Ngapain Putus Asa

Kalau orang putus asa alias putus harapan, apa yang bisa dilakukannya? Kalau Anda putus asa, apa yang Anda lakukan? 

Kalau saya putus asa, tak ada yang saya lakukan. Saya tak percaya ada orang yang melakukan sesuatu karena putus asa. Coba, mari pikir baik-baik [jangan merenung, tapi pikir]: orang bunuh diri itu katanya karena putus asa. Benarkah?

Saya pikir, orang bunuh diri itu pasti punya alasan, dan kalau alasan ada, berarti ada asa juga, ada harapan. Atau, adakah orang bunuh diri tanpa alasan? Kalau gada alasan, ngapain bunuh diri, jal? Ya gatau, Mo, pengen aja. Hahaha…. lagi pengen bunuh diri ajagitu? Lu kira nyawa lu ada serepnya di bagasi?

Saya kembali, tak ada orang yang melakukan sesuatu karena putus harapan. Kalau putus cinta, bisa jadi, eaaaa…. Jadi, frase ‘karena putus asa’, sebaiknya dijadikan bekal untuk berpikir lebih jauh: asanya ditaruh di mana, pada apa, pada siapa, dan seterusnya. Dengan begitu, akan kelihatan bahwa pokok persoalannya bukan pada tiadanya harapan atau asa, melainkan pada kepalsuan harapannya. Maka dari itu, saya lebih klop dengan penggemar harapan palsu atau pemelihara harapan palsu sebagai sumber masalah orang. Mau contoh konkret? Coba lihat Jkt 58, KJP: korban janji palsu, karena grup ini PHP itu tadi, penggemar dan pemelihara harapan palsu.

Nah, cerita hari ini menunjukkan ada orang yang tampaknya putus asa karena anaknya kerasukan syaiton. Sudah cari bantuan orang, tak bisa. Sudah menaruh harapan pada murid-murid Yesus, ternyata gak bisa juga. Si Yesus sepertinya mau memberi tausiyah, tapi keburu banyak orang datang, lalu syaiton itu diusirnya. Maksudnya, biar perbuatan coolnya itu tak jadi tontonan orang banyak.

Setelah pergi dari kerumunan orang banyak, murid-muridnya tanya kenapa mereka tak bisa mengusir syaiton itu dan dijawab bahwa jenis itu tak bisa diusir kecuali dengan berdoa. Saya tak hendak mempersoalkan bahwa murid-murid itu tak berdoa; barangkali itu juga terjadi pada Anda dan saya, gak berdoa selain menjalankan ritual kebiasaan ibadat.

Saya mau menyambungkan keputusasaan dan ujung kisah hari ini: doa. Caranya dengan menyodorkan nasihat sederhana. Kalau Anda putus asa, berdoa ‘saja’, karena doa itu salah satu sarana, manakala Anda tak bisa lagi berpikir jernih, untuk meletakkan harapan di tempat yang tepat. Lha, kalau Anda masih bisa berpikir jernih tapi putus asa [yang untuk saya adalah aneh], terserah lakukan apa saja, tetapi ya dipikir baik-baik: mengapa melakukan A dan bukan B, apa untung ruginya, apa yang diharapkan dari situ.

Nah, kalau bisa menjawab itu, berarti tidak putus asa lagi namanya, hahaha…. Tinggal menimbang-nimbang saja, apakah harapan akan hasil tertentu itu masuk akal atau termasuk amal. Syukur-syukur masuk akal dan amal. Jadi, ngapain putus asa, jal? Berdoa ‘saja’, kalau gak mau, ya mikir baik-baik.

Tuhan, mohon rahmat supaya mampu meletakkan harapan semata kepada penyelenggaraan-Mu. Amin.


SENIN BIASA VII B/2
21 Mei 2018

Yak 3,13-18
Mrk 9,14-29

Posting 2017: Lucunya Roh Jahat
Posting 2016: Sukak-sukak Gueh

Posting 2014: Prayer, Recognition of God’s Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s