LIMA

Apakah Anda tahu bahwa butir-butir Pancasila sekarang ini sudah beranak pinak jadi 45? Dulu saya cuma menghafalkan 36 butir dan sebelum ’98 sudah lupa apa saja butir itu. Tentu karena sudah terwujud dalam pikiran dan tindakan dong, hahaha. 

Tetapi ini serius, bukan soal gaji ratusan juta untuk mengurusi Pancasila (yang sebetulnya juga tak perlu-perlu amat jadi perdebatan) atau kembalinya penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) seperti zaman Orba. Film yang mulai tayang kemarin di jaringan bioskop yang orientasinya duit dan duit itu kiranya punya agenda untuk membuat Pancasila itu berbuah manis dan bukannya jadi agenda muanies tersembunyi. Maka, niat baik pembuatan film ini layak diapresiasi.

Semoga niat baik itu tidak bernasib seperti penataran P4 yang barangkali bisa dipadankan dengan cerita bacaan hari ini. Ceritanya si guru dari Nazareth itu mengutuk pohon ara yang tak berbuah, yang klop dengan kisah selanjutnya, mereka yang berbisnis busuk dengan tameng religius. Ha njuk hubungannya apa je, Rom, kok digathuk-gathukkan gitu?

Mereka yang berbisnis dengan tameng religius itu adalah kelompok orang yang suka dengan slogan religius, yang mirip-mirip dengan Pancasila gitu deh. Begitu jadi slogan, Pancasila gak beda dari tameng religius: yang penting labelnya, sampulnya, nama besarnya, jumlahnya, tapi bukan isinya. Itulah yang dikenal sebagai thin morality: baik-buruk, benar-salah. Jadi, ketuhanan YME tentu saja baik, tetapi apa itu artinya? Ini dituangkan misalnya ke dalam butir percaya dan takwa kepada Tuhan YME. 

Apakah percaya dan takwa kepada Tuhan YME itu ada isinya? Ya belum tentu. Lihatlah misalnya problematika pertama yang disodorkan film Lima itu. Apa artinya percaya dan takwa kepada Tuhan YME kalau untuk pemakaman orang tua saja mesti bertengkar lantaran beda aturan? Percaya dan takwa kepada Tuhan YME akhirnya jadi thin moralityGimana biar jadi thick morality?

Ya itulah yang disinggung guru dari Nazareth yang mengobrak-abrik lapak di Bait Allah: biarkanlah Bait Allah itu jadi rumah doa seperti seharusnya, bukan jadi ajang konspirasi bisnis. Alhasil, nilai itu mesti senantiasa dibreak-down supaya jadi konkret. Nah, kiranya film Lima dimaksudkan ke situ, pertama-tama supaya orang Indonesia bisa melihat realitas konkret hidup berbangsa di tanah Indonesia ini. Dari situ orang bisa berefleksi bahwa banyak kenyataan hidup yang tak sejalan dengan thin morality Pancasila.

Itu artinya, Pancasila cuma jadi slogan alias warganya tak punya niat baik untuk membangun thick morality yang sinkron dengan Pancasila. Bukan promosi film Lima, tapi dianggap begitu juga gapapa. Pokoknya, kalau mau lihat seperti apa thick morality, refleksikan saja realitas hidup yang dipotret film tersebut.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu membangun rumah hati yang mengakomodasi hidup bersama tanpa penindasan terselubung. Amin.


JUMAT BIASA VIII B/2
Hari Kelahiran Pancasila
1 Juni 2018

1Ptr 4,7-13
Mrk 11,11-26

Jumat Biasa VIII C/2 2016: Broken Spirit
Jumat Biasa VIII B/1 2015: Gereja Mandul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s