Ngapel Siaga

Berhubung hari ini saya bangun kesiangan (padahal jam tiga kurang sedikit loh!) dan langsung lanjut bikin paper (yang bisa pikin baper orang), sudah tak sempat lagi mengetik catatan di pagi hari. Biar tidak mindhon gaweni, hitung-hitung mengumpulkan apa yang sudah dibaca, saya bocorkan sedikit catatannya deh, soalnya ada hubungannya dengan pesta hari ini: Maria mengunjungi Elisabet yang sama-sama mengandung. 

Kidung Magnificat yang diserukan Maria dalam bacaan hari ini kiranya dikenangkan juga oleh Nabi Muhammad yang menyampaikan Surat Ali ‘Imran ayat 26, yang konon terjemahannya begini: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Tentu saya menyitir ayat itu bukan untuk menyinggung Harya Sengkuni yang menunjuk pemimpin yang akan dilengserkan Allah. Pernyataannya itu benar kok, orangnya aja yang gabener, hahaha.
Saya baru belakangan ini membaca 98 ayat Surat Maryam dan baru sadarlah saya bahwa dalam Kitab Suci Kristiani itu sedikit sekali yang menyinggung Maria, ibu Yesus. Anehnya, dalam Gereja Katolik ada banyak sekali ajaran mengenai Maria dengan berbagai macam gelar yang disematkan kepadanya. Kok bisa ya? 
Ya bisalah, tetapi saya tidak mau membahasnya. Singkatnya, itu karena posisi sentral Yesus, sehingga Maria tersangkut.

Ada kisah dari Quran yang baru saya dengar mengenai Bunda Maria: ia menepi dan bertemu malaikat yang memberi kabar bahwa ia akan mengandung anak laki-laki, lalu pergi mengasingkan diri saat mengandung dan akhirnya melahirkan anaknya sendirian di bawah pohon kurma, lalu ketika kembali ke kampungnya, orang-orang mencelanya, tetapi ia dibela oleh putranya yang masih bayi.

Keterangannya panjang lebar, tetapi yang meneguhkan saya ialah sosok Maria ini begitu lain daripada perempuan-perempuan pada umumnya. Ia sangat otonom, tidak punya inferioritas terhadap laki-laki dan yang memungkinkan itu semua ialah karena ia sepenuhnya mengandalkan hidup pada penyelenggaraan Allah. Bisa begitu ya? Karena komitmennya pada kemurnian sejak awal memang sudah kuat. Sewaktu ia didatangi malaikat, ia menegaskan supaya malaikat itu berhati-hati karena ia hanya berlindung kepada Allah dan bahkan ia mengingatkan malaikat itu supaya takut akan Allah dan berlindung pada-Nya (ya maklum, belum tahu kalau laki-laki itu ternyata malaikat).

Sewaktu pulang kampung, karena ia juga sudah berkomitmen untuk tidak buka mulut kepada orang lain, meskipun orang mencelanya, ia tetap diam, dan mengundang orang untuk melihat bayinya, dan saat itu juga mukjizat terjadi: sang bayi memuliakan Maria.

Pujian kepada Allah, ketergantungan hidup kepada-Nya, komitmen hidup yang terarah semata kepada-Nya, rupanya memungkinkan Allah sendiri campur tangan dalam hidup orang bermartabat seperti Bunda Maria.

Semoga semakin banyak perempuan dan laki-laki yang mengikuti model Maria, yang ngapel saudaranya untuk memberi peneguhan akan kebesaran Allah. Dengan demikian, bulan Maria diakhiri sebagai pe er untuk saling berkunjung dengan agenda magnificat. Siyaaaap. Amin.


PESTA SP MARIA MENGUNJUNGI ELISABET
(Kamis Biasa VIII B/2)
31 Mei 2018

Zef 3,14-18
Luk 1,39-56

Posting 2017: Anak Fantasi Indonesia
Posting 2016: Siapa Sakit Jiwa?
 

Posting 2014: Per Mariam ad Iesum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s