Naluri Keagamaan?

Hati siapakah yang tak hancur melihat seorang anak dilibatkan dalam bom bunuh diri? Hati siapakah yang tak nelangsa melihat kepolosan anak dimanipulasi gelojoh kekuasaan? Dalam hati siapakah perasaan geram dan marah tak muncul melihat keluguan anak diperalat nafsu kekuasaan? Jawabannya sama dan sekarang kita bisa menyelisik diri seberapa jauh benih-benih terorisme ada pada diri setiap orang.

Jika teks hari ini bicara soal membiarkan anak-anak datang kepada Tuhan, barangkali gambaran terbaik belakangan ini adalah yang dilakukan seorang anggota korps kepolisian yang markasnya jadi sasaran peledakan bom. Ada naluri kebapakan yang mendorongnya untuk menyelamatkan anak terduga teroris. Sebetulnya bukan soal naluri kebapakan sih karena bisa jadi perempuan pun punya naluri yang sama.

Dari kasus bom keluarga itu dapat dipahami bahwa membiarkan anak datang kepada Tuhan bukan soal melibatkan anak pada keyakinan orang tuanya. Ini bukan soal kepatuhan atau bakti kepada orang tua. Bukan pula menundukkan anak di bawah keinginan orang tua (yang bisa sesat). Maka, membiarkan anak datang kepada Tuhan bahkan tidak sama dengan memaksakan keyakinan atau agama kepada anak.

Nah looo, berarti Romo mengingkari janji perkawinan Katolik sendiri ya? Lha saya gak janji yo! Saya cuma menyaksikan dan meneguhkan orang lain berjanji, hahaha. Lagipula, bukankah janji perkawinan Katolik itu bunyinya bahwa ortu mendidik anak-anak menjadi orang Katolik yang setia? Tahukah Anda artinya ‘menjadi orang Katolik’?
Lha rak tenan to, mesti Anda hubung-hubungkan langsung dengan agama Katolik, tepok jidat ala seorang kawan guru bahasa Indonesia saia!
Lho memangnya salah, Mo?
Saya gak bilang gitu, tetapi kalau frase itu Anda reduksi sebagai persoalan ‘beragama Katolik’ belaka, semakin hancurlah hati saya karena agama Katolik rupanya justru menghalang-halangi orang, bukan cuma anak-anak, untuk datang kepada Tuhan!

Sekarang mari kembali ke kasus bom keluarga tadi. Katakanlah agamanya ngisis (karena rupanya tak ada agama yang mau menyatakan bertanggung jawab atas aksi keluarga itu). Pertama, jawablah pertanyaan apakah aksi bom keluarga itu bisa dibenarkan. Kalau Anda jawab bisa, dunia kita berbeda. Kalau Anda jawab tidak, apakah dalam kacamata janji perkawinan tadi, ortu itu berhasil mendidik anak mereka menjadi orang ngisis?
Berhasil, Rom, tetapi itu karena agamanya ngisis, bukan agama Katolik. Agama Katolik tidak mengajarkan kekerasan, eaaaaa.
Berarti menurut Anda, agama ngisis sesat, bukan? Tolok ukurnya? Agama Katolik? Kalau begitu, hal yang sama bisa berlaku bagi agama ngisis, mereka menilai agama Katolik sesat. Njuk gimana ceritanya kalau masing-masing agama memakai tolok ukurnya sendiri untuk menilai agama lain?

Tolok ukur semestinya mengatasi sekat agama: naluri kemanusiaan tadi itu. Itulah artinya ‘mendidik anak menjadi orang Katolik’: membangun naluri kemanusiaannya berdasarkan perspektif Katolik, entah anak itu (kelak) beragama Katolik atau tidak.
Loh, kalau kelak anak itu pindah agama, berarti gagal dong pendidikannya? Gak juga, lagipula janji Anda ‘hanya’ mendidik bukan seperti menyeret anak ikut ngisis.

Barangkali jauh lebih banyak orang termakan naluri keagamaan lebih daripada naluri kemanusiaan. Dalam ranah publik, dalam keberbedaan, semestinya naluri kemanusiaan yang dipertajam, bukan naluri keagamaan.

Tuhan, mohon rahmat, semoga naluri kemanusiaan kami tak dirusak naluri keagamaan. Amin.


SABTU BIASA VII B/2
Pw. S. Filipus Neri
26 Mei 2018

Yak 5,13-20
Mrk 10,13-16

Posting 2016: Abis Nangis Ketawa 
Posting 2014: Dio, Dammi La Mano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s