Tentu sudah dibahas di sana-sini tendensi militerisme di negeri ini yang aromanya sekuat parfum berkategori EDP, yang lebih kuat daripada kolor monyet alias Colognette 4711. Saya tidak anti militer. Simbah saya orang Angkatan Darat dan jika umurnya panjang, karir perwira tingginya mesti akan sampai ujung. Saya tidak anti simbah saya sendiri; juga tidak anti korpsnya. Saya hanya tidak setuju bahwa semangat korps yang tegak lurus komando ini diterapkan sebagai pedagogi pendidikan karakter.
Betul bahwa mungkin di banyak ranah birokrasi terjadi korupsi karena karakter birokratnya tidak seperti anggota militer yang tegak lurus komando, tetapi itu tidak otomatis berarti korupsi hanya bisa ditangani dengan militerisme. Masih ada banyak orang yang sama sekali tidak menghidupi logika komando militer dan karakternya bisa diandalkan dan bereputasi internasional juga. Sebaliknya, Anda dan saya tidak sepantasnya melupakan kasus Sambo yang berbau-bau logika komando juga. Kalau hidup ini mesti satu komando, hanya Allahlah yang ada di pucuk komando, yang mengatasi aneka perbedaan dan konflik. Akan tetapi, persis itulah pokok persoalannya.
Teks bacaan utama hari ini berisi untaian doa Yesus yang menyatakan harapannya supaya semua saja menjadi satu, bukan menjadi seragam. Alasannya sederhana: karena Yesus dan Allah itu adalah satu, dan kategori pemikiran kita sulit menangkap ungkapan itu di luar konteks bilangan. Itu mengapa sekitar 17 abad lalu pengikut Yesus bertengkar mengenai status Yesus ini dan mesti ditutup dengan doktrin yang menjamin keseragaman pemahaman di seluruh wilayah kekuasaan kaisar Roma. Saya tidak kompeten untuk menyajikan wacana itu di sini, tetapi cukuplah Anda dan saya pahami bahwa satu kenyataan itu bisa jadi multitafsir. Memaksakan satu tafsir tertentu berpotensi menutup peluang Allah untuk bicara.
Itu mengapa saya tidak begitu antusias dengan nasihat supaya orang lebih mencari apa yang sama daripada apa yang berbeda. Saya pikir, persamaan dan perbedaan itu adalah satu level berpikir tertentu. Untuk mengatasi persoalannya, orang perlu berpikir dengan level yang berbeda: tidak lagi meributkan apa yang sama dan apa yang beda, melainkan mencari apa yang dapat menyatukan hidup seluruh ciptaan.
Saya tidak tahu apakah kolor monyet bisa menyatukan Anda dan saya, tetapi pada masa kecil saya, ketika saya mendengar ungkapan kolor monyet itu, saya menangkap produk yang ditawarkan pedagang asongan di terminal atau di bus antarprovinsi. Waktu itu saya belum memikirkan bahwa monyet pun bisa memakai kolor, hal yang bisa terjadi jika pedagogi tegak lurus komando diterapkan.
Semoga Anda dan saya mendapat rahmat kebijaksanaan untuk menangkap satu komando dari-Nya yang mungkin, siapa tahu, berhadiah kolor monyet. Amin.
HARI MINGGU PASKA VII
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
1 Juni 2025
Kis 7,55-60
Why 22,12-14.16-17.20
Yoh 17,20-26
Posting 2022: Semoga Satu
Posting 2019: Sahabat Sejati Jaya
Posting 2016: Roh Pecah Belah
