Konflik Yang Berguna

Anda pernah mendengar nama Samuel Huntington? Kalau belum, cobalah fungsikan recorder pada smartphone [for dumb people?] Anda, rekamlah suara Anda, katakan Samuel Huntington, lalu Anda setel rekaman barusan. Krik krik krik….

Kata Samuel yang ini, perang dunia berikutnya, kalau ada, itu akan jadi perang peradaban. Dia tak percaya bahwa akan muncul keseragaman kultur di dunia sekarang ini, seperti tak mungkinlah semua orang memakai seragam merah putih, biru putih, dengan celana pendek pada warna merah atau biru. Samuel menyebut, kalau tak salah ingat, ada delapan peradaban yang bertarung. Nah, delapan itu apa, saya lupa, pokoknya delapan peradaban itu akan terus bertarung meskipun takkan mungkin bisa menyeragamkan peradaban seluruh dunia.

Teks hari ini menceritakan 12 peradaban yang direpresentasikan oleh dua belas rasul Yesus, yang ribut soal siapa di antara mereka yang terbesar. Padahal, menurut guru mereka ini, kebesaran tidak terletak pada berat badan atau lingkar perut atau produksi nuklir atau kecanggihan teknologi, melainkan pada bagaimana berat badan dan lain sebagainya itu jadi wujud kerendahan hati untuk menerima panggilan Tuhan dalam setiap hidup orang.

Jadi, kalau memang Allah menghendaki orang jadi kurus, mengapa mesti ribut-ribut dengan itu?
Ya persoalannya kan bukan bahwa Allah menghendaki si A gemuk dan si B kurus, Mo, melainkan kurus-gemuk itu cuma konsekuensi dari tugas utama atau bargaining dalam menemukan kehendak Allah.
Lha géné ngêrti

Akhirnya, Samuel Huntington mestinya juga tahu, tak mungkinlah Western membuat kultur dunia ini jadi tunggal, begitu juga Cina, Jepang, Afrika, Islam, Hindu, Ortodoks, atau Amerika Latin (nah, itu delapan Mo!). Yang ada, semua itu akan berinteraksi dan dalam interaksi itu semestinya orang menemukan bahwa melampaui kultur sempit mereka, setiap orang perlu dengan rendah hati mana nilai yang kiranya dirindukan manusia universal, bukan nilai sempit yang diidolakan manusia tribal.

Kalau orang mengira westernisasi itu paling unggul, ia mesti melihat ulang bahwa westernisasi itu dimungkinkan karena adanya southernisasi (itu loh lalu lintas perdagangan dan peradaban yang berpusat di India, misalnya). Filsafat, misalnya, dulu nongol dari wilayah Yunani, masuk ke dunia Arab, diterjemahkan, dibawa ke baratnya Yunani dan berkembang. Semua itu jadi soal saling memengaruhi.

Jadi, saling memengaruhi untuk menemukan yang baik bagi semua kiranya lebih afdol daripada seperti keributan para murid: menggunakan pengaruhnya untuk menguasai, mendominasi, dan sejenisnya. Main bom tentu tidak berada di ranah ini, begitu juga bentuk-bentuk kekerasan atau pemaksaan lainnya. Konflik yang melibatkan itu, dengan sendirinya tak berguna, karena menunjukkan bahwa orang-orangnya tak tersedia untuk rendah hati berpuasa untuk melihat hal yang lebih besar (atau berat, eaaaa).

Ya Allah, mohon rahmat kerendahan hati untuk saling belajar supaya kami sungguh menemukan kehendak-Mu lebih dari segala sesuatu. Amin.


SELASA BIASA VII B/2
22 Mei 2018

Yak 4,1-10
Mrk 9,30-37

Posting 2016: Cinta via Luka
Posting 2014: JOY, Jesus Others Yourselves

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s