Damai Gimana

Jangan kamu menyangka bahwa agama datang untuk membawa damai di atas bumi. Agama datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang [atau perang]!
Siapa kiranya yang langsung setuju atau menentang kalimat itu? Entah setuju, entah menolak, tentu ada framing atau rasionalitasnya masing-masing, termasuk yang abstain pun mesti punya pertimbangannya sendiri. Saya termasuk yang abstain karena kata-kata kunci di situ sangat ambigu bahkan mungkin ambivalen: agama, damai, pedang [perang]. Pun jika agama diganti Kebenaran, Cinta, Keadilan, Tuhan, Allah, Yahwe, dan seterusnya.

Akan tetapi, refleksi saya hari ini tidak nyangkut pada kata pengganti untuk agama. Saya masih kecanthol sama kata damai, yang mungkin bisa klop dengan kata toleransi, yang saya sendiri tak begitu antusias (Tole lan si Plet tautannya). Kalau Anda tak menguasai bahasa Yunani seperti saya, dari internet masih bisa diperoleh arti kata εἰρήνην (eirene: damai) sebagai peace, peace of mind; invocation of peace a common Jewish farewell, in the Hebraistic sense of the health (welfare) of an individual. Lalu, bisa diakses juga keterangan: eirḗnē (from eirō, “to join, tie together into a whole“) – properly, wholeness, i.e. when all essential parts are joined together; peace (God’s gift of wholeness).

Kalau begitu, agama tadi jebulnya malah datang bukan untuk membawa wholeness (yang sangat dekat dengan holiness ya?), melainkan pedang, yang justru bisa mencabik-cabik peace of mind tadi. Jangan-jangan…. Ini jangan-jangan loh ya: kalau orang sudah mencapai status peace of mind, dia malah tersesat. Atau, kalau orang beragama untuk mencari damai, bisa jadi dia malah salah alamat. Kalau mau tenang dan damai ya tinggal ditenangkan saja pikirannya tadi, entah lewat meditasi atau bertapa, obat, bius, atau entah apa lagi.

Damai yang ditawarkan agama rupanya tak membuat mind berhenti tenang, tetapi terus menerus  Maka, kalau agama bikin orang jadi adem ayem tenang-tenang mendayung, orang semestinya waspada jangan-jangan cara beragamanya keliru.
Lah, trus Romo meditasi itu untuk apa kalau bukan untuk cari kedamaian nan tenang?
Ya buat berdoa dong, piyé sih?
Lha iya, buat apa berdoa kalau bukan untuk cari suasana tenang dan damai?
Waaaa… mungkin dunia kita memang berbeda ya. Saya berdoa bukan untuk mencari suasana tenang dan damai. Sebaliknya, pada umumnya saya mencari suasana tenang dan damai supaya bisa berdoa. Pernah saya ulas dalam posting Ngapain sih Berdoa Segala?

Problemnya, jika memang itu problem, kalau Anda berdoa sungguh-sungguh, niscaya tingkat kedamaian Anda meningkat. Semula Anda tenang-tenang damai saja karena tak ada ancaman dari luar atau tak peduli situasi sosial, setelah doa yang sungguh-sungguh itu, Anda mungkin tergerak untuk berhadapan dengan ancaman dari luar tetapi tetap dapat mengintegrasikannya dengan Kebenaran dan mengalami peace of mind. Contoh yang bertolak belakang dengan itu saya tuliskan dalam posting Gak Ada Tuhan dalam… Itu cukup konkret untuk menunjukkan bahwa Kebenaran datang bukan untuk membawa damai, tetapi pedang.

Ya Allah, mohon rahmat pedang kebijaksanaan-Mu supaya kami semakin tajam memilah-milah kehendak-Mu bagi kami. Amin.


SENIN BIASA XV C/1
15 Juli 2019

Kel 1,8-14.22
Mat 10,34-11,1

Senin Biasa XV B/2 2018: Incumbent Menang
Senin Biasa XV A/1 2017: Meributkan Atribut
Senin Biasa XV C/2 2016: Panggilan Gentho
 
Senin Biasa XV B/1 2015: Perbesar Tempurungnya
Senin Biasa XV A/2 2014: Agama Konyol

3 replies

  1. doa dari bahasa arab “du’aa`”, artinya permintaan, permohonan. seakar dengan kata dakwah (ajakan), da’i (pengajak). saya berdoa karena saya meminta sesuatu sama gusti allah, mo. rejeki ingkang barokah. hehe.

    Like

  2. Halo Romo
    dan salamku buat mas Mbegitulah..

    Dari seorang pater jesuit dari amrika (James Martin SJ),
    pemahaman singkatku tentang agama adalah.. memang agama “bertanggung jawab”, terhadap kekerasan, intoleransi, terorisme.. hehehhe

    Tetapi dari agama pula lahir tradisi cinta, amal kasih, pengampunan, dari situ muncul lembaga karitatif dan yg lainnya..

    Ya.. wes lah Romo, aku dan mungkin para pembaca lainnya..mohon doanya agar kami dalam beragama semakin peka terhadap kehendak Tuhan dan dengan lepas bebas berusaha mewujudkannya mungkin bisa jadi sulit pahit, pinginnya menghindar.. tapi bolehlah kami selalu mohon rahmatNya..

    Amiiin..

    Like

    • Halo Mas Hpi, kenal beliau toh? Hambok langsung kontak ybs. Saya malah jadi gak ngeh mas mbegitulah ini yg mana hahaha, maaf. Tapi input2nya bikin saya ngebet mau belajar Arab hiks…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s