Selamat Pesta

Published by

on

Sebagian orang, mungkin Anda dan saya, menyembah Tuhan yang gak ada. Yang disembah tak lain adalah Tuhan ciptaan kita sendiri; ideologi yang tak terhubung dengan realitas konkret. Tuhan pun hanya ada di kepala dan jika isi kepalanya terdominasi oleh cuan dengan aneka dalihnya, kita menyembah Tuhan sejauh klop dengan logika cuan.

Ada logika lain yang tampaknya dianggap lebih luhur, tetapi sama-sama mengabaikan eksistensi Tuhan yang sesungguhnya, yaitu logika ritual. Dalam logika ini, karena objek penyembahannya adalah ‘dunia lain’, orang mesti sejenak memotong relasinya dengan realitas konkret supaya bisa fokus kepada dunia lain, yang sebetulnya tak bisa dipahami eksistensinya. Contoh konkret bisa saya sebutkan dalam liturgi Katolik. Sebagai pemimpin ibadat, saya punya aneka macam kegiatan dari awal sampai akhir. Akan tetapi, Anda yang ikut ibadat, selesai antrean komuni, jika tak ada lagu dan imamnya selesai komuni masih membereskan ini itu, ke manakah perhatian Anda selama lima menit itu? Berdoa rosario, mengamati imamnya, melihat antrean anak minta berkat, atau memikirkan bagaimana membayar hutang negara?

Begitulah logika ritual, kita melaksanakan gerak-gerik tertentu yang diklaim sebagai bagian tindakan untuk menyembah Tuhan, tetapi aneka gerak itu sesungguhnya hanyalah wujud persetujuan kita pada komunitas tertentu yang punya tata cara tertentu untuk mengklaim penyembahan kepada Tuhan. Apakah Tuhannya sendiri tersembah? Itu hanya bisa dijawab dengan bagaimana Anda dan saya memberi respek pada hidup konkret. Jika tidak, kita jatuh dalam risiko penyembahan berhala. Tuhan diabaikan.

Kisah terkenal dalam teks bacaan utama hari ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana orang tak pernah sungguh-sungguh berhubungan dengan pribadi konkret dan hanya berhubungan dengan ideologi dalam kepalanya sendiri. Tidak ada dari dua anak yang menerima ayah mereka sebagai sosok ayah. Keduanya sangat transaksional. Meskipun si bungsu memanggil ayahnya dengan sebutan ‘bapa’, jelas konteksnya ialah secara legal ia terputus dari ayahnya dan ia melihat sang ayah itu sebagai bos perusahaan. Si sulung lebih jelas lagi menunjukkan bingkai transaksionalnya: kamu tuh ya gak pernah bikin pesta untukku padahal aku dah kerja keras!

Satu-satunya yang diharapkan sang ayah ialah mereka bisa berpesta bersama. Alasannya, si bungsu, dengan segala keterbatasannya sudah mulai melihat titik terang bahwa ayahnya akan menerima dirinya apa adanya. Problemnya ada pada si sulung, apakah ia mau solider dengan ayahnya, yang menginginkan semua orang bisa ikut pesta. Dengan logika cuan dan ritual, solidaritas seperti ini tak akan jalan. Logika cuan mengucurkan bansos ala trickle down effect. Logika ritual mengeksklusi mereka yang tak terhitung sebagai ‘orang kita’. Dua-duanya mengabaikan kenyataan bahwa Tuhan menginginkan siapa saja berpartisipasi dalam pesta (n.b. bukan ritualisme).
Lah, bukannya itu juga ideologi, Rom? Itu kan proyeksi Romo saja mengenai sosok Tuhan.
Betul, tetapi ideologi itu terhubung dengan realitas konkret: entah jahat atau baik, de facto orang menginginkan hal yang baik bagi dirinya, meskipun orang lain melabelinya jahat. Kabar baiknya, Allah tidak memberi label dan mengundang semua untuk berpesta alias bertobat.

Tuhan, mohon rahmat solidaritas supaya kami dapat bergabung dalam pesta cinta-Mu. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA IV
Minggu Laetare
30 Maret 2025

Yos 5,9a.10-12
2Kor 5,17-21
Luk 15,1-3.11-32

Posting 2022: Penemu Tuhan
Posting 2019: Oplas Tuhan
Posting 2016: Agama Intoleran

Previous Post
Next Post