Oplas Tuhan

Mengubah wajah orang bisa dilakukan dengan operasi plastik, tetapi mengubah wajah Allah, gimana?

Cerita Guru dari Nazareth hari ini kiranya jadi cara untuk mengoperasi kepala manusia supaya wajah Allah tidak korup. Saya baru ngeh bahwa narasi hari ini disampaikannya kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Jadi Guru dari Nazareth ini sedang makan bersama para pendosa, dan datanglah orang-orang Farisi dan ahli Taurat tadi, tetapi tidak masuk ikut makan bersama. Nota bene, cara makan dalam pesta mereka itu semacam satu tampah untuk semua. Jadi, tak maulah orang-orang Farisi cs tadi ikut pesta. Najong! Mereka bersungut-sungut menentang tindakan Guru dari Nazareth. Guru keluar menemui mereka dan mulai menyampaikan metafora, salah satunya narasi hari ini. 

Jadi, narasi itu disampaikan bukan kepada para pendosa supaya bertobat, melainkan kepada ‘orang-orang benar’ supaya mengubah wajah Allah di kepala mereka! (Memang lebih susah mempertobatkan orang beragama yang sudah merasa diri benar.) Kembali ke metaforanya. Permintaan warisan anak bungsu kepada ayahnya adalah kode keras bahwa ia menganggap ayahnya tidak eksis, eksisnya ayah itu cuma jadi penghalang kebebasannya untuk memperoleh apa yang diinginkannya.
Jadi, saya yakin, adalah hoaks bahwa mayoritas PNS/guru tidak ingin memilih Jokowi sebagai indikator kinerja buruk Jokowi. Sangat mungkinlah itu indikator bahwa kebanyakan dari mereka tak mau repot kerja demi pelayanan publik! #lohkoknyampesitu🤣

Setelah foya-foya dan kelaparan, si bungsu kembali kepada ayahnya demi perutnya sendiri, dan gambaran mengenai ayahnya juga tak berubah: tak ada sosok ayah, adanya cuma majikan yang bisa memberi pekerjaan. Pekerjaan coy! Ini bisa jadi bahan kampanye!

Menariknya, wajah Allah ditunjukkan dalam bagian berikutnya. Dia sudah menanti-nantikan anak bungsunya kembali. Ini bukan wajah Allah yang menghitung-hitung berapa banyak jenis kesalahan komplet dengan jenis hukumannya, melainkan wajah Allah yang cinta belaka, maharahim. Bukan cuma menunggu, Dia buru-buru berlari (tindakan yang hanya dilakukan pesuruh) mungkin hampir tersandung dan jatuh memeluk anak-Nya dan tiada henti menciumi anak-Nya. Si anak mengeluarkan ayat yang sudah dipersiapkannya, yang prèt itu, dan sang ayah sudah bosan dengan gambaran yang masuk ke telinganya, yaitu ayah sebagai bos, tuan, tirani yang memberi aneka titah. Ia menyela refren anak bungsunya dan malah meminta ajudannya supaya memberi pakaian dan cincin kepada si bungsu.

Nota bene, ini bukan cincin kawin, melainkan cincin seperti kalau pembesar Roma memakainya untuk bikin cap meterai pada dokumen resmi. Itu pertanda bahwa si bungsu diberi kuasa sebagai anak, bukan budak. Lalu pestalah mereka. Si sulung tidak terima tindakan ayahnya, dan dia juga punya konsep mengenai ayahnya sebagai majikan, tak ada bedanya dengan konsep si bungsu. Dia tak terima bahwa ayahnya mencintai secara gratis. Di kepalanya, yang pantas dicintai ya orang seperti dia yang taat bekerja seturut titah bos. Tak ada sosok ayah, adanya ya majikan yang siap memberi gaji. 

Nah, ini point to ponder kalau Anda mau merenung: apakah eksistensi Allah jadi penghalang kebebasan Anda atau apakah Allah itu tuan besar tirani pemberi aneka mandat yang Anda harus tunduk saja?

Ya Allah, tambahkanlah kerahiman-Mu supaya kami semakin mampu menampakkan wajah kerahiman-Mu lebih daripada wajah sangar-Mu. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA IV
Minggu Laetare
31 Maret 2019

Yos 5,9a.10-12
2Kor 5,17-21
Luk 15,1-3.11-32

Posting 2016: Agama Intoleran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s