Tiga Kali Salah

Saya punya senior yang punya prinsip yang punya angka tiga punya [opo maneh punya-punya melulu’]. Kalau dimintai konsultasi untuk membantu orang menghadapi masalah hidupnya, ia cuma memberi tiga kali pertemuan. Alasannya, menurut saya masuk akal juga, itu mengapa saya terapkan: kalau tiga kali orang itu tak terbantu, berarti memang saya tak punya kompetensi untuk membantunya dengan pertemuan-pertemuan konsultasi itu.

Angka tiga juga mungkin bisa jadi batasan seberapa perlu orang menegur sesamanya yang memilih jalan sesat: kalau sudah tiga kali peringatan tak digubris, lebih baik ingat nasihat yang dikutip Tony de Mello: jangan membangunkan babi yang tidur! Kalau diterjemahkan di dunia kerja: pecat!

Kalau diterjemahkan dalam hidup berkeluarga gimana, Mo? Misalnya sudah tiga kali selingkuh? Hahaha…. Saya komennya begini aja: sudah berapa kali sih kita selingkuh terhadap Allah yang benar-benar mencintai kita tanpa pamrih?
Jangan-jangan kita itu ya seperti para murid hari ini yang sudah diberi tahu tiga kali mengenai nasib Mesias tapi gak kunjung paham dan ngotot dengan agenda pribadi masing-masing.

Piye jal, sudah dikasih tahu bahwa kalau orang mau sungguh beriman, hidupnya di mata dunia ini rekasa, mesti dibenci banyak orangnya. Orang jujur dibenci koruptor. Orang sabar dibenci provokator. Orang adil dimusuhi orang gila kekuasaan. Orang sederhana bikin sirik orang borju bin tajir, dan seterusnya. Eh, jebulnya murid-murid itu masih kepikiran untuk mencari posisi terhormat #2019gantipresiden! Bukan soal mau jadi presidennya, melainkan soal agenda pribadi dan ngotot bahwa orang lain tak boleh melayani kepentingan publik. Murid-murid ini gak mutu tenan og.
Salah, Rom, mereka ya bermutu, cuma rendah aja.

Yang mutunya tinggi gimana emangnya? Sepertinya sudah lebih dari tiga kali dikatakan: jadikanlah posisi atau status impian itu sebagai sarana untuk perwujudan bonum commune. Ini sekurang-kurangnya diniati oleh Mohammad Salah, pemain Liverpool berkebangsaan Mesir itu, yang katanya ingin mencari sebanyak-banyaknya uang supaya bisa membantu orang banyak. Artinya, uang banyak itu bukan tujuan akhirnya, melainkan pengabdian terhadap kepentingan mereka yang membutuhkan. Tentu, itu idealnya. Akan tetapi, apa salahnya memiliki ideal yang baik, kan?

Dengan demikian, catatan hari ini bisa dikembalikan lagi ke bacaan dua hari lalu: kepemimpinan berguna sejauh melayani kepentingan mereka yang dipimpin. Kepemimpinan macam ini tak mungkin dijalankan oleh mereka yang mencari keselamatan individual, kesalehan privat, dan kesucian narsistik.

Tuhan, mohon rahmat supaya di bulan suci ini kami semakin mampu menginternalisasikan nilai pelayanan lebih daripada mengumbar nafsu kesucian narsistik kami. Amin.


RABU BIASA VIII B/2
30 Mei 2018

1Ptr 1,18-25
Mrk 10,32-45

Rabu Biasa VIII C/2 2016: Bagi-bagi Pahala Dong 
Rabu Biasa VIII B/1 2015: Jangan Tuntut Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s