Khawatir Percaya

Saya punya dosen yang pada saat menguji skripsi suka menghitung kata/ungkapan khas yang diucapkan mahasiswanya. Misalnya “apa namanya” atau “êêê” atau “ya”. Jadi, selama mahasiswa bicara, dosen ini membuat turus, lalu di akhir ujian ditotalnya jumlah turus dan diberikannya kepada mahasiswa.
Saya tidak serajin dosen itu, tetapi menurut perkiraan saya, kata khas yang diucapkan Prabowo dalam debat kali lalu adalah “khawatir” [selain kata bocor kembali lagi] sedangkan yang kerap ditegaskan Jokowi adalah “percaya”.

Dari riset mengenai kepemimpinan yang dulu dibuat Stephen R. Covey diketahui bahwa mereka yang hidup dalam lingkaran kekhawatiran tak akan lebih efektif dalam memimpin daripada mereka yang hidup dalam lingkaran pengaruh. Yang hidup dalam lingkaran pengaruh ini mesti punya tingkat kepercayaan (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) yang tinggi. Jadi terserah Anda mau pilih pemimpin yang lebih efektif atau yang hidupnya dirundung kekhawatiran.🤣🤣🤣 Loh pertahanan kita lemah kenapa klean tertawa!
[Yang bikin saya tertawa itu bukan pertahanan kita lemah, Pak (yang juga belum jelas kebenarannya), melainkan karena Bapak itu lucu, mantul dengan identitas diri TNI yang mempertaruhkan nyawa, patriot, nasionalis, tapi lupa bahwa soal 1998 dengan Tim Mawar itu sampai sekarang masih banyak yang didiamkan kelabu; tak jelas juga apa yang Bapak buat di Timor Leste sebagai apa. Trus, ABS itu barangkali, mungkin, barangkali lagi, adanya cuma waktu Bapak belum dipecat dari TNI! Lagipula, kalau ABS Orde Baru hidup di lingkaran Jokowi, ini bertentangan dong dengan hasil survei yang kubu Bapak banggakan sebagai bukti ASN melihat kinerja buruk Jokowi. Kalau ada ABS, harusnya mayoritas ASN niat memilih Jokowi kembali seperti dulu mertua Bapak puluhan tahun dipilih PNS.]

Teks bacaan hari ini mengingatkan saya untuk membebaskan diri dari cengkeraman kekhawatiran hidup. Siapa yang tak grogi ketika kerabatnya ada dalam bahaya maut? Siapa yang tak khawatir saat anaknya sakit dan sekarat saat ia sendiri tak mampu berbuat banyak? Akan tetapi, kalimat Guru dari Nazareth menghempaskan kekhawatiran itu,”Pergilah, anakmu hidup!”
Ndelalahnya, sang bapak yang khawatir anaknya bakal mati itu percaya terhadap mandat kehidupan dan memang betul anaknya hidup, sembuh dari sakitnya.

Saya sisipkan lagi ya filosofi orang Irlandia:
Dalam hidup ini, hanya dua hal yang pantas membuat Anda khawatir: Anda baik-baik saja atau Anda sakit.
Kalau Anda baik-baik saja, Anda tidak khawatir.
Tapi, jika Anda sakit, hanya dua hal yang pantas membuat Anda khawatir: Anda sembuh atau Anda mati.
Kalau sembuh, Anda tidak khawatir.
Tapi, jika Anda mati pun, hanya dua hal yang pantas membuat Anda khawatir: Anda masuk surga atau neraka.
Kalau Anda masuk surga, Anda tidak khawatir.
Jika Anda masuk neraka, Anda akan sedemikian sibuk bersilaturahmi dengan semua kerabat dan teman dari bumi sehingga Anda tak akan punya waktu untuk khawatir!

Filosofi ini berlaku entah Anda mendukung pemimpin yang didominasi kepercayaan atau Anda ngotot dengan pemimpin yang refrennya khawatir, khawatir, dan khawatir.
Tuhan, semoga hidup kami senantiasa ada dalam lingkaran kepercayaan akan penyelenggaraan-Mu yang lebih agung daripada kekhawatiran kami. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA IV
1 April 2019

Yes 65,17-21
Yoh 4,43-54

Posting 2018: Terserah Kaulah, Tuhan
Posting 2017: Mbok Belajar Inklusif Dikit

Posting 2016: Kafir tapi Mikir

Posting 2015: Percaya atau Lihat Dulu?

Posting 2014: Dictum Factum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s