selalu terbuka hatinya pada kebenaran utk melakukan kebaikan..

    Amiiinnn..

    Like

    • Halo mas HPI, terima kasih apropriasi lewat ingatan akan terminologi futuh itu ya, tetapi juga terutama atas doanya. Doa #ahlinyaahli..halah pasti didengarkan Tuhan 😄🙏🏼🙏🏼🙏🏼

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s