Will You Walk Alone?

Terhentinya Salah setelah dua per tiga babak pertama final Champions League kemarin jelas memengaruhi jalannya pertandingan bal-balan level tertinggi Eropa itu. Skema pressing dan serangan yang semestinya melibatkan Salah jadi tumpul dan lawan yang ditugasi menjaga Salah lebih leluasa pergerakannya. Tidak hanya itu, secara psikis, absennya Salah juga berpengaruh pada performa kiper (yang karena darah Jermannya saya bersimpati). Blunder satu dilakukannya, dan karena tertekan oleh blunder pertama itu, blunder kedua terjadi.

Yang menarik perhatian saya bukan kemenangan tim Toni Kroos atas tim asuhan Jürgen Klopp. Setelah Salah out (posisi saya jadi netral meskipun dalam hati saya tak suka perilaku gulat teman setim Toni Kroos). Saya kehilangan selera menontonnya (lha piye jal, bal-balan antraklub kok membela Jerman, hahaha…. santai aja Bro’, jangan mempermainkan permainanwong Jerman kalah saja dunia jalan terus kok; tur nek Jerman menang ae awakmu entuk apa? Rasa senang, puas, bangga? They come and go).

Yang menarik saya justru refleksi (bukan renungan) beberapa supporter tim Liverpool terhadap ayat sucinya, YWNWA: You will never walk alone. Poinnya ialah, kalau roh YWNWA itu sungguh dihidupi, tak semestinya Karius, sang kiper muda dengan dua blunder, dibiarkan berjalan sendiri meninggalkan lapangan tanpa hiburan teman setim, malah dihibur oleh tim lawan. Sedemikian rupa sehingga si supporter ini menuliskan: You’ll never walk alone…unless you are Karius

Itu menohok sekali, bukan hanya untuk Karius, rekan setim dan supporter lain, melainkan juga untuk pembaca teks kisah hari ini. Kalau hidup manusia ini seperti pertandingan, spirit YWNWA tadi semestinya bisa diterjemahkan sebagai slogan ‘menang bersama-sama, kalah ya bersama-sama’. Poin pentingnya kebersamaan atau kolektivitas. Meskipun demikian, kolektivitas tidak identik dengan penggabungan individu-individu, seakan-akan ia terbangun begitu saja dalam aktivitas kolektif. Pada kenyataannya, jika pengamatan supporter tadi benar, Karius dan timnya belum ada dalam spirit kolektivitas tadi meskipun sudah main bersama-sama.

Orang kaya yang menghampiri Yesus dalam bacaan hari ini tampak sungguh tulus ingin mencapai kebahagiaan sejati dan Yesus memberi konfirmasi bahwa jalan pertama untuk itu memang adalah menjalankan perintah agama. Sebetulnya tanpa menjalankan perintah agama pun, orang bisa saja bergerak maju, tetapi gerak majunya tak terarah pada kepenuhan kebahagiaan sejati tadi. Orang kaya itu sudah menjalankan seluruh perintah agama, tetapi belum didapatinya kebahagiaan sejati.

Di situlah sang guru dari Nazaret menunjukkan poin krusialnya: cuma kurang satu hal, jual hartamu, berikan pada orang miskin, lalu ikutilah aku. Orang kaya itu ngeloyor pergi karena hartanya banyak. Di situ kelihatan ia hendak mencari kebahagiaan narcistik, mencari keselamatan bagi dirinya sendiri dan ironisnya, sulitlah bagi orang seperti ini mendapatkan kebahagiaan sejati meskipun hidup keagamaannya baik. Ia mau berjalan sendiri, mendapatkan kebahagiaannya sendiri, mencari selamat sendiri.

Individualisme tetap bisa bercokol juga dalam kerumunan orang yang beribadat, dalam agama, dalam kerohanian. Di situ, yang dibangun bukan lagi kesucian sejati, melainkan kesucian narsistik, yang jelas tak mengantar orang pada keselamatan.

Tuhan, bebaskanlah kami dari individualisme. Amin.


SENIN BIASA VIII B/2
28 Mei 2018

1Ptr 1,3-9
Mrk 10,17-27

Senin Biasa VIII A/1 2107: Kurang Satu Ons Doang
Senin Biasa VIII C/2 2016: Cinta Absensi
Senin Biasa VIII B/1 2015: Lebay sama Hukum

Senin Biasa VIII A/2 2014: Go Out Of The Box

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s