Di satu stasi pelosok lain malam ini saya iseng lagi menanyakan kepada umat apakah ada bagian syahadat iman yang menyatakan kepercayaan akan adanya surga dan salah satu umat mengafirmasinya dengan frase “yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa,” Tentu saja, pertanyaan lanjutannya (di mana) dijawab dengan keterangan lokasi “di atas” dan kemi sepakati bahwa pada saat bersamaan ‘atasnya’ orang di Kanada dan di Indonesia bisa jadi bertolak belakang. Poinnya saya ulangi lagi bahwa surga itu bukan perkara lokasi dan waktu, melainkan perkara mengikuti Yesus yang disebut Kristus.
Mengikuti sosok seperti itu tak bisa dilakukan dengan menundukkan kepala menatap ke bawah, ke dunia orang mati dalam paradigma orang kuno, melainkan memandang ke atas, ke dunia orang hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mengarahkan pandangan ke atas ini tidak dimungkinkan jika orang terjerembab dalam jerat untuk menunda kematian karena gerakan Yesus pun tidak menunjukkan tindakan cari selamat sendiri dengan mengawetkan diri supaya panjang umur, tetapi mengalahkan kematian.
Seturut Surat Gembala di wilayah tempat saya bantu-bantu ini, mengalahkan kematian itu berarti juga memperlakukan bumi seisinya sebagai rumah bersama, sebagai saudara, sebagai senior, yang layak mendapat respek sebagai ciptaan Allah. Jika diteruskan, respek itu juga berlaku bagi jalinan ciptaan Allah dan respon manusia yang berwujud duka, derita, sakit, kegagalan, dan bahkan kematian. Alhasil, menerima saudara matahari atau saudari bulan atau saudari kematian dan lain-lainnya justru memungkinkan orang mengalami surga.
Lah, berarti kalau anak muda suicide, itu berarti malah mengakrabi saudari kematian dong, Rom?
Iya, tapi pada saat yang sama, ia membunuh saudari kehidupan.
Memberi respek kepada saudari kematian berarti menghormati juga saudari kehidupan. Keduanya dicintai sebagai saudara ciptaan Allah sendiri. Pada momen seperti itu, menolak kematian sebagai saudari, justru membuat perjalanan malam hari dari pelosok di jalan berkelak-kelok tanpa penerangan jalan malah jadi neraka.
Tuhan, mohon rahmat kebangkitan supaya kami mampu menerima ciptaan-Mu sebagai saudara-saudari kami. Amin.
MALAM PASKA C
19 April 2025
Kej 1,1.26-31a
Kej 22,1-18
Kel 14,15-15,1
Yes 54,5-14
Yes 55,1-11
Bar 3,9-15.32-4,4
Yeh 36,16-17a.18-28
Rm 6,3-11
Luk 24,1-12
Posting 2022: Wanted: Orang Hidup
Posting 2019: Paska Itu Apa?
Posting 2016: Malam Paska: Salah Alamat?

2 responses to “Saudara”
Romo… Selamat Paskah dari kami sekeluarga di Klaten
LikeLike
Iya, selamat Paskah juga
LikeLike