Ceraikan Aku Dong

Zaman sekarang ini yang bisa menuntut cerai tidak hanya laki-laki, tetapi perempuan juga bisa, meskipun yang bisa menceraikan istri tetaplah suami #loh.

Zaman Yesus itu praktik perceraian ya lumrah, bahkan perceraian dilegitimasi dengan hukum Musa belasan abad sebelumnya, ketika masyarakatnya masih nomaden dan begitu diskriminatif terhadap kaum hahawawa. Cuma laki-laki yang bisa menceraikan pasangannya (yang adalah perempuan), memulangkan pada orang tuanya karena ketidakpuasan atas kesepakatan yang telah mereka buat a.k.a. kontrak sosial mereka. Tentu, cinta sejati tak terkuak baik-baik di situ, tapi sekurang-kurangnya konflik sosial bisa dikendalikan dengan aturan tertentu. 

Yesus punya pandangan yang sangat tidak populer, yang oleh Gereja Katolik diterjemahkan sebagai cinta pasutri dalam untung dan malang selamanya sebagaimana Tuhan mencintai manusia selamanya, dalam untung-malang, atau untung-rugi kali ya. Idenya sih sama, supaya institusi perkawinan itu gak jadi liar, tetapi sudut pandangnya memang berbeda. Dalam Gereja Katolik, juga dalam agama lain, perkawinan bukan semata kontrak sosial antara dua insan, antara dua keluarga besar, dengan masyarakat, dan seterusnya. Kontrak sosial itu disisipi dengan relasi ‘vertikal’ alias dimensi rohani, relasi orang-orangnya dengan Allah yang mereka imani.

Apa dengan begitu njuk kontrak sosial itu mulus lancar jaya? Ya bergantung pada orang-orangnya yang terlibat di situ toh. Nyatanya, dalam Gereja Katolik pun ada saja yang bercerai meskipun secara formal syarat perkawinan terpenuhi. Betul, dalam perkawinan dua orang Katolik, perceraian itu hanyalah bahasa lain dari ‘pisah ranjang’, karena ikatan perkawinan yang ditambatkan pada relasi ‘vertikal’ takkan terlepas. Maka, dalam perspektif itu, perceraian cuma mau menegaskan bahwa orang menolak relasi ‘verikal’ itu. Jangan mengharapkan Gereja Katolik mengizinkan perceraian ya.

Loh, kalau ternyata pasangan yang dinikahi itu berubah total dari sebelum perkawinan gimana, Rom? Bukankah itu penipuan, dan dengan demikian membuat perkawinan Katolik tidak sah? Haiya, mau ambil contoh KDRT gitu? Iya, misalnya dulu orangnya halus banget, sopan, lembut, tahu-tahu setelah married berubah jadi kasar dan main tangan. Lha, berarti rak itu terjadi karena perkawinan dengan Anda (mosok dengan saya), hahaha…. jadi Anda ikut di dalamnya, mengubah pasangan Anda.

Romo ini pembela KDRT rupanya.
Lah kok kesimpulannya gitu sih, kamu jahat. Saya cuma mengundang Anda melihat persoalannya. Kalau perubahan terjadi setelah hari pertama married, kiranya terjadi karena yang married itu saling memengaruhi. Kalau perubahannya negatif, itu bagian ‘malang’-nya. Katanya mau mencinta dalam untung dan malang, haiyaaaa.

Tapi beneran, Mo, kalau terjadi KDRT mosok dibiarkan begitu aja sih? Lha saya juga gak bilang membiarkan begitu aja kok. Kalau memang terjadi KDRT yang tak tertanggungkan, ya pisah ranjang saja toh? Kalau mau dapat perlindungan hukum sipil, ya pisah ranjangnya dilegalkan, tapi itu bukan alasan untuk membatalkan perkawinan yang sudah terjadi, apalagi jadi landasan untuk kawin lari, eh kawin lagi!

Wis, wegah aku mbahas. Wong aku ya ora nglakoni lan paper akhirku ki durung rampung, mosok malah rembug bab mantenan, hahaha…. lha wong emang bacaannya soal perceraian kok, Rom. Romo ki piye ta kok pethuk?

Tuhan, mohon rahmat kesetiaan pada Sabda-Mu yang meneguhkan kami untuk mencintai sesama sebaik-baiknya. Amin.


JUMAT BIASA VII B/2
25 Mei 2018

Yak 5,9-12
Mrk 10,1-12

Posting 2016: Coba Suspensi Ah
Posting 2014: Being Patient, Being A Patient

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s