Dicari Tabayun

Di awal film St. Augustine digambarkan bagaimana warga kota Hippo di dalam bentengnya panik karena rupanya kaum vandal, yang mengepung kota itu, memotong saluran air yang menghubungkan kota dengan sumber air di luar benteng. Berebutanlah warganya untuk memperoleh air dari sumur kecil di dalam kota itu. Augustinus menghimbau warganya,”Kekerasan dan kepanikan akan merenggut hidup kita lebih cepat daripada kehausan dan kelaparan.”

Memang begitulah kaum vandal atau barbar melancarkan strateginya: menciptakan taktik yang bikin orang panik dan bahkan saling berkelahi. Ini taktik murah, tidak butuh banyak biaya. Jadi jangan heran kalau pada masa kampanye terbuka ini masih ada orang yang suka ‘asal beda’ atau ‘asal kritik’ atau ‘asal-asalan’ lainnya, karena yang penting diciptakan dulu suasana chaos dan nanti tinggal unjuk gigi sebagai mesias atau penyelamat. Beberapa hari lalu saya sempat lihat kampanye yang membuat dampak negatif infrastruktur menjadi sedemikian fatalnya sehingga hanya dengan ganti presiden dampak negatif itu bisa diatasi. Tepokjidatsendirilah.

Teks bacaan hari ini menyajikan juga kerja kaum barbar yang hendak memutus relasi orang dengan sumber hidup dengan teknik pengacau; apa saja yang baik dikacaukan sebagai sesuatu yang jelek. Pokoknya asal buat kacau saja supaya orang kehilangan kepercayaan kepada sumber hidupnya, kepada Kitab Suci, kepada ajaran agama, dan ujung-ujungnya supaya orang tak percaya lagi kepada Allah.
Apakah semua yang kacau itu pertanda kinerja roh jahat, Rom?
Bergantung kekacauannya juga sih, kalau kekacauan itu memuat kepanikan dan kekerasan, seperti dilukiskan di awal film St. Augustine tadi, roh jahat sedang bekerja di situ.

Saya sodorkan ‘kekacauan’ yang lagi viral di Gereja Katolik berikut ini.

Di mana kacaunya? Memang sudah jadi kebiasaan orang berjabat tangan lalu mencium cincin yang dikenakan Paus (meskipun mungkin Pausnya sendiri merasa risih). Nah, Paus yang ini rupanya agak demonstratif, terlihat sekali usahanya menghindarkan ciuman umat ke cincinnya. Ini memancing reaksi kelompok tradisionalis atau konservatif atau apalah namanya, yang menganggap Paus ini tak layak memegang posisi pengganti Petrus.
Saya tidak menonton video lengkapnya (masih ada pekerjaan lain yang jauh lebih penting), tetapi saya yakin ada konteks lain yang membuat Paus ini menghindarkan ciuman pada cincinnya. Tapi apa daya, namanya juga manusia, dari yang bereaksi negatif itu ada juga yang lalu mirip seperti yang dinarasikan dalam teks bacaan hari ini. Tidak saya tautkan videonya di sini, tetapi video itu berisi ulasan terhadap klip yang saya sisipkan di atas dan diberi judul “Evil Pope Francis rebuffs worshippers”.

Kok bisa ya memberi kualifikasi evil? Itu persis seperti dalam teks hari ini orang berteriak mengenai Guru dari Nazareth yang mengusir setan,”Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan!”
Memang tindakan Paus itu memancing reaksi beragam, tetapi rupanya yang paling keras datang dari kelompok romantis tradisional. Sayangnya, reaksi keras itu tidak disampaikan setelah mendapatkan tabayun, dan di situlah kekacauan sesungguhnya. Orang tak paham, bukan mencari pemahaman, melainkan ribut berkoar-koar dengan penilaian-penilaiannya sendiri.

Tuhan, bantulah kami supaya semakin mengenali tipu daya roh jahat yang perlahan memutus jalan kepada-Mu. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA III
28 Maret 2019

Yer 7,23-28
Luk 11,14-23

Posting 2018: Cari Penyakit
Posting 2017:
Ngapain Kuliah Ya
 
Posting 2016: Lalat-Lalat Cinta
 
Posting 2015: Awalnya Inspiratif Sih…

Posting 2014: It’s Hard to Listen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s