Gabutisme

Berita mengenai kosong melompongnya ruang sidang paripurna DPR tentu bukan barang baru, tetapi berita itu sekarang terasa seperti nyambung dengan teks bacaan hari ini. Kalau para murid Guru dari Nazareth itu hidup di zaman now dan kondisinya seperti yang dinarasikan dalam teks bacaan hari ini, kira-kira jadinya seperti anggota dewan pecinta gabutisme begitulah, entah gabutnya mau dimaknai dengan perspektif tahun berapa.
Apakah gabutisme itu eksklusif milik anggota DPR? Pasti tidak. Masing-masing dari Anda dan saya punya kadar gabutisme yang berbeda-beda. Jadi, sesama penggemar gabutisme, tak usahlah saling mengkritik!😝 Dikritik itu gak enak tau’!
Oh iya ya, namanya juga gabutisme.

Baiklah, saya tidak akan mengkritik pecinta gabutisme, tetapi memujinya. Kenapa perlu dipuji? Wah banyak sekali alasannya. Tak bisa saya sebutkan satu per satu di sini. Pecinta gabutisme ini setia, bertanggung jawab, bersahabat, jadi prèn yang baik, perhatian, dan seterusnya. Contohnya ya murid-murid Yesus itu loh. Ke mana-mana yang nginthil Yesus, guru mereka. Gurunya gak puasa, mereka juga gak puasa; gurunya pesta, mereka ya ikut pesta; gurunya bikin mukjizat, mereka ya ikut kecipratan popularitasnya. Setia, kan?
Lah, di mana gabutismenya, Rom, kalau setia?

Sebetulnya jelas sih, kalau yang tadi diteruskan: gurunya ditangkap, disiksa, tak satu murid pun yang ikut ditangkap, disiksa. Gabut!
Akan tetapi, narasi teks hari ini sebetulnya juga menjelaskan gabutisme dalam kesetiaan para murid mengikuti Yesus loh. Para murid dan Yesus berjalan bersama. Memang para murid mengikuti guru mereka, tetapi hanya secara fisik. Kepala mereka bergerak searah gerak kepala guru mereka, tetapi pikirannya melenceng jauh, bertolak belakang. Gabut sejak dalam pikiran!
Alhasil, benarlah yang dituliskan dalam teks kuno dulu: jalan pikiran-Mu bukanlah jalan pikiranku; cara-Mu bukanlah caraku.

Jadi, jebulnya, jalan bersamaan, berdua-duaan ciyeh, bahkan bergandengan tangan, tidak menjamin gabutisme itu mati #lohemangiyakok. Kepala yang satu mikir anu, kepala yang lain mikir itu. Anu dan itu dalam teks bacaan hari ini berlawanan arah. Yang anu menyoal susah payahnya hidup menuju kemuliaan. Yang itu cuma pikir soal kemuliaannya. Yang anu peduli proses, yang itu pokoknya hasil. Maka, yang anu menyodorkan paradigma tempat ‘terakhir’ alias ‘belakangan’, sedangkan yang itu memakai perspektif ‘pertama’ alias ‘duluan’.
Yang itu adalah sebagian besar dari Anda dan saya, pecinta gabutisme.

Lah, kalau semua memakai paradigma ‘terakhir’ alias ‘belakangan’, njuk siapa yang ‘pertama’ dan ‘duluan’ dong? Mana mungkin semua orang memakai paradigma ‘terakhir’ alias ‘belakangan’ itu?  Gak logis dong!
Lha yang bilang ini soal logika ya siapa? Paradigma ‘terakhir’ alias ‘belakangan’ tak perlu dimengerti sebagai kalkulasi kuantitas orang, tetapi sebagai cara memberi kualifikasi terhadap pekerjaan: bukan lagi dengan modus apa yang kuperoleh, melainkan dengan motif apa yang kuberikan. Tentu, ini tak melupakan kenyataan receive in giving.

Tuhan, tambahkanlah cinta pada-Mu daripada gabutisme. Amin.


HARI RABU PRAPASKA II
20 Maret 2019

Yer 18,18-20
Mat 20,17-28

Posting 2018: Agama Semprul
Posting 2017: Si Pandir

Posting 2016: Harga Penderitaan

Posting
 2015: Jangan Tanya Dapat Apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s