Lèlèh Luwèh

Kemarin saya dapat kiriman dari seorang temin, sebuah peta agak buta, tapi warna-warni. Ini petanya saya bagikan di sini.

Andaikanlah peta itu berlaku saat ini, itu artinya sejak berdirinya NKRI, benih radikalisme juga ikut tumbuh subur. Secara sepintas terlihat ada lebih dari separuh gagasan intoleran tersebar di kalangan pelajar. Lha, kalau digabung dengan guru atau dosennya dan mahasiswa, tentu angkanya bisa jadi 80%.

Kenapa bisa gitu ya? Banyak jawabannya, tetapi kalau mempertimbangkan teks bacaan hari ini, ada satu sikap mental yang barangkali jadi latar belakang mengapa tendensi radikalisme itu tumbuh subur: sikap indifference yang dipegang orang-orang oportunis bercirikan manusia tribal, bahasa kerennya “lèlèh luwèh cuèk bèbèk karena toh gak merugikan gw“. Yang begini ini baru bisa mikir kalau sudah terlambat, dan kita tahu, kalau sudah terlambat mikir namanya penyesalan.

Sebetulnya indifference sendiri tidak selalu berarti jelek. Bukankah Sang Buddha mengajarkan suatu detachment supaya orang tak terlekat pada barang fana sehingga tak jadi bulan-bulanan penderitaan? Bukankah Ignasius Loyola dalam AMDG-nya melatih orang untuk lepas bebas terhadap sarana demi tujuan? Itu kan yang tak lain dimaksudkan sebagai indifferenceTul tul tul. Dua guru yang jalan hidupnya seakan bertolak belakang itu mengajarkan hal yang sama: detachment

Akan tetapi, marilah misalnya kita lihat apa yang dipahami saudara-saudari Muslim tentang Sūrat Āli ‘Imran (Quran 3:193). Bunyinya, seturut terjemahan yang saya kutip dari situs indoquran pada hari ini: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah kami bagi dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

Tafsiran terhadap ayat itu, yang saya ambil dari penulis Muslim berkaliber internasional (dengan segala kontroversinya), mengingatkan saya pada ilustrasi Blondin untuk memahami apa yang disebut iman. Dia menulis begini: The verse 3:193 reveals this virtue of the believer. Immediate response, action and reaction are important attributes of the true believer. Qur’anic moral values are achieved through vivacity, enthusiasm and excitement. A lively, active state of mind can act as a role model for Muslims. Competing to perform good deeds is only possible by freeing oneself from apathy and indifference.

Kelihatan di situ bahwa indifference diberi nuansa negatif. Maka terjemahannya jadi lèlèh luwèh. Supaya tidak sampai diterjemahkan begitu, indifference atau sikap lepas bebas mesti disambung dengan sikap mental seperti disodorkan Ignasius dari Loyola: semangat magis. Tak ada orang yang bersemangat magis jika ia tidak mengambil keputusan, menceburkan dirinya dalam misteri kehidupan, mesti memilih. 

Itulah pribadi yang disindir oleh Yesus dalam bacaan hari ini: mereka yang tak mau terlibat, tak mau ambil risiko, tak mau memilih, tak mau berpihak, tak mau tegas menyatakan sikap. Maka, kalau intoleransi itu merebak, tak lain penyebabnya adalah kita sendiri yang toleran terhadap intoleransi. Kenapa toleran? Karena kita lèleh luwèh atas mereka yang militan terhadap sikap-sikap eksklusif, sikap yang absen dari para founding fathers NKRI ini.

Tuhan, mohon rahmat semangat magis-Mu. Amin.


SABTU BIASA VIII B/2
2 Juni 2018

Yud 17.20b-25
Mrk 11,27-33

Sabtu Biasa VIII C/2 2016: Broken Heart
Sabtu Biasa VIII B/1 2015: Ijazah Palsu, Mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s