Debat Terakhir

Saya sisipkan sebuah debat dari cuplikan film Restless Heart, kurang dari lima menit. Kalau tak berminat menontonnya, meskipun audiovisual lebih nendang, silakan lompati saja langsung ke skripnya dalam bahasa Indonesia.

Hilarius: Saya buka secara resmi debat ini dan mempersilakan Uskup Donatis, Sidonius, untuk berbicara terlebih dahulu.
Sidonius: Hakim Agung, hari ini saya bicara di hadapan Anda sekalian, Saudara-saudari, dan Allah kita. Saya bisa saja bicara mengenai agama, dosa, penistaan Kitab Suci, atau sejarah retaknya hubungan dengan saudara-saudari Katolik kita. Akan tetapi, hari ini saya hanya ingin bicara mengenai satu orang, seorang imam, yang sudah jadi pendosa terbesar dari antara kita semua: Uskup Augustinus!
Bukankah aku sudah cukup lama berdiam diri? Sekarang saatnya kita menarik selubung yang telah menyembunyikan kebenaran mengenai Uskup tercinta kalian. Dia orang yang terdorong untuk membela para pembunuh dan orang-orang bermoral paling rendah. Dialah budak ambisi yang mendorongnya mencari sukses dengan ketrampilan retorikanya, manusia ciptaan Allah yang dilahap nafsu, keserakahan, ego, narsisme yang mendorongnya untuk menyembah allah yang tak lebih besar daripada dirinya sendiri.
Semula debat ini dimaksudkan untuk bicara soal kebenaran, tetapi kebenaran itu sudah diredupkan oleh satu orang. Tak ada pendosa yang lebih besar daripada Augustinus. Fakta bahwa ia bisa jadi imam Katolik adalah bukti bahwa Katolik tak dapat dipercaya!
Augustinus: Aku telah menetapkan diri untuk tidak ikut perdebatan. Akan tetapi, karena aku jadi topik diskusi, aku wajib bicara. Sidonius benar. Penuh ambisi, nafsu, narsistik, begitulah aku dulu. Allah dulu memberiku seorang ibu. Ia menunjukkan bahwa tak ada hal di dunia material ini yang pantas jadi objek ambisi kita. Dulu Allah memberiku seorang perempuan. Ia menunjukkan kepadaku bahwa mencintai berarti menyangkal diri. Dulu Allah memberiku anak lelaki. Aku mulai percaya bahwa ia tercipta seturut citra diriku, lalu Allah mengambilnya daripadaku, untuk menunjukkan kepadaku bahwa ia dicipta seturut citra Allah.
Ambisius, nafsu, narsistik, begitulah aku dulunya, dan sekarang pun masih, sebagaimana kita semua, seperti kita semua begitu.
Akan tetapi, tak seorang pun dari kita sendirian. Tak pernah, bahkan meskipun kita ada dalam keputusasaan, kepahitan, kegelapan. Allah dekat dengan kita. Allah lebih jadi saudara kita daripada saudara mana pun. Dia lebih jadi teman kita daripada teman mana pun, kekasih yang lebih daripada kekasih mana pun.

Adegan debat ini muncul setelah saya membaca teks bacaan hari ini. Hilarius adalah hakim non-Katolik, non-Donatis, yang akhirnya terbunuh setelah memutuskan pemenang debatnya 01 #eh. Saya tidak hendak menunjukkan Katolik benar Donatis salah [butuh satu jam pelajaran keleus], tetapi menggarisbawahi kebenaran yang termuat dalam kalimat No matter how great you are, arrogance is not a good sign.
Augustinus bukannya rendah diri melihat masa lalunya yang kelam, tetapi ia melihat kerahiman Allah Yang Mahabesar: di hadapan-Nya tak ada tempat bagi makhluk untuk menyombongkan diri. Begitu orang mulai berpikir yang lain salah dan aku sendiri atau kelompokku sendiri saja yang benar, tanda buruk bahwa orang mulai menjauh dari rengkuhan Allah Yang Mahabesar itu.

Ya Tuhan, semoga kerahiman-Mu menaklukkan arogansi kami. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA III
30 Maret 2019

Hos 6,1-6
Luk 18,9-14

Posting 2018: Orang Bukan Bukan
Posting 2016: Doa Pendosa, Dosa Pendoa

Posting 2015: Cermin Mana Cermin

Posting 2014: Saat Tuhan Tiada…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s