Susah Melihat Rahmat

Kecenderungan dasariah kesadaran seseorang mengacu pada eksistensi dirinya sendiri. Ini wajar saja karena kesadaran diri itu melekat pada setiap orang. Anda berenang di laut, bergumul dengan arus air, dan yang Anda sadari tentu saja diri Anda sendiri sebagai pusatnya: bagaimana aku bisa melawan arus, bagaimana aku bisa mengikuti ombak, bagaimana aku bisa mengapung sambil membaca buku, dan sebagainya. ‘Aku’ lebih terlihat daripada laut (yang tentu saja lebih besar).

Begitu juga halnya ketika orang mengalami keberuntungan, ketika orang dilingkupi cinta, kedamaian, kegembiraan. Orang sadar diri: aku beruntung, aku senang, aku berbunga-bunga, dan sebagainya. Orang tidak otomatis melihat keadaan-keadaan itu sebagai gift, sebagai rahmat, tetapi pokoknya ia ada dalam situasi menyenangkan. Trus kenapa? Ada masalah?

Kecenderungan dasariah macam itu tentu tidak perlu dinilai negatif. Baru jadi negatif ketika orang berhenti di situ: aku penguasa laut (lupa bahwa tempatnya berenang bisa nongol ular laut atau hiu yang bisa mencabik-cabiknya), cuma aku yang beruntung (padahal orang lain mungkin lebih beruntung), akulah kebenaran (emang lu kira titisan orang gila dari Nazaret?), akulah orang cinta damai dan ketenangan, cukup sudah bagiku. Atribut-atribut ini membangun façade yang membuat orang merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Sikap ini menghambatnya untuk melakukan transformasi wong sudah merasa mapan. Inilah yang dikecam Yesus: warga Khorazim dan Betsaida, juga Kapernaum, yang jadi pusat perekonomian di wilayah itu.

Apa salahnya sebuah kota jadi pusat perdagangan, jadi modern, bersih, rapi, indah, nyaman, dan sejenisnya? Tentu gak salah, tetapi ya seperti tadi orang berenang itu, ia tak bisa semata menganggap dirinya sendirilah yang berenang. Lah, emang saya berenang sendirian kok, Rom. Hahaha… yakin gada bakteri di kolam renang? Yakin gada virusnya? Yakin gada cethulnya? Kesadaran diri-yang-diperluas ini bisa mengundang orang untuk mengeliminasi atau menyeleksi lingkungan hidupnya dengan kategori-kategori ekonomi, sosial, politik, sedemikian rupa sehingga peradaban manusia yang luhur malah ambrol.

Mukjizat yang dibuat Yesus rupanya bukannya membuat orang-orang Khorazim, Betsaida dan Kapernaum itu bertobat, yaitu membangun kesadaran diri-yang-diperluas (alias memperbesar tempurung hidupnya), malah membuat mereka semakin arogan dengan capaian fisik mereka. Façade mereka penuh dengan status sukses, tetapi kosong akan keadilan, padahal, keadilan inilah yang bisa jadi indikator bahwa Allah dinyatakan. Repotnya, keadilan Allah tidak dihitung melulu dengan kategori-kategori manusiawi (orang harus sehat, kaya, sukses) sehingga orang-orang Khorazim, Betsaida dan Kapernaum pun luput beranjak dari kenyamanan dan kemapanan hidup. Maklum, keberhasilan dipandang semata sebagai achievement daripada rahmat dan karenanya mesti digenggam, dipertahankan, atau ditingkatkan selalu. Orang-orang Khorazim, Betsaida dan Kapernaum itu adalah kita.

Tuhan, semoga kami dapat memperluas kesadaran-diri kami selaras dengan keadilan-Mu. Amin.


SELASA BIASA XV
12 Juli 2016

Yes 7,1-9
Mat 11,20-24

Posting Selasa Biasa XV B/1 Tahun 2015: Untuk Apa Agama?
Posting Selasa Biasa XV Tahun 2014: Kolektivitas Non-Partai