Frekuensi

Published by

on

Cinta, jika mesti diperintahkan, kehilangan karakternya karena seperti nafas, ia memberi eksistensi. Maka dari itu, sebagaimana Anda tak perlu diperintah untuk bernafas, memaksa orang untuk mencintai Anda, misalnya, adalah nonsense. Akan tetapi, memang begitulah hidup kita, terdiri aneka nonsense sehingga aneka macam orang tanpa sadar menaruh baliho imajiner di punggung atau dahi mereka bertuliskan “Cintailah aku!” Akibatnya, pasti ada saja yang bermasalah dengan aneka baliho itu dan yang menderita biasanya adalah darah daging mereka.

Teks bacaan utama hari ini adalah wacana wasiat yang isinya berhubungan dengan mandat cinta tadi. Apakah ini bukannya nonsense juga ya? Cinta, apalagi saling cinta, kok disuruh. Tentu nonsense jika cinta hanya dipahami seperti nafas tadi. Nafas memang memberi eksistensi biologis individual, tetapi ia tidak menjamin eksistensi sosial manusia. Barangkali, cinta juga perlu diumpamakan seperti frekuensi yang dipakai stasiun pemancar dan antena penerima sinyal. Tidak ada yang mewajibkan penerima sinyal memakai frekuensi tertentu, tetapi kalau frekuensi yang dipakai pemancar diabaikan, ya tidak ada komunikasi.

Wasiat yang disodorkan Yesus bukan perintah baru jika hanya dimengerti dengan nafas tadi. Cinta kasih, kasih sayang, belas kasih, compassion bukan barang baru bagi tradisi agama-agama dunia. Semua agama mengajarkan begitu, bagaimanapun caranya. Yang membuat perintah Yesus itu baru ialah bahwa mandat itu berasal dari ‘stasiun pemancar’ tadi. Dalam bahasa teknis teologis Kristiani, perintah itu datangnya dari inkarnasi.

Tentu saja, Anda yang tidak berafiliasi pada teologi Kristiani, tak perlu menerima atau menyetujuinya karena istilah itu spesifik merujuk pada daging yang kemudian dilekatkan pada sosok Yesus tadi. Pada saat ia tahu sedang dalam keadaan dikhianati (kalau istilah itu tepat), ia teguh pada pesan terakhirnya supaya, sebagaimana ia begitu cinta pada Allah dan Allah begitu cinta padanya dan ia sendiri mencintai murid-muridnya, mereka saling mencintai. Ini bukan sekadar kewajiban, melainkan raison d’être bagi kemanusiaan, keadilan sosial bagi seluruh makhluk.

Meskipun demikian, Allah tentu bisa memberikan ‘frekuensi’-Nya lewat yang lain-lain, bukan? Jadi, saya pikir, bahasa teknis inkarnasi tidak lebih penting daripada ikhtiar untuk mencari ‘frekuensi’ Allah yang senantiasa mencintai kemanusiaan dan seluruh ciptaan-Nya. Semoga Anda dan saya menangkap ‘frekuensi’ itu terutama pada masa-masa gelap. Amin.


MINGGU PASKA V C/2
18 Mei 2025

Kis 14,21b-27
Why 21,1-5a
Yoh 13,31-33a.34-35

Posting 2022: Diakon(-akon)
Posting 2019: Cinta Tanpa Kenapa

Posting 2016: Cinta Tanpa Batas

Previous Post
Next Post