In Memoriam: Mbak Ani

Saya ‘punya’ kakak perempuan yang lahir dari rahim ibu saya. Namanya Ani. Ia meninggal karena sakit, beberapa saat sebelum ibu saya, namanya Ani juga, memaksa saya lahir sebagai coklat a.k.a. cowok Klaten. Dua hari kemarin dalam perayaan Ekaristi saya mendoakan Ibu Ani Yudhoyono yang juga meninggal karena sakit pada hari kelahiran Pancasila diperingati.

Saya tidak hendak bicara soal kematian-kelahiran, tetapi soal kemenangan yang ditapaki baik oleh Ibu Ani Yudhoyono maupun kakak saya dan juga orang-orang yang hidupnya jadi manifestasi ‘melawan’ sakit. Gagasan ini muncul ketika saya membaca ayat terakhir teks bacaan hari ini: Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Untuk kesekian kalinya, saya menyarankan kata ganti aku dengan huruf kapital itu tidak direduksi sebagai Yesus historis atau Guru dari Nazareth. ‘Aku’ di situ adalah pribadi yang kita tangkap sebagai sosok yang hidup bersama Roh Kudus.
Loh, apa Yesus historis atau Guru dari Nazareth itu hidupnya tidak bersama Roh Kudus, Rom?
Tetot, justru mereka hidup bersama Roh Kudus; cuma tendensi orang kan mengikuti kata-kata Antoine de Saint-Exupéry: It’s only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye. 

Maka dari itu, kalau tetap mau mengacu pada Yesus historis atau Guru dari Nazareth, acuan itu mesti disadari sebagai Yesus yang sudah mengalami Paska, dan Paska bukan eksklusif milik Yesus historis, dan itu mengapa saya punya alasan menulis in memoriam mbak Ani.
Mereka mengingatkan saya pada kekuatan kebangkitan untuk mengalahkan keterbatasan hidup. Kok isa?

Saya kira tak seorang pun berharap supaya sakit kanker. Sesinting-sintingnya saya untuk boleh mengalami keterbatasan hidup sebagai orang sakit, saya tak mengharapkan sakit kanker sebagaimana diderita oleh Ibu Ani dan penderita kanker lainnya. Akan tetapi, siapa juga orang yang senantiasa ada dalam kesadaran penuh untuk menghindari sakit ini? Siapa juga yang punya kemampuan utuh untuk mengadopsi kinerja Densus 88 menangkal terorisme (yang juga bisa saja kecolongan) bagi kesehatan tubuhnya?

Saya menangkap serius cerita suami Bu Ani yang mengatakan bahwa Bu Ani menghembuskan nafas terakhir dalam ketenangan. Ini sangat simbolik sebagai pribadi yang mengalahkan dunia, yang dapat secara ikhlas melepaskan seluruh beban hidup duniawinya, yang menjalani hidupnya dalam konsolasi, dengan hati gembira.
Sejujurnya, saya menaruh hormat pada mereka yang menderita sakit seperti Ibu Ani karena dalam diri merekalah panggilan suci kentara: hati gembira adalah obat yang manjur.

Tentu saja, hati gembira tidak identik dengan orang tertawa senang. Sakit tetaplah sakit, tetapi orang sakit fisik yang ketambahan stres, protes sana sini dan ngotot mau bikin ini itu jelaslah berbeda dari orang sakit yang terbebas dari penderitaan. Hati gembira adalah simbol konsolasi, simbol disposisi orang yang meletakkan seluruh hidupnya pada penyelenggaraan hidup Allah sendiri. Pada diri orang-orang seperti ini, pun kalau sakit itu tak tersembuhkan, ia mengalahkannya dalam ketenangan, dalam kebahagiaan abadi. Rest in peace, Mbak Ani, dan doakan kami supaya tidak silap dengan aneka macam intrik politik yang merusak relasi baik dengan sesama maupun Tuhan. Amin.


HARI SENIN PASKA VII
3 Juni 2019

Kis 19,1-8
Yoh 16,29-33

Posting 2017: Manusia Pecah Belah
Posting 2016: Mengukur Iman

Posting 2015: Arogansi Pengikut Kristus

Posting 2014: Sebetulnya Paham Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s