Puasa, Berkah atau Musibah

Melanjutkan posting kemarin yang menyoal seputar bom keluarga: dalam perbedaan, naluri kemanusiaan dibangun dan dengan begitu naluri keagamaan mendapatkan relevansinya. Tanpa naluri kemanusiaan, naluri keagamaan hanyalah manifestasi arogansi yang memecah belah kemanusiaan.

Maka dari itu, naluri keagamaan semestinya senantiasa disinkronkan dengan naluri kemanusiaan. Dengan kata lain, itulah artinya bahwa sebelum orang jadi Katolik, Islam, Hindu, Buddha, dan sebagainya, hendaknya orang jadi manusia dulu. Naluri keagamaan mengabdi naluri kemanusiaan, bukan sebaliknya. Konsekuensinya, agama sudah sewajarnya memberikan perspektif yang dapat meneguhkan makna kemanusiaan universal.

Aksi anggota korps Polri yang menyelamatkan anak terduga teroris kiranya bisa dipakai sebagai titik tolak untuk mengerti apa yang dirayakan Gereja Katolik hari ini: Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Ini sama sekali bukan upaya apologetik, membela kebenaran dogma tentang Allah Tritunggal. Sudah jamak diketahui orang bahwa tak seorang pun bisa membela Allah; Dia bisa membela Diri sendiri bahkan meskipun tak ikut kursus bela diri. Naluri keagamaan yang saya sodorkan di sini adalah untuk memberi suatu perspektif kemanusiaan dari sudut pandang Kristiani.

Pertanyaan retorik pertama saya: dari manakah naluri ‘kebapakan’ anggota Polri itu kalau bukan dari Roh sendiri? Juga sewaktu diwawancarai tidak tampak kesan bahwa bapak ini melakukan aksinya untuk mendapatkan promosi. Naluri ‘kebapakan’ tidak muncul dari motif untuk memenuhi kebutuhan achievement, prestasi. Beliau dengan jelas menyebut bahwa ia punya anak dan karena itu naluri ‘kebapakan’ bicara. 

Kedua: apakah tindakannya itu dilakukan untuk menyelamatkan anaknya sendiri? Jelas tidak. Yang diselamatkan bukan anaknya, melainkan anak terduga teroris. Objek naluri kemanusiaannya bukan dirinya sendiri, bukan anaknya sendiri, bukan keluarganya sendiri, bukan agamanya sendiri, dan seterusnya. Dengan begitu, naluri kemanusiaan dari Roh itu senantiasa terarah kepada ‘yang lain’.

Dalam perspektif Kristiani, naluri kemanusiaan macam itu secara definitif hadir dalam diri Yesus dari Nazareth, yang memberikan diri sampai ujung hidupnya, dan kemudian bangkit. Inilah naluri keagamaan (Kristen) yang tentu berbeda dari naluri keagamaan lain, dan itu fine. Misteri Allah Tritunggal ya ‘cuma’ itu tadi: hidup satu bagi yang lainnya dalam keyakinan kepada satu-satunya Allah yang memampukan ciptaan-Nya hidup dalam Roh karena Yesus yang wafat dan bangkit itu.

Dengan begitu, naluri kemanusiaan orang Kristiani, sama seperti naluri kemanusiaan orang lainnya, adalah soal hidup bagi ‘yang lain’ karena kekuatan ‘Yang Lain’ itu. Kalau orang sungguh menghayati gaya hidup macam itu, apapun agamanya, ia masuk dalam misteri Allah Tritunggal.
Anda tahu apa yang masuk dalam benak saya? Tentu tidak (padahal sudah saya beri clue dengan judul posting ini – emang gw pikirin, Mo). Seorang penjual makanan yang menjalankan ibadah puasanya dan tetap melayani pembeli yang tak berpuasa dengan gembira hati, bukan dengan gerutu. Ia mendapat pahalanya dalam kegembiraan hati melayani sementara mengarahkan hidupnya kepada Allah, bukan demi kesalehan pribadinya. Begitulah, puasa sungguh jadi berkah, bukan musibah bagi ‘yang lain’. 

Tuhan, semoga kami hidup seturut Roh Kudus-Mu bagi ‘yang lain’, bukan diri kami sendiri. Amin.


HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS B/2
Minggu, 27 Mei 2018

Ul 4,32-34.39-40
Rm 8,14-17
Mat 28,16-20

Posting 2015: Manusia Tritunggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s