Penakluk Gunung?

Tahun lalu saya masih kuat mendaki beberapa bukit dan gunung dalam waktu beberapa hari saja karena untuk menaklukkan bukit dan gunung itu saya cukup duduk manis di bus. Setelah sampai puncak atau mendekati puncak, saya tinggal turun dari bus dan menapakkan kaki beberapa langkah saja. Ini bukan perkara susah.

Yang membuat saya kesusahan adalah mendaki gunung-gunung itu seturut insight yang disodorkan Guru dari Nazareth. Konon penulis Matius menyebutkan empat dataran tinggi yang penting dalam pelayanan publik Guru dari Nazareth itu: Bukit Sabda Bahagia, gunung tempat terjadinya transfigurasi, Gunung Kalvari, dan bukit ‘misi’ tempat murid-muridnya menerima tugas perutusan. Empat bukit atau gunung itu sudah saya taklukkan sampai mereka merengek-rengek minta ampun di telapak kaki saya, tetapi sebenarnya, kalau saya setia pada janji pendaki gunung, sebetulnya saya gagal mencapai tujuan pendakian. Konon, kata para pendaki gunung, ini adalah soal penaklukan diri, bukan penaklukan gunung.

Di Bukit Sabda Bahagia dinyatakan suatu ‘hukum baru’ yang bukan lagi perkara bunyi atau rumusan pasal yang bisa jadi bahan tarik ulur kepentingan politik, melainkan hukum hati nurani yang memuat aneka paradoks dan jelaslah dari situ, semakin orang terlekat pada objek ambisinya, semakin semu pula kebahagiaannya.
Di atas bukit tempat transfigurasi, Guru dari Nazareth menyatakan misterinya yang merupakan sekeping uang bersisi ganda nan tak terpisahkan: salib dan kebangkitan, kemuliaan dan kehinaan, dan seterusnya. Mengakui yang satu dengan menyangkal yang lainnya bukanlah jalan menuju Kebenaran.
Di Gunung Kalvari, bisa dipahami bahwa jika orang tak digenangi oleh Roh Kehidupan dari Pencipta, ia tak pernah move on sebagai manusia baru dan tinggal dalam lingkaran kekerasan yang berujung pada (kultur) kematian.
Di bukit tempat pengutusan diberikan kepada para murid, dinyatakan suatu azas dan dasar supaya hidup orang bermakna: di mana pun orang berada, ia mesti mewartakan Kabar Gembira, pertobatan, dan…. yang banyak disalahpahami orang karena sudah terlanjur dikondisikan aneka kepentingan: baptisan.

Baptisan tidak lagi jadi inisiasi atau pintu masuk ke dalam misteri Allah Yang Mahabesar, tetapi semata dianggap sebagai inisiasi ke dalam agama dan ritus tertentu. Di situlah muncul problem proselitisme: pergantian identitas menanggung sanksi sosial yang kerap menyangkal kemurahhatian Allah dan bahkan menunjukkan imaji Allah yang mengancam, menakutkan, tanpa persaudaraan, tanpa hospitalitas, tanpa cinta; dan tanpa cinta, adakah Allah?

Begini kata Augustinus sebelum ia menyatakan bahwa cinta adalah segala-galanya: Ia bertahan dalam kesulitan, menunjukkan kecermatan dalam kemakmuran, kuat dalam penderitaan, bergembira dalam tindak kebaikan, aman dari godaan, murah hati dalam hospitalitas, riang di antara saudara-saudara sejatinya, sabar terhadap orang tanpa iman. Ia adalah kekuatan pengetahuan dan karunia iman. Cinta adalah kekayaan bagi yang miskin, kehidupan bagi yang mati. Hidup tanpa karakter-karakter seperti itu cuma menegaskan apa yang dikatakan teks bacaan hari ini: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan orang-orang munafik, sesungguhnya kamu tak masuk dalam Kerajaan yang dijanjikan Allah.

Tuhan, mohon rahmat cinta-Mu untuk menaklukkan diri kami sendiri supaya Engkau semakin dimuliakan di sini dan sekarang ini. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA I
15 Maret 2019

Yeh 18,21-28
Mat 5,20-26

Posting 2018: Buah Kejujuran
Posting 2017: Sidang Istimewa

Posting 2016: Tobat, Kembali ke Cinta

Posting
2015: Kebenaran Agama vs Iman

Posting 2014: Ruang Tobat dan Pengampunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s