Ramalan Cinta

Betul gak sih bahwa orang akan jadi apa yang dicintainya, one becomes what one loves? Maksudnya tentu bukan kalau orang cinta kucing lalu keesokannya dia berubah jadi kucing, melainkan kalau orang cinta buaya darat lalu lama-kelamaan ia sendiri bisa jadi buaya darat. Kiranya juga bukan orang hidungnya jadi kek zebra jika ia cinta pada orang berhidung belang, melainkan ia sendiri bisa jadi orang berhidung belang. Begitu seterusnya, orang yang mencintai sesuatu atau seseorang, kualitas hidupnya lama kelamaan akan identik dengan sifat-sifat dari sesuatu atau seseorang yang dicintainya itu.

Akan tetapi, tidak bosan saya mengingatkan soal ini: kata ‘mencintai’ itu selalu problematis justru karena biasanya taken for granted, seakan-akan kalau orang mengatakan bahwa ia mencintai A atau B itu berarti memang ia mencintai A atau B. Yang paling umum terjadi ialah bahwa ketika orang mengatakan cinta terhadap A atau B, ia sedang tergila-gila pada gagasannya sendiri mengenai A atau B. Itu mengapa bisa Anda jumpai begitu banyak orang beragama yang tentu saja mesti mencintai Allah (wong beragama kok!), tetapi dia gemar hoaks mutakhir maupun basi, membolak-balik fakta menebar janji, menjungkirbalikkan nilai, menumpuk kekayaan untuk diri sendiri, memperlakukan bawahan secara keji, dan masih banyak lagi. Intinya, Allah dan cintanya gak nyambung.

Sudah saya katakan bahwa yang disampaikan Guru dari Nazareth mengenai hukum utama itu bukan barang baru. Rabi Yahudi juga mengajarkan hal yang sama, tetapi penjajaran (juxtaposition) teks Kitab Imamat dan Ulangan yang disodorkan Guru dari Nazareth ini mengingatkan sekurang-kurangnya dua hal. Pertama, hukum utama itu tak bisa eksis tanpa preseden, tanpa kenyataan yang mendahuluinya, yaitu bahwa Allah mencintai manusia. Tanpa kesadaran akan cinta Allah kepada manusia ini, cinta kepada Allah dan sesama takkan terpahami. Semuanya cuma jadi soal naluri biologis otomatis: semua orang begitu, saya juga begitu. Relasi pribadi dengan Allah tak masuk referensi.

Kedua, cinta kepada sesama, yang muncul dari cinta Allah itu, juga mesti diukur dengan cinta Allah itu sendiri. Maksudnya, kategori ‘sesama’ tidak bisa direduksi pada kelompok ‘tribal’ karena Allah mencintai semua. Di sini, tak masuk akallah bahwa orang mencintai sesama semata karena agamanya sama, sukunya sama, bintangnya sama, partainya sama, capresnya sama. Itu namanya [kam]prèt. Nah di sinilah letak relevansi kalimat pertama posting ini tadi: one becomes what one loves

Cinta kepada sesama mengalami divinisasi, pengilahian, tetapi bukan berarti mengilahikan sesama atau membuat subjek jadi Allah, melainkan cinta sesama itu jadi wujud cinta Allah, dan orang mencintai sesamanya laksana Allah mencintai semua makhluk-Nya. Mungkinkah benar-benar sama kualitasnya? Tentu tidak, karena ujung-ujungnya kita menempatkan cinta Allah tadi sebagai objek pikiran kita sendiri lalu mengukurnya, dan untuk blog ini, itu tidak relevan. Yang penting cinta manusia yang insani itu lahir dan dihayati sebagai cinta ilahi, yang bukan rasionalisasi, yang tidak narsis alias bukan cinta pada gagasannya sendiri.

Ya Allah, mohon rahmat supaya cinta kami semakin lebih menyatakan cinta-Mu daripada proyeksi cinta diri kami. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA III
29 Maret 2019

Hos 14,2-10
Mrk 12,28b-34

Posting 2018: Pertama dan Terakhir
Posting 2017: Hidup Tanpa Makna

Posting 2016: Galau Lahir Batin
 
Posting 2015: Cuma Ada Satu Cinta
Posting 2014: Ujung2nya Duit atau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s