Mbak Pia

Ini cerita tetangga kamar saya hampir satu dekade lalu, tetapi mungkin tak seheboh film Aladdin yang sedang tayang belakangan ini. Ceritanya seorang ibu yang pulang dari pasar bersama Tiwal Jr., keponakan Tiwul. Di tengah jalan Tiwal kecil menemukan teko Aladdin (apa sih namanya mosok teko?) yang begitu dipegang langsung mengepulkan asap dan mak jêgagig nongol jin Aladdin yang tertawa terbahak-bahak padahal belum ada lucu-lucunya Tiwal kecil ini.

Singkat cerita, jin Aladdin menyodorkan tiga kesempatan kepada Tiwal Jr. untuk menyampaikan permintaan. Apa saja boleh pokoknya, tapi permintaan yang sudah dilontarkan tidak bisa ditarik kembali. Benarlah, dari mulut Tiwal Jr. keluar nama makanan yang tadi di pasar tidak dibeli oleh ibunya,”Bakpia!”
Mak cling bakpia muncul di tangan jin dan diberikannya bakpia itu kepada si anak kelas satu SD ini. Langsung dicaploknya bakpia itu dan dikunyahnya erat-erat #loh.
Melihat itu senang jugalah hati ibunya karena meskipun tidak membelikannya bakpia, akhirnya Tiwal bisa makan bakpia. Akan tetapi, ibunya ini mulai membujuk Tiwal supaya permintaannya yang kedua adalah rumah tinggal yang megah. Setelah bakpia habis, jin bertanya,”Apa permintaanmu yang kedua, Nak?” dan di tertawa lagi terbahak-bahak padahal Tiwal Jr. ini gak lucu babar blas.
Tanpa ragu sedikit pun Tiwal Jr. melihat ibunya dan berteriak,”Bakpiaaaaa” Ibunya jengkel dan kecewa sementara dilihatnya Tiwal Jr. mengunyah bakpianya yang kedua. Akan tetapi, akhirnya sang bunda ini omong baik-baik kepada Tiwal Jr. “Tiwal, cobalah minta uang yang banyak biar cukup untuk beli rumah dan pasti juga cukup untuk beli bakpia lagi.”
Tiwal Jr. terdiam menatap ibunya dan jin Aladdin tak berani lagi tertawa mendengarkan permintaan terakhir Tiwal Jr.
“Bakpia,” kata Tiwal Jr. lirih dan pada saat itulah ibunya pingsan.

Sementara menunggu ibunya pingsan, Tiwal Jr. mengunyah lagi bakpianya dan jin Aladdin berusaha membantu sang bunda supaya siuman. Setelah sang bunda siuman, jin Aladdin tergerak belas kasihannya, lalu memberikan satu kesempatan lagi.
“Baiklah, Nak. Kau lihat sendiri bagaimana ibumu tadi pingsan. Sekarang aku beri satu kesempatan lagi untuk mengajukan permintaan. Bicarakanlah baik-baik dengan ibumu supaya kamu sungguh meminta hal yang baik dan berguna.” Jin Aladdin tidak lagi tertawa. Sekarang dia tahu bahwa gak ada lucu-lucunya Tiwal Jr. ini.
Tiwal kecil tentu tak paham maksud jin Aladdin. Sementara itu, sang bunda merengek-rengek supaya Tiwal kecil meminta hal yang sungguh mereka butuhkan.
Kali ini tiwal kecil menatap jin Aladdin dan dari mulutnya keluar kata,”Air putih.”
Sontak ibunya meraung-raung seperti motor tetangga sebelah,”Mengapa kamu cuma minta air putih, Tiwaaaaaal?” dan sambil menunjuk jakunnya yang belum nongol itu, dari mulut Tiwal kecil keluar kata yang lain,”Sêrêt.”

Jin Aladdin tidak tertawa, padahal Tiwal kecil ini menunjukkan kelucuannya, karena ceritanya selesai sampai sêrêt itu aja.

Tidaklah mudah meminta.
Kebanyakan orang beragama menuntut, alih-alih meminta dalam nama sosok yang mereka muliakan. Orang beragama perlu belajar jenis meminta yang seperti itu. Dalam teks bacaan hari ini, meskipun kata yang dipakai adalah minta-meminta, yang disodorkan sebetulnya adalah undangan untuk berdoa, bukan menjalankan ritual atau devosi atau kewajiban agama.

Dari cerita Tiwal kecil tadi bisa ditengarai mana jenis doa yang disodorkan teks bacaan ini: doa dalam bentuk spontannya, dari kedalaman hati, bukan doa yang terbumbui rasionalisasi hasrat sang bunda tadi. Memang tidak mudah: orang mesti masuk ke kedalaman dirinya, menemukan apa yang sungguh-sungguh dirindukannya, kerinduan terdalamnya.
Saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh berdoa mohon kesembuhan, kekayaan, kembalinya barang yang hilang, dan sebagainya. Meminta dalam nama sosok yang dimuliakan berarti mengorientasikan seluruh hidupnya pada roh yang dihidupi sosok yang dimuliakan itu.

Ya Allah, mohon rahmat untuk mengenali kerinduan terdalam, hidup seturut teladan junjungan kami. Amin.


SABTU PASKA VI
Peringatan S. Yustinus Martir
1 Juni 2019

Kis 18,23-28
Yoh 16,23b-28

Posting 2018: Doa Kerja 3.0
Posting 2017: God Loves You

Posting 2016:
Aaaaamiiiiiiinnnnnn…

Posting 2015: Isra’ Mi’raj nan Meneguhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s