Semoga Bahagia

Tiada perlindungan yang aman di dunia ini selain Dharma yang dipraktikkan secara tulus. Begitu kiranya keyakinan yang boleh dipegang untuk merayakan kelahiran Buddha dalam kemanusiaan di dunia ini.

Berhubung saya bukan ahli tentang Dharma (janjane ya tentang apa pun sih), saya cuma bisa menangkapnya dari perspektif Azas dan Dasar yang disodorkan St. Ignatius dari Loyola. Isinya relatif bisa dikompromikan, kecuali bahwa dalam Azas dan Dasar ada kenyataan teologis yang disisipkan, dan itu maklum, karena perumusnya mendekati eksistensi Allah secara positif (menyebut Allah dan ciptaan).

Yang menarik justru keterangan cara (ketulusan) yang disodorkan di situ: logika kemurahan hati. Menarik, karena sederhana sekaligus sulit. Sederhana, karena kuncinya ada dalam hati. Sulit, karena menuntut pembongkaran logika budi. Biasanya orang jatuh pada salah satu kutub: hatinya damai tenang karena tak peduli pada ketidakadilan (juga yang dibuatnya sendiri) atau pikirannya moncer tetapi hatinya gak karuan.

Para murid yang berempati dengan kedatangan orang kaya yang hendak mencari kebahagiaan sejati itu akhirnya berefleksi diri: orang mesti detach dari segala kelekatan hidup supaya bisa mengikuti Guru dari Nazareth ini. Kalau sudah detach dari kelekatan dan mengikuti si Guru ini, njuk apa yang bisa diharapkan?

Persis dalam pertanyaan itu logika kemurahan hati disingkirkan. Mereka lupa bahwa detachment itu pada dirinya sudah merupakan ‘upah’ yang bisa diharapkan. Kalau tidak, bisa jadi malah harapan berubah jadi attachment alias kelekatan.

Gak ngerti, Rom.
Andaikanlah Anda berniat baik memberi contoh supaya orang lain juga bekerja giat. Anda akan bekerja giat secara tulus sampai Anda mengeluh bahwa orang lain tak kunjung bekerja giat. Di situ, “kerja giat orang lain” menjadi attachment dan membuat Anda tidak bahagia. Yang semula merupakan harapan (bahwa orang lain giat bekerja juga) njuk berubah jadi  norma (seharusnya orang lain giat bekerja juga). Alhasil, logika kemurahan hati ancur dan yang dibangun malah logika kemarahan hati atau kemarukan (rakus) hati.

Hal yang sama berlaku untuk hidup beragama. Tak sedikit orang beragama yang tidak happy justru karena kelekatan terhadap agamanya sendiri. Mentang-mentang agama yang dihidupinya jadi jalan terbaik, orang mendesak sesama untuk mengikutinya, untuk memeluk agama yang sama, lupa bahwa setiap orang punya ukuran kenyamanannya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat kemurahan hati-Mu, supaya semua makhluk berbahagia. Amin.


SELASA BIASA VIII C/2
Hari Raya Waisak
29 Mei 2018

1Ptr 1,10-16
Mrk 10,28-31

Selasa Biasa VIII A/1 2017: Manusia Sampah
Selasa Biasa VIII C/2 2016: Kirik Nan Suci
Selasa Biasa VIII B/1 2015: Apa Upahnya?

Selasa Biasa VIII A/2 2014: Sense of Security

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s