Do Something, Not Everything

Ada sindrom yang namanya diambil dari tokoh dalam teks bacaan hari ini: The good Samaritan syndrome. Itu untuk yang cowok (loh sindrom ada laki perempuan juga toh?). Untuk yang cewek namanya Florence Nightingale syndrome. Saya tak tahu apakah memang kedua sindrom itu sama maksudnya, tetapi kalau sindrom gutsamaritan itu kira-kira seperti orang yang gak bisa diam lihat orang lain susah. Mestinya baik, bukan?

Iya mestinya, tetapi namanya juga sindrom, tentu ada problemnya. Untuk lihat di mana problemnya, mari lihat ceritanya saja, yang Anda semua tentu sudah tahu (di bawah juga saya sediakan tautan ceritanya). Itu lho ada orang Yahudi yang dibegal dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho dan kondisinya kritis, njuk orang Yahudi lainnya yang lewat situ tak ada yang menolong, juga meskipun yang lewat itu imam. Akhirnya yang menolong malah orang Samaria (yang dalam arti tertentu adalah musuh orang Yahudi), yang membawa korban begal itu ke rumah perawatan terdekat. Tak hanya itu, membayari juga. Tak berhenti di situ, nanti kalau memang biayanya kurang, akan ditutupinya kekurangan biaya itu saat dia kembali lagi ke rumah perawatan itu.

Di mana problemnya? Sepertinya yang dibuat orang Samaria itu ya baik-baik saja. Betul, tetapi kalau jadi sindrom, lain soalnya. Gimana sih Rom, mosok kebaikan bisa jadi sindrom alias penyakit? Mosok gak bisa diam lihat kesusahan orang malah negatif?
Tentu tidak semua ‘gak-bisa-diam-lihat-kesusahan-orang-lain’ itu negatif. Maka lihat lagi dong ceritanya tadi. Si gutsamaritan itu memang sepertinya gak-bisa-diam-lihat-kesusahan-orang-lain, tetapi pada kenyataannya dia juga bisa-diam-lihat-kesusahan-orang-lain. Kapan? Yaitu ketika dia meninggalkan orang susah itu dalam perawatan orang lain sementara dia menjalankan bisnisnya sendiri sebelum kelak melihat kembali bagaimana perawatannya berjalan.

Kalau kebaikan itu jadi kompulsif alias wajib bin ‘harus’, kebaikan itu terdegradasi. Lho ya apa salahnya toh Rom berbuat baik karena hukum aturannya berbunyi begitu? Bukan salah, saya cuma bilang itu terdegradasi: jadi tindakan mekanis, otomatis, tanpa kebebasan. Memangnya Anda ini robot kebaikan atau gimana?

Kalau ini wacana soal moralitas, saya bisa langsung lompat pada resep kebaikan yang tak terdegradasi itu: mempertimbangkan hukum, azas manfaat, dan situasinya; tentu saja tanpa jatuh ke dalam salah satu elemen itu karena kalau iya, njuk bisa jadi legalisme tadi, atau oportunis-utilitarianis-hedonis, atau relativis-situasionalis #halahsiapasuruhgakbelajarfilsafat.

Karena ini bukan blog filsafat moral, mari lihat lagi gutsamaritan itu dalam konteksnya. Cerita gutsamaritan dipakai untuk menjawab pertanyaan siapa yang disebut sesama. Menariknya, pertanyaan itu diubah oleh Guru dari Nazareth,”Siapa dari tiga orang itu yang jadi sesama?” Jawabnya: dia yang menunjukkan belas kasih, sebagaimana Allah berbelas kasih.

Kebahagiaan kekal dinikmati orang ketika dia mencinta, karena konon itulah DNA hati makhluk beriman. Mohon tak salah paham, gutsamaritan ini memberi contoh bahwa mencinta itu memang do something, tetapi bukan do everything.
Terlalu banyak orang ‘dibegal di tengah jalan’ dan Anda tak mungkin do everything, tetapi masih mungkin do something. Lha perkara somethingnya itu apa, mesti dipertimbangkan tiga hal tadi, yang landasannya DNA hati umat beriman itu: compassion.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk menemukan peran yang tepat untuk menunjukkan belas kasih-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XV C/1
14 Juli 2019

Ul 30,10-14
Kol 1,15-20

Luk 10,25-37

Posting 2016: Mending Kafir Tapi Baik? Hmmm…

8 replies

  1. Holaaa Fr. Andre, Happy Sunday. Entah kenapa ya aku kok agak gagap baca renungan nih hari, paradoks nya aku gak nangkap. Itu di alinea 4, apa sih maksudnya dg statement “kebaikan yang tergradasi” gara2 dia meninggalkan dulu org Samaria tsb to mend his business first, kan ntar dia balik lagi buat jenguk to make sure proper treatment & outstanding fee toh? Berkemanusiaan banget malah harusnya itu hehe. Duh apalagi alinea 5 nya hiik, textbook banget itu🤤 Tp pasti tersangkut paut dg istilah yg Mo Andre tulis: tergradasi itu. Terangin mau gak Mo terkait tema “do something” itu. Closingnya sih jelas, got it well. Thanks Fr. 🙏

    Like

    • Loh kuncinya kan di alinea pertama Bu’: kalau kebaikan jadi sindrom, ya namanya tetap sindrom, bukan kebaikan lagi. Kalau orang kompulsif, berbuat baik bukan karena dorongan compassion, melainkan karena secara psikis ya merasa harus melakukan kebaikan itu sekomplet2nya, tak ada ruang kebebasan lagi. Semoga sedikit membantu. Kalo tidak, pokoknya mana yang nyanthol aja Bu’, hehe…

      Like

  2. Oolalaa haha ternyata itu toh yg dimaksud tergradasikan itu: karena bukan dilandasi oleh rasa compassion yg murni tp krn dorongan kompulsif mereka huuh. Why did I think too complicatedly? Wonder most your readers really understand totally when pressing their thumbs for your writings🤤 Or maybe they just follow your mantra: mana yg nyantol 🤣 Ok deh thks for clarifying ya Fr. A🙏

    Like

    • Hi Rm Andre, I don’t really get it why u re-forward my response below. Maybe u want to re-emphasize your mantra in responding to my frequent eager curiosities. But sadly, it won’t help readers of your writing like me (and maybe many more) to develop and expand our understandings if we are expected to swallow and take whatever written as it. It won’t be intellectually challenging anymore in digesting your writings😓. Wonder why u write and publish at the first place if u’re actually not too keen in the hassle of replying to queries. Mungkin saya nya yg ke kepoan kali, kebanyakan nanya. Well, could not help it but it means I appreciate your thoughts, else I would just read and let it vaporing without attempt to contemplate the message deeper (like I do to many other daily renungan received).

      Ya udah gpp sih, kalau malas jawab. Aku ora opo2, only felt being ignored or taken for granted which at worst slowly kills my avid interest.

      Peace, Mariati

      Sent from Mariati’s iPhone

      >

      Like

      • Halo Bu’, maaf kalau ini terforward ya. Soalnya di dashboard saya ada satu notifikasi yang rupanya belum saya respon, dan akhirnya saya klik approve tanpa komentar apa-apa. Maaf kalau terkesan malas menjawab. FYI, untuk ketikan blog ini saya hanya bisa mengalokasikan waktu dua jam per hari (termasuk persiapan teks dan mendoakan dan merefleksikannya); belasan jam lainnya memang saya pakai utk membaca dan menulis paper yang banyak menuntut konsentrasi (hidup saya banyak di kamar dan perpustakaan). Kalau berkenaan dengan tulisan di blog ini, karena sifatnya sebagai points to ponder, jadi akhirnya itu bergantung bagaimana pembaca merenungkannya (kebanyakan tulisan saya bukan renungan) dan menggumulinya. Bisa jadi di luar kapasitas saya juga untuk menanggapinya dan saya cuma bisa mendoakan supaya menemukan hidayah, hehe… Salam.

        Like

    • Hmm habis nulis tadi, sy jadi merasa gak enak hati banget dg Romo deh. I’m so sorry don’t mean to be hurtful but what I wrote is what I felt, gak ada niat apa2 apalagi mengkritisi. Siapa lagi sy. Please keep writing & be your own self as you got that wonderful talent & knowledge. I should be the one to shut down & being more contained less bawel🤭🤕🤤

      Peace ya Mo✌️🤙 adu kelingking (baikan).

      Sent from Mariati’s iPhone

      >

      Like

  3. Makasih Mo utk klarifikasinya 🙏 Sekarang saatnya sy harus diam dan memohon hidayah itu ya 😊 Semoga Romo jg dapat yg terbaik buat selesaikan tugas2 Romo dg tenang🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s