Paska Itu Apa?

Kalau Anda bertanya kepada anak-anak apa yang dirayakan pada Hari Paska, mungkin Anda dapati jawaban “kebangkitan (Tuhan) Yesus”. Kalau yang Anda tanyai kakak mereka, mungkin jawabannya mirip dan jika Anda bandingkan dengan jawaban orang tua mereka, mungkin juga tak ada perbedaan yang signifikan. Semua merujuk pada peristiwa ‘di luar sana’, peristiwa yang diyakini terjadi pada sekitar dua ribu tahun lalu.

Akan tetapi, bukankah mengenai peristiwa itu ada konflik penafsiran antara tradisi Kristiani, Yahudi, dan Islam?
Ngapain merayakan suatu kontroversi? Untuk apa merayakan hal yang cuma bermakna untuk diri sendiri? Ikutkah Anda merayakan kemenangan kontroversial dengan modal survei internal semata? Gak lucu kan sudah telanjur deklarasi jebulnya kemenangannya hoaks? Apa gunanya menyodorkan klaim kebenaran sepihak?

Sik sik sik, Rom. Berarti Romo ini mau menyangkal peristiwa kebangkitan Yesus dua ribu tahun lalu begitu?
Gak sesederhana itu, karena itu adalah peristiwa iman, bukan peristiwa historis seperti pemilu 2014 atau 2019. Jika itu adalah peristiwa iman, berarti ada makna yang melampaui sekat budaya, agama, ilmu, ideologi, dan sebagainya. Itulah yang saya mau rayakan bersama seluruh pembaca.

Beberapa tahun lalu pernah saya bagikan cerita pribadi ketika saya mengalami kegelapan hidup dan hendak menarik diri dari kehidupan ini; tidak sampai pada tahap bunuh diri sih, tetapi benar-benar hopeless dan hope lost. Singkatnya, tak ada gunanya mengikuti sosok Guru dari Nazareth yang akhirnya mati juga [dan dilemanya: kalau memang jebulnya gak mati, berarti omongannya sendiri cuma hoaks].
Yang membuat saya mak cling dan keluar dari keputusasaan itu ialah suatu pencerahan bahwa saya tidak sedang mengikuti ideologi tertentu mengenai Guru dari Nazareth ini. Saya bahkan tak lagi peduli apakah memang dia mati disalib dan dikubur dan jenazahnya lenyap. 

Kalimat-kalimat terakhir teks bacaan hari ini menunjukkan bahwa Petrus melihat tanda kematian (kain kafan), tetapi pergumulan batinnya kemudian justru menunjukkan kepercayaannya kepada kebangkitan. Kepercayaannya mengatasi appearance, apa yang tampak. Ini adalah intuisi hati yang menggerakkan orang untuk terus memahami misteri Allah. Iman kepercayaan bukanlah delusi megalomania atau ilusi cinta monyet.

Dengan begitu, iman kepercayaan akan kebangkitan bukan lagi soal pertarungan real count vs quick count, misalnya, karena keduanya sudah semestinya terhubung. Coba jal apa gunanya quick count kalau hanya untuk memenangkan capres abadi? Mengerikan. Dulu percaya quick count tetapi sekarang tidak, karena dulu cocok dengan hasrat kemenangan dan sekarang tidak cocok. Kemenangan jadi lebih penting daripada kecocokan quick count dengan kenyataan. 

Karena itu, Paska bukan lagi soal apakah Guru dari Nazareth itu benar-benar bangkit atau apakah dia dulu sungguh mati karena kesalahan bangsanya. Saya teringat lagi, untuk kesekian kalinya apa yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry: It’s only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye. Paska bukan lagi soal dulu kejadiannya begini atau begitu, yang bergantung pada persepsi indrawi orang, melainkan soal apakah hakikat kebangkitan itu Anda hidupi karena Allah yang senantiasa bersama Anda itu. 

Singkatnya, Paska bergerak dari pengertian “kebangkitan (Tuhan) Yesus” menuju “kebangkitan hidupku karena Allah bersamaku”. Itulah yang esensial. Amin.


MALAM PASKA C/1
20 April 2019

Kej 1,1.26-31a
Kej 22,1-18
Kel 14,15-15,1
Yes 54,5-14
Yes 55,1-11
Bar 3,9-15.32-4,4
Yeh 36,16-17a.18-28

Rm 6,3-11
Luk 24,1-12

Posting 2016: Malam Paska: Salah Alamat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s