Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati biasanya ditangkap sebagai contoh kemurahhatian, kebaikan yang lekat dengan penilaian moral. Pada kenyataannya, perumpamaan itu memang menyajikan sosok orang Samaria yang mengabaikan status, jabatan, pekerjaan, untuk membantu orang yang sekarat antara hidup dan mati.
Akan tetapi, mereduksi ajaran agama pada moralitas itu kok tampaknya tidak mencerahkan; malah mungkin membingungkan. Coba lihat, apa salah imam dan orang Lewi yang bergegas melewati TKP karena mereka punya urusan penting menyangkut banyak orang? Saya juga tidak tahu di mana salahnya karena perumpamaan itu tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan siapa yang salah, siapa yang benar, tetapi untuk menjawab pertanyaan siapakah yang disebut ‘sesama’.
Sayangnya, Yesus tidak memakai perumpamaan itu untuk benar-benar menjawab pertanyaan ahli agama yang datang kepadanya. Secara implisit, ia memodifikasi pertanyaan ahli agama itu menjadi “Bagaimana manusia menjadi sesama?” Kalau dibuat lebih teologis, pertanyaannya jadi semacam “Dalam karakter bagaimanakah Allah menjadi sesama?” Tak perlu Anda buru-buru menjawab “Dengan jadi kaum lemah yang sekarat karena negara abai terhadap tanggung jawabnya.”
Mari lihat apa yang dilakukan para pecinta agama dalam perumpamaan itu. Mereka, menyeberang pun tidak. Hanya melihat dari kejauhan, sebagaimana mungkin mereka gemar melihat banyak orang beribadat dari mimbar mereka. Sebaliknya, orang Samaria, orang biasa tetapi yang dalam perspektif orang Yahudi begitu tercela, kafir, tak punya agama yang percaya kepada Tuhan, karena tergerak oleh belas kasihan, menghampiri orang yang sekarat itu dan kemudian membawanya ke πανδοχεῖον (Yunani: pandokheion).
Baiklah kata itu diterjemahkan sebagai tempat penginapan atau kos-kosan, tetapi pantas diperhatikan bahwa kata pandokheion itu merujuk pada tempat siapa saja disambut, diterima, tanpa pembedaan apakah mereka menganut agama ini itu atau aliran anu atau pendukung kelompok anu.
Menariknya, di situs antara Yerusalem dan Yeriko, latar perumpamaan yang disodorkan Yesus itu, di rumah jaga untuk melindungi para peziarah, ada prasasti bertuliskan kurang lebih begini: Jika bahkan para imam dan orang-orang beragama lewat saja terhadap kesusahan Anda, ketahuilah bahwa Kristus adalah orang Samaria yang baik hati, yang akan selalu berbelas kasihan kepada Anda dan pada saat kematian, Ia akan mengantar Anda ke tempat istirahat kekal.
Pada saat orang-orang beragama meletakkan ritual di atas penderitaan manusia akibat ketidakadilan sosial, sosok yang dalam kekristenan disebut Kristus itu tetap mengundang siapa saja untuk menyeberang ke tempat publik yang siapa saja diterima tanpa diskriminasi untuk mengalami kasih Allah.
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk membongkar sekat bikinan kami sendiri yang membuat orang sekarat jasmani dan rohaninya.
MINGGU BIASA XV C
13 Juli 2025
Ul 30,10-14
Kol 1,15-20
Luk 10,25-37
Posting 2022: Tatapan Matamu
Posting 2019: Do Something, Not Everything
Posting 2016: Mending Kafir Tapi Baik? Hmmm…
