Korupsi AMDG

Kemarin saya jumpa dengan Om saya yang dulu mengikhlaskan topinya di taksi. Sudah lupa kan ceritanya? Nih linknya. Dia cerita, sekarang di ibu kota ini, sejak si anu dipenjara, layanan transportasi umum tidak setertib dulu. Kalau ada penumpang komentar bahwa sopir itu sudah dibayar mestinya pelayanannya baik, tak perlu kejar setoran, Om saya bilang sebaliknya: justru karena sudah dijamin pendapatannya, ya sukak-sukak sopirnya mau ngêtèm atau berhenti di mana. 

Betul juga ya. Wong sudah dapat jaminan pasti kok, dan gada mekanisme kontrol, ngapain kerja tertib sih? Barangkali memang begitulah penyakit masyarakat: mau terima enak, gak mau gak enaknya. Bukan cuma sopir, tapi pegawai negeri juga bisa begitu, kepala dinas, walikota, gubernur, bahkan presiden. Eh… tapi kalau presiden ini sepertinya bukan tipe yang begitu sih, karena dia mau-mau aja tuh terima gak enaknya, hahaha… #2019gantipresidennegrilain.

Itu sepadan dengan sekelompok orang yang merasa sudah mendapat jaminan surga dan bidadara-bidadarinya. Seakan-akan kalau sudah menjalankan kewajiban yang ini itu pasti masuk surga. Kok lé gampang mên mlêbu swarga!

De facto, keyakinan macam itu dipegang banyak orang loh; jenis-jenis orang yang hidupnya tidak di dunia sini; ini keyakinan orang yang kemarin-kemarin saya katakan tercerabut dari dunia dan jadi manusia tribal. Mentalitas itu pulalah yang dihidupi para murid Yesus dari Nazaret. Sudah merasa pasti terhitung dalam bilangan rasul Tuhan, mereka melarang orang lain berbuat baik dengan mencatut nama guru mereka.

Kalau sungguh-sungguh kebaikan yang dilakukan orang, ia bisa mencatut siapa saja yang baik. Masalahnya tidak terletak pada catutnya, tetapi pada kebaikannya itu sendiri, pada ketulusannya.
Loh, ini bukan soal ketulusan, Mo! Ini konsistensi dan totalitas. Jangan maunya ambil enaknya dan gak terima gak enaknya dong. Kalau mau ikut Yesus ya total ikut dia, termasuk ikut jalan salibnya!

Hahaha, lha ya itu, murid mana atau rasul mana yang ikut Yesus itu di jalan penderitaannya? Gak ada, bukan? Kalau ada, paling cuma segelintir. Jadi, tak perlu membebani status kemuridan Yesus itu dengan kewajiban ini itu (yang seringkali juga cuma kesepakatan manusia sendiri atau sebutlah kontrak sosial). Yesus itu cuma memberi pedoman bahwa kalau orang lain tidak melawanmu, ia ada di pihakmu. Belum tentu ia mendukungmu (emangnya kamu Pancasila), tetapi pokoknya ia tidak melawanmu; itu artinya ia di pihakmu.

Jadi, apa problemnya orang mencatut nama baik agamamu, gurumu, presidenmu, untuk hal yang sungguh-sungguh baik, bener-bener baik? Gak ada, selain soal ketidaktulusan tadi: orang gak happy dengan dirinya sendiri, dengan jalan hidupnya sendiri, dengan pilihannya sendiri (yang mesti ada risiko enak gak enaknya), sehingga maunya mengatur orang lain supaya cocok dengan dirinya sendiri. Alamak, jangan-jangan itu malah jadi pertanda bahwa orang mau mencatut agama, Tuhan, dan lain-lainnya demi kepentingan nama baiknya sendiri, keuntungannya sendiri, masa depannya sendiri…

Kalau begitu, problemnya bukan catut, melainkan pencatutannya itu AMDG atau untuk wudelnya sendiri atau kelompoknya sendiri.
Oh, jadi korupsi asal AMDG boleh ya, Mo?
Apa saja, asal AMDG, siapa yang mau melarang? Tapi cèn AMDG ki angèl og. Piyé jal korupsi nan transparan dan akuntabel?

Tuhan, ajarilah kami AMDG. Amin.


RABU BIASA VII B/2
23 Mei 2018

Yak 4,13-17
Mrk 9,38-40

Posting 2016: Kebanyakan Monopoli
Posting 2014: Insha’Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s