Perempuan Itu Lagi

Saya selalu kagum terhadap penghafal Alquran karena sadar diri bahwa kemampuan memori saya semakin merosot. Saya mengerti, menghafal Alquran dan menghidupi Alquran adalah dua hal yang berbeda tetapi toh tetap saja saya kagum pada mereka yang hafal dan mengingat seluruh ayat Alquran (enam ribuan ayat). Tak bisa saya bayangkan kalau ada orang Katolik yang hafal Kitab Sucinya secara utuh (yang saya kira jumlah ayatnya lima sampai enam kali lipat ayat Alquran). Saya bisa geleng kepala sampai tak balik ke posisi semula itu!

Kenapa? Saya bisa bertanya kepada orang Katolik penghafal Kitab Sucinya: apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih berguna untuk membuang-buang waktu daripada menghafal Kitab Sucinya?Mengapa? Karena Kitab Sucinya bukan seperti Alquran, yang adalah wahyu Allah sendiri, untuk apa dihafalkan kalau dia bukan mahasiswa jurusan Kitab Suci [lha wong teman saya ahli Kitab Suci saja tak hafal seluruh Kitab Suci jé]?
Weh weh weh, Romo ini mulai nyêlênèh lagi! Jadi Romo menganggap Kitab Suci orang Katolik itu bukan wahyu Allah? Iya, mau apa lo?!😂
Coba bayangkan saja, ngapain Allah menyampaikan story telling tentang perjalanan Paulus atau membocorkan surat-suratnya (yang bisa disimpan oleh asistennya sendiri)?
Anda tersesat kalau meyakini bahwa Kitab Suci orang Katolik itu adalah wahyu Allah seperti Alquran. Dengan demikian, tidak fair juga kalau Anda membanding-bandingkan kebenaran Alquran dan Kitab Suci orang Katolik, ha wong beda fungsinya kok.

Loh ini kok jadi pelajaran Kitab Suci sih?😂 Maaf, tadi sampai mana ya?
O ya, saya kagum kepada penghafal Alquran dan karena itu juga saya kagum terhadap perempuan yang dirayakan Gereja Katolik hari ini: Maria yang mengunjungi Elisabet.
Augustinus pernah berkata, entah di mana dan kapan, bahwa Maria mengandung bayi Yesus dua kali. Pertama, mengandungnya dalam iman dan, kedua, dalam rahimnya. Tanpa iman kepada Allahnya, Maria tak akan mengandung Yesus dalam rahimnya. Ini memang hidup yang seakan-akan begitu utopis jika dibandingkan kenyataan hidup yang berkebalikan dengan hidup Maria: mengandung dalam rahim dulu, baru kemudian berjibaku untuk beriman sambil meratap, kalau tidak mengajukan protes ke MK #eh atau bahkan menghabisi hidup makhluk yang innocent itu. Lah ngelantur lagi.

Di hadapan teks bacaan hari ini saya cuma geleng-geleng kepala kagum terhadap Maria yang malah jadi seperti Kitab Suci berjalan. Kidung pujian yang disampaikannya itu adalah kompilasi cuplikan-cuplikan Kitab Suci: Kitab Samuel, Mazmur, Yesaya, Ayub, Mikha. Tentu saja, barangkali itu tak diucapkan oleh Maria sendiri karena teks ini kan ditulis oleh penginjil Lukas. Akan tetapi, apa sih susahnya mengingat sembilan ayat itu dibanding menghafal enam ribuan ayat tadi?

Saya tidak sedang menyodorkan soal kemampuan menghafal, tetapi soal menjadi pribadi yang menghidupi kidung pujian ini. Seperti Bunda Maria ini mengandung dalam iman dan rahim, kidung pujiannya juga sebetulnya mengantisipasi proyek yang dihidupi anaknya, Guru dari Nazareth. Perempuan ini, Bunda Maria, jadi Kitab Suci berjalan, karena ia mulai dengan iman dan muaranya adalah hidup kerahiman ilahi dalam kebertubuhannya. Semoga kita semua diberi rahmat untuk meneladannya. Amin.


PESTA SP MARIA MENGUNJUNGI ELISABET
(Jumat Paska VI C/1)
31 Mei 2019

Zef 3,14-18
Luk 1,39-56

Posting 2018: Ngapel Siaga
Posting 2017: Anak Fantasi Indonesia

Posting 2016: Siapa Sakit Jiwa?
 

Posting 2014: Per Mariam ad Iesum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s