Ganti Paradigma

Dalam perspektif Kristiani, tidak semua penderitaan merupakan salib yang menyelamatkan [mungkin cuma jadi salib yang menyeramkan dan harus dipotong ujungnya]. Sebagian penderitaan itu cuma jadi beban tak tertahankan yang orang cuma bisa ngampêt kêbêlêt. Sebagian lagi merupakan penderitaan yang destruktif dan mendorong pemberontakan atau makar [dengan dalih people power misalnya]. Penderitaan-penderitaan yang begini inilah yang bisa jadi kejahatan, skandal, dan mungkin dosa.

Saya mengingat adik sepupu saya dan orang-orang lainnya yang telah menuntaskan hidup dengan baik meskipun dirundung penderitaan yang luar biasa. Sekali dua kali bisa jadi terlihat indikasi adanya protes karena sakitnya, tetapi saya jauh lebih sering mendapatinya dalam keadaan baik [soalnya saya jarang ke tempat adik sepupu ini]. Pergerakannya sangat terbatas. Kadang terserang epilepsi. Ia tak bisa bicara. Kalaupun keluar suara dari mulutnya, hanya sepatah dua patah kata yang untuk jadi kalimat harus dilengkapi oleh pengertian orang lain. Nah, kalau pengertian orang lain itu tidak tepat, kadang ia menunjukkan ekspresi marahnya. Tapi seperti sudah saya bilang, itu sangat jarang terjadi. Juga dalam keterbatasan seperti itu, ada kekuatan yang ditanamkan Allah sehingga orang tetap berdaya untuk menanggung keterbatasannya sendiri.

Ingatan itu membuat saya mengerti pertanyaan yang disodorkan Guru dari Nazareth dalam teks hari ini. Terkesan retorik dan lebay, tetapi itulah yang senyatanya mesti ditinjau ulang oleh interlokutor alias lawan bicaranya, yang bisa jadi gagal fokus. Pertanyaannya sederhana: mau sembuh? Jawabannya juga seharusnya sederhana, tetapi orang sakit ini mulai berpikir soal ini itu yang memang kelihatan rasional. Guru dari Nazareth melihat pokok persoalannya: bukan orang lain, melainkan dia sendiri yang membiarkan dirinya nyaman dengan tilamnya [semacam matras untuk yoga gitu?] sembari menantikan jackpotPemecahan persoalannya juga sederhana: angkat saja itu tilamnya supaya ke mana ia pergi tetap nyaman.

Ndelalahnya kok ya bisa dia angkat dan berjalan. Orang yang gagal fokus ini sembuh setelah mengalami perjumpaan dengan Guru dari Nazareth itu. Akan tetapi, di sekitarnya masih ada juga mereka yang tak mau mengalami perjumpaan itu dan memelihara galfok mereka: pemuka agama yang hanya melihat aturan alih-alih melihat pokok persoalannya. Ini pernah saya ceritakan dalam posting Ziarah Tak Kunjung Henti. Bisa jadi yang membuat sakit tak kunjung sembuh bukan penyakitnya sendiri, melainkan paradigma orang sendiri mengenai sakit, mengenai kesembuhan, mengenai solidaritas, mengenai pertemanan, mengenai cinta, dan seterusnya.

Perjumpaan pribadi dengan Tuhan [bukan dengan ideologi mengenai Tuhan] memberi kans yang lebih besar bagi orang untuk mengubah paradigma yang membuatnya sakit.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu mengganti paradigma kehidupan yang menjauhkan kami dari-Mu
. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA IV
2 April 2019

Yeh 47,1-9.12
Yoh 5,1-16

Posting 2018: Cinta Rentenir
Posting 2017: Bangun Brow!

Posting 2016: Penggemar Harapan Palsu

Posting 2015: Mau Lu Apa?

Posting 2014: Will Thou be Made Whole?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s