Saling Memiliki Dodol

Bukan logika kepemilikan yang membahagiakan hidup orang. Juga bukan akumulasi modal. Kenapa ya? Karena kebahagiaan memang ranahnya berbeda. Akumulasi kepemilikan itu mengabdi pada kepentingan fisik orang: butuh pangan, sandang, papan. Tentu bisa memengaruhi kebahagiaan orang, tetapi pada prinsipnya yang diabdi adalah kepentingan fisik tadi. Kebahagiaan punya arah yang berbeda dari logika kepemilikan tadi karena yang diabdinya bukan kepentingan fisik.

Saya punya tetangga yang kerja di bank. Duitnya mesti banyak, duit banknya, haha… Tapi duitnya sendiri juga banyak sih makanya bisa plesir ke mancanegara. Tidak sangat banyak karena cuma bisa plesir sendirian. Yang mengharukan ialah refleksi singkatnya mengenai petualangan anak jomblo ini. Banyak yang iba mempertanyakan bahwa dia berjalan sendirian, gak ada yang moto’in. Tapi jawaban refleksinya mencerminkan anak jomblo ini punya semangat kemiskinan: mengandalkan Allah sendiri dalam kehidupannya. Katanya banyak malaikat tak bersayap (lha emangnya malaikat bersayap po? Buat apa? Mosok buat selfie). Gak tau jalan bisa tanya polisi, susah berswafoto tinggal minta tolong orang di sekitar. 

“Hendaklah kamu selalu punya garam dalam dirimu dan selalu hidup saling berdamai.”

Trus kok contohnya anak jomblo, apa jangan-jangan semangat kemiskinan itu cuma berlaku bagi yang jomblo seperti Romo itu ya?
Gak jugalah. Mereka yang berkeluarga itu happy bukan dengan logika kepemilikan romantis alay ‘saling memiliki’. Untuk sebuah lagu bolehlah ‘kita saling memiliki’, tetapi de facto tak ada orang yang saling memiliki. Saling memiliki dodol(ipret) mungkin. Siapa sih yang bisa memiliki jiwa orang kalau bukan pembuatnya? Bayangkanlah kalau jiwa Anda dimiliki orang lain, Anda mesti tidak merdeka. Anda tidak otonom, melainkan heteronom, dan Anda tidak bebas, tergantung pada otoritas di luar Anda alias tak bisa mengambil keputusan sendiri.

Juga dalam perkawinan, bukan logika kepemilikan yang mengantar orang menuju pintu gerbang kemerdekaan, melainkan justru logika berbagi, dan tak ada logika berbagi kalau tak ada komitmen hidup perkawinan itu. Logika kepemilikan mengantar orang pada saling curiga dan cemburu, logika berbagi memungkinkan orang jadi komunikatif dan saling meneguhkan. Kalau gak percaya ya coba saja terapkan sendiri.

Saya mah percaya aja, soalnya saya mendengar banyak dari mereka yang sudah katam dalam hidup berkeluarga dan dari yang saya dengar itu bisa dimengerti kalau modal orang untuk married adalah logika kepemilikan, alamat cek-cok dan ancurlah rumah tangga itu. Ya gapapa Mo, kan bisa cari pasangan lain. Haiya sumonggo kalau Anda happy dengan itu dan tutup mata pada luka batin yang tercipta karenanya. 

“Hendaklah kamu selalu punya garam dalam dirimu dan selalu hidup saling berdamai.” 

Ya Allah, mohon rahmat kekuatan untuk berani mengandalkan Engkau semata dalam hidup kami. Amin.


KAMIS BIASA VII B/2
24 Mei 2018

Yak 5,1-6
Mrk 9,41-50

Posting 2016: Untung Miskin
Posting 2014: Living Sacrifice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s