Tuhan Nomor Satu

Saya sudah mengaku bahwa saya ‘berdarah’ Jerman, jadi kalau kelak di Semifinal Liga Champion Liverpool mesti berhadapan dengan Barcelona, saya tetap akan membela Jerman: entah Klopp atau Ter Stegen. Ndelalahnya tadi pagi saya baca judul berita “Bagi Klopp, Tuhan Nomor Satu, Trofi Yang Kedua“. Ini maksudnya apa jal, wong dia tidak sedang dalam masa kampanye?

Teks bacaan hari ini seperti omong kosong di hadapan aksi teror terhadap puluhan jemaat Muslim di New Zealand kemarin. Begitu mengerikan, seolah-olah nyawa manusia seperti aneka target dalam permainan Call of Duty atau Crisis Action. 😡😡😡 Di hadapan teroris macam begitu, mosok orang mesti mempertimbangkan perintah untuk mengasihi musuh dan mendoakan orang yang menganiayanya? Absurd!

Ternyata tidak absurd, Saudara-saudara, jika perkataan Klopp tadi diikuti baik-baik. Cinta kepada musuh atau mendoakan teroris hanya masuk akal jika diletakkan dalam kerangka Tuhan nomor satu dan yang lain-lainnya nomor sekian. Celakanya, yang lain-lain itu benar-benar adalah segala-galanya selain Tuhan dan bagaimana Tuhan itu dipahami bergantung pada sikap manusia terhadap segala-galanya selain Tuhan itu. [Bingung gak sih?] Contoh konkret sajalah. Paham Anda mengenai Allah itu setidak-tidaknya Anda peroleh dari agama, entah apa pun nama agama itu. Pada saat Anda terlekat pada konsep atau paham mengenai Allah yang Anda peroleh dari agama itu, Anda ada dalam bahaya menyamakan Allah dengan konsep Allah.

Pada saat itulah, orang mengobjekkan Allah. Tak mengherankan, agama jadi nomor satu, dan pasti itu tidak klop dengan yang dikatakan Klopp. Dari kesalahan metodologis pencarian Allah itulah terjadi aneka kekhawatiran dan kebencian terhadap perbedaan agama dan muncullah, misalnya, Islamofobia. Demikianlah, jika Tuhan bukan nomor satu, terorisme mendapatkan lahan suburnya dan agama jadi kendaraan nyaman untuk menista Allah dengan segala manifestasinya, dari yang lembut sampai yang paling kasar, dari yang psikis sampai yang politis.

Penistaan Allah itu tidak hanya terjadi pada pelaku teror, tetapi bisa juga pada pihak-pihak yang mengutuk aksi teror itu. Prinsipnya, semakin orang attached to segala-galanya selain Tuhan, semakin tak masuk akallah tindak mencintai musuh dan mendoakan teroris. Pada orang-orang yang belum bisa detach terhadap ‘segala-galanya selain Allah’ itu, musuh harus dihancurkan dan kalau berdoa pun doanya berisi kehancuran musuh. Njuk mau jadi apa dunia ini?

Menurut guru rohani saya, belajar dari kebijaksanaan Buddhis, lingkaran penistaan Tuhan (itu tadi loh, paham Allah yang dipengaruhi agama atau ideologi lain) bisa diputus dengan dropping false beliefs, alias illegitimate prejudices atau prasangka naif yang tak cocok dengan realitas. Contoh: kalau negara diurus oleh orang-orang beragama, pasti akan lebih baik. Ini tak cocok dengan kenyataannya. Teokrasi tak seindah yang dijanjikannya. Sejarah agama Kristiani menunjukkannya. Kakak kelas saya dari Libya juga mengafirmasinya dengan pengalaman amburadul di negaranya, yang jelas agama mayoritasnya bahkan cuma satu aliran.

Mencintai musuh dan mendoakan penganiaya tak pernah berarti menyetujui perilakunya, sebaliknya bisa jadi malah mesti mengutuk dan menghukumnya, tetapi semata supaya yang jadi nomor satu adalah sungguh-sungguh Tuhan, bukan agama, suku, bangsa, kuburan, tempat ibadat, ritual dan lain-lainnya. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA I
16 Maret 2019

Ul 26,16-19
Mat 5,43-48

Posting 2018: Hatimu Terbuat dari Apa?
Posting 2017: Sudah Kuat?

Posting 2016: Bridge over Troubled Water
 
Posting
 2015: Logika Paradoksal

Posting 2014: Masih Mau Korupsi? Plis deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s