Sahabat Sejati Jaya

Beberapa tahun setelah Konsili Vatikan II, para pemimpin Gereja Kristen seluruh dunia (World Council of Churches) berkumpul untuk keempat kalinya di Uppsala, Swedia dengan tema Behold, I make all things new. Dalam salah satu sesi, seorang Patriark Gereja Ortodoks Yunani menyampaikan keyakinannya begini:
Tanpa Roh Kudus,
Tuhan begitu jauh,
Kristus tinggal di masa lalu,
Kitab Suci cuma huruf mati,
Gereja cuma sebuah organisasi,
otoritas hanyalah soal dominasi,
misi juga cuma propaganda indoktrinasi,
liturgi hanyalah nostalgia,
dan orang Kristen menghayati moralitas hamba.

Setelah itu, ia melanjutkan pernyataannya dengan gambaran bagaimana kalau Roh Kudus itu menyengat orang beriman, tentu berkebalikan dengan gambaran yang sudah saya terjemahkan itu.

Saya hanya hendak menggarisbawahi keyakinannya sampai baris ketiga: Tanpa Roh Kudus, Tuhan begitu jauh, Kristus tinggal di masa lalu. Itulah yang terjadi pada kebanyakan orang beragama, apa pun nama agamanya. Saya sih berharap para pemimpin agamanya tidak begitu. Bisa saya maklumi kalau orang kebanyakan dalam agama tidak menghidupinya, bukan karena memang seharusnya begitu, melainkan karena manusia terkena semacam penyakit bawaan untuk berhenti pada ideologi sehingga kehilangan kemampuan reading between the lines. Mengapa? Ya karena hidup tanpa Roh Kudus tadi.

Ini mengapa sejak Hari Paska saya mewanti-wanti soal pemaknaannya yang cenderung menyoroti Hari Paska sebagai peringatan seseorang yang diklaim pernah mati lalu bangkit. Dengan itu lalu perhatian orang tertuju pada satu sosok historis, Guru dari Nazareth yang lahir dari rahim Maria, dan mulailah orang sedunia berbantah-bantahan mengenai faktanya, dan malah melupakan pesan di balik peristiwanya sendiri. Orang Kristen, dengan demikian, malah mempropagandakan Allah orang mati, bukan Allah orang hidup!

Teks bacaan hari ini dipakai oleh Gereja Katolik untuk merayakan Hari Minggu Komunikasi Sedunia. Gereja Katolik di Indonesia sudah menyodorkan klip videonya pada link Youtube ini. Judulnya Sahabat Sejati (bukan Sahabat Setia #eh). Saya tidak mengulasnya di sini tetapi kembali pada teks bacaan hari ini, yaitu doa Guru dari Nazareth supaya semua menjadi satu.
Apakah doa Guru dari Nazareth ini soal kesatuan umat Kristen yang tersegmentasi dalam aneka denominasi? Ya pasti bukan, wong zaman Guru dari Nazareth itu belum ada agama Kristen. Apakah ini soal kesatuan umat Katolik yang meskipun hirarkinya jelas, masih saja sebagian anggotanya mengagung-agungkan masa lalu yang [diklaim] lebih baik dari masa sekarang? Ini juga bukan. 

Pembaca Kitab Suci semestinya membaca Kitab Suci dengan melepaskan atau sekurang-kurangnya melakukan epoche terhadap prasangka-prasangka agama yang diyakininya. Gampangannya begini. Sudah jamak anggapan bahwa orang Kristen lebih paham Kitab Suci Perjanjian Baru dan orang Islam lebih paham Alquran [dan orang Katolik tidak paham apa-apa😂]: hanya orang Kristenlah yang bisa mengerti teks Kitab Suci Perjanjian Lama atau hanya orang Buddhalah yang bisa menangkap pesan teks sucinya.

Kalau sudah begitu, orang terjerat oleh asumsi agamanya sendiri dan tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Kitab Sucinya itu secara potensial berlaku untuk seluruh umat manusia, tidak percaya bahwa teks suci itu mengundang setiap insan.
Teks bacaan hari ini saya tangkap secara sederhana: Doa Yesus supaya semua orang menjadi Sahabat Allah.
Semoga semakin banyak orang bersahabat dengan Allah
. Amin.


HARI MINGGU PASKA VII
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
2 Juni 2019

Kis 7,55-60
Why 22,12-14.16-17.20
Yoh 17,20-26

Posting 2016: Roh Pecah Belah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s