Panggilan Gentho

Kadang bisa dirasakan Tuhan itu terlalu menuntut (sebetulnya sih manusianya sendiri saja yang terlalu idealis dengan tuntutannya) dan memberikan hidup terasa tak bisa ditanggung lagi. Tak mengherankan, pada momen-momen seperti itu, menyerahkan hidup lantaran frustrasi jadi lebih mudah daripada memperjuangkan hidup sesama. Orang bisa sedemikian terokupasi oleh bidadari negeri antah berantah persis karena tak tahu mesti bagaimana lagi dengan hidupnya di negeri nyata ini. Orang bisa kehilangan kepercayaan kepada Cinta karena tak mengerti lagi bagaimana menggumuli gerak pemberian diri seperti dikatakan juga oleh seorang guru dari Tibet: Love doesn’t grab anyone or anything. Love gives and gives.

Sudah sejak mendengar lagu Kasih Ibu ciptaan Pak SM Mochtar, kita menangkap analogi cinta sebagai surya yang menyinari dunia tanpa mengharapkan kembalinya: cinta itu hanya memberi, juga kalau (atau malah justru jika) memberi dari kekurangan. Tapi gimana ya, orang bisa merasa capek, lelah, berat memberikan diri karena merasa seolah-olah dirinyalah yang senantiasa memberi dan orang lain tak pernah memberinya sesuatu. Orang bisa begitu lelah secara fisik karena aneka macam kerepotan yang ditanggungnya dan tak ditemukannya juga reward dari kerepotan itu. Kenapa bisa gitu ya? Saya juga gak tau, mungkin karena gak nemu kairos, mungkin karena pola pikirnya masih linear, mungkin karena berpikirnya ala subjek-objek, mungkin karena mikirnya cuma dengan logika. Entahlah. Mungkin juga karena gak punya perlengkapan cukup selain nasihat-nasihat moral yang datangnya dari luar (padahal kebenaran datang dari dalam).

Rahib Benediktus yang diperingati Gereja Katolik hari ini memperkenalkan ‘senjata’ yang jauh berbeda dari alutsista alias alat utama sistem pertahanan NKRI: Penguasaan diri, kelembutan hati, kemurnian diri, keteguhan karakter, kesabaran dan keutamaan-keutamaan lain merupakan disposisi batin yang membantu proses ‘perang rohani’. Dengan mengasah ‘kelengkapan senjata’ itu, bahkan terhadap situasi yang tampaknya tak bisa ditolerir, orang akan tetap tak terkalahkan (lha wong kematian saja malah dianggap keuntungan). Setiap perubahan, setragis apapun, menuntun orang beriman pada kebaikan.

Tentu orang bisa mengatakan “Saya kan bukan Santo Benediktus” tetapi apa ia mau mengelak dari kepercayaannya sendiri terhadap Roh Kudus yang bisa bekerja lewat seorang santo (yang toh disebut santonya juga setelah purna hidupnya) atau juga lewat gêntho? Persoalannya bukan bahwa dia santo dan kita gêntho, melainkan bahwa sebagai santo, dia menyadari diri sebagai gêntho dan sebaliknya kita sebagai gêntho tidak menyadarinya. Di mulut saja kita berkoar-koar sebagai gêntho, tetapi kita tak sungguh-sungguh jadi gêntho. Memang tak banyak gêntho yang konsisten dengan panggilannya sebagai gêntho, yaitu bertobat. Haaaahahahah….

Tuhan, mohon pencerahan budi dan hati untuk mengenal diri kami dan mengerti panggilan hidup kami untuk mencinta. Amin.


SENIN BIASA XV
Peringatan Wajib St. Benediktus Abas
11 Juli 2016

Yes 1,11-17
Mat 10,34-11,1

Posting Senin Biasa XV B/1 Tahun 2015: Perbesar Tempurungnya!
Posting Senin Biasa XV Tahun A/2: Agama Konyol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s