Mending Kafir tapi Baik? Hmmm….

Tagar perumpamaan dalam bacaan hari ini kiranya bisa dituliskan #OrangSamariayangbaikhati. Dalam bahasa Inggris ada atribut the good Samaritan untuk orang yang murah hati membantu orang lain. Tentu saja teks Kitab Suci tidak menyebut ‘orang Samaria yang baik hati’. Teks itu hanya menyebutkan ‘seorang Samaria’. Dari mana atribut ‘baik’ itu ya? Dari kecenderungan moralistik kita untuk menilai baik buruk seseorang. Loh, apa memang bukannya kita itu mesti menimbang dan memutuskan juga secara moral, Rom? Iya, betul, tapi itu bukan segala-galanya.

Yesus (blog ini juga) tidak sedang memberi nasihat moral. Saya kira Yesus tidak sedang menghakimi bahwa orang Samaria lebih baik daripada imam dan orang Lewi karena mereka tidak menolong orang yang jadi korban perampokan. Baik orang Lewi maupun imam tentu punya dilema moralnya sendiri-sendiri karena patokan yang mereka miliki. Sebaliknya, orang Samaria tak punya dilema moral yang berat dalam arti tak dibebani oleh aturan-aturan seperti yang mengikat hidup orang Lewi dan imam itu. Ia lebih bebas menuruti gerakan hatinya untuk membantu orang yang celaka.

Persis itulah yang disampaikan Yesus untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat yang mencobainya. Ahli Taurat itu seakan menguji pengetahuan Yesus mengenai inti hukum Taurat dan kemudian menambahinya dengan pertanyaan tentang siapa itu yang disebut sesama. Mohon teliti, Yesus tidak mengatakan bahwa sesama itu adalah orang Samaria. Ia menanting ahli Taurat itu untuk menjawab pertanyaannya sendiri, tetapi dengan merumuskan pertanyaan yang agak berbeda: siapakah dari ketiga orang itu yang menjadi sesama dari orang yang dibegal?

Ahli Taurat itu menjawab tepat: dia yang telah menunjukkan belas kasihan kepada yang menderita. Apakah Yesus hendak meminta ahli Taurat itu untuk mencontoh orang Samaria itu? Saya rasa tidak. Itu tokoh fiktif, dan, sekali lagi, Yesus bukan guru moral semata. Perspektifnya lebih luas: kalau hendak menjadi sesama bagi orang lain, ikutilah gerak bela rasa dalam hatimu karena di situlah Sabda Allah bersemayam. Itu dikatakan juga dalam bacaan pertama: firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.

Sayangnya, orang Samaria saat itu memang dikategorikan sebagai orang kafir dan bisa saja orang sekarang keliru mengambil pesan perumpamaan ini: tuh kan, lebih baik jadi kafir tapi berbuat baik!

Baik imam maupun orang Lewi juga bisa saja menunjukkan belas kasih, tetapi mereka tidak sampai ke sana karena perhatiannya ada pada dilema moral, bukan pada gerak batin compassion dari Allah sendiri. Padahal, pertanyaan ahli Taurat jelas adalah soal memperoleh kekekalan, keselamatan hidup. Itu tak terletak pada aneka macam kesuksesan fisik, tetapi pada integritas hidup manusia yang selaras dengan Sabda Allah yang tertera dalam hati orang. Dalam keselarasan hidup dengan Sabda Allah itulah orang selamat, entah apapun labelnya: agama ini, kepercayaan inu, kafirwan kafirwati, primitif, Barat-Timur. Jadi, ini bukan soal kafir lebih baik, melainkan soal melakukan kalibrasi diri dengan Allah yang maharahim lagi penyayang.

Tuhan, semoga kami semakin memiliki integritas hidup yang sejalan dengan Sabda-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XV C/2
10 Juli 2016

Ul 30,10-14
Kol 1,15-20

Luk 10,25-37

Posting Minggu Biasa XV B/1 Tahun 2015: Beriman kok Rempong bin Lebay
Posting Minggu Biasa XV A/2 Tahun 2014: Man behind the Scene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s